Hidup bukan Pilihan

Ketika kita mulai menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang menjaga kesehatan, mendapatkan nafkah dan membina keluarga yang harmonis, tapi juga tentang kebermaknaan dan pertanggungjawaban, maka sejak saat itu kita dihadapkan dengan banyak jalan.

Sepanjang sejarah, manusia disibukkan oleh masalah ini. Yang diemban para nabi maupun yang dipikirkan para filosuf, tidak lain adalah tentang jalan yang harus ditempuh guna menemukan makna kehidupan. Disadari atau tidak, sepanjang hidupnya manusia berada dalam proses pemaknaan. Mulai dari yang bercita-cita ingin menjadi model, artis ternama, dokter, pilot, insinyur, sampai bermimpi memimpin dunia. Mulai dari yang mengandalkan keunggulan fisik dan materi berupa kekuatan otot, keindahan tubuh, popularitas serta limpahan harta, sampai yang mengagungkan keunggulan intelektual dan ketinggian moral. Semua itu tidak akan dikejar kecuali demi meraih kebermaknaan.

Di tengah dorongan untuk memaknai diri, manusia menemukan banyak pilihan. Satu jalan menawarkan ketenangan dan ketentraman hidup. Yang satunya lagi, mengajak untuk meraih prestasi setinggi mungkin sebelum akhirnya harus mati. Yang lainnya menagunjurkan agar menempuh jalan pengabdian untuk kemaslahatan umat manusia. Lalu, dengan berpijak pada pengetahuan, pengalaman serta potensi diri lainnya, manusia berupaya menemukan harapannya diantara pilihan yang satu dan pilihan lainnya, sampai kemudian menyimpulkan bahwa hidupnya tidak lain adalah sebuah pilihan !.

Dalam proses pencarian makna seringkali manusia lupa bahwa mereka lahir ke dunia ini bukan atas kehendak dan pilihannya sendiri. Tidak satu manusia pun yang bisa menentukan kapan dan di negeri mana ia akan dilahirkan. Lalu bagaimana mungkin manusia bisa mengklaim dirinya sebagai makhluk yang memiliki pilihan ?. Atas kenyataan ini, sebagian manusia menyederhanakan pandangan hidupnya bahwa semuanya sudah ditentukan, tinggal menjalani, tak perlu ada pilihan maupun usaha. Sebagian lainnya mengkritisi, protes dan berputus asa. Mereka mempertanyakan hidupnya sendiri (mungkin maksudnya kepada Tuhan). Apa artinya hidup kalau pada akhirnya harus tunduk pada kematian ?. Mereka menyebut kehidupan tak lebih dari sebuah kekonyolan dan kekosongan belaka.

Sedangkan mereka yang membangun keyakinan bahwa tidaklah sesuatu diciptakan kecuali memiliki tujuan, maka apa yang ada di dunia ini tidaklah sia-sia, termasuk keberadaan manusia. Dengan potensi diri yang dimilikinya berupa kemampuan intelektual dan bisikan moral, manusia memiliki kesempatan untuk mewujudkan dirinya dalam banyak hal.  Baik yang selaras dengan misi penciptaan dirinya maupun yang bertolak belakang. Yang menjadi masalah, bagaimana mungkin manusia bisa dikatakan bahwa pilihannya sesuai atau tidak dengan misi penciptaanya, sementara ia sendiri tidak mengetahui secara pasti apa sebenarnya misi hidupnya.

Dengan menganalogikan (meskipun tidak persis sama) bahwa yang paling mengerti misi atau tujuan penciptaan sebuah barang adalah penciptanya, dalam hal ini adalah pabrik yang memproduksinya. Demikian pula halnya dengan penciptaan manusia, yang paling mengerti untuk apa manusia diciptakan di muka bumi ini adalah Yang Menciptakannya. Sehingga cukup bermodalkan ketulusan, keikhlasan, ketundukan dan kepatuhan atas petunjuk yang diberikan oleh Yang Menciptakannya, manusia bisa mengerti apa hakekat hidupnya. Bukan mencari dan memilihnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s