Yang Terputus dan Kerasukan

Layaknya bayi singa yang tak sedikit pun menyiratkan kebuasan, sejahat dan seburuk apapun perangai seseorang, dulunya juga bayi mungil yang mengundang belaian kasih sayang. Tapi manusia tetaplah manusia. Bila singa tumbuh dewasa tidak mengembangkan watak lain selain kebuasan, manusia dewasa memiliki pilihan mengembangkan wataknya.

Tidak disangsikan bahwa faktor ekonomi memiliki andil besar atas timbulnya kejahatan. Sementara, menyebutkan bahwa pembunuhan lebih banyak terjadi pada orang yang saling mengenal, dan aksi kejahatan  sangat mungkin dilakukan hanya kepada sasaran yang tidak memiliki keterkaitan emosional. Seberapapun kuatnya motif ekonomi melatarbelakangi sebuah tindak kejahatan seperti merampok, mencuri, menjambret, termasuk korupsi, tidak akan dilakukan kecuali kepada sasaran yang dikategorikan sebagai “orang lain”. Pengertian “orang lain” bukan hanya dalam konteks ikatan sosial, yaitu orang-orang diluar keluarga inti atau bukan sanak saudara. Tapi mencakup siapa saja, termasuk anak, istri, bapak atau ibunya sendiri. Sepanjang korbannya diposisikan sebagai  “yang lain”, yang tidak menimbulkan keterikatan emosi, maka kejahatan bisa terjadi. Faktor ekonomi hanya sebagai katalisator, bukan penyebab.

Dalam SQ (Spiritual Quotient), Danah Zohar sampai pada kesimpulan bahwa pada dasarnya tidak ada manusia yang terlahir sebagai penjahat. Yang ada adalah manusia yang dirasuki kejahatan. Ketika dirasuki kejahatan, manusia terputus dari ikatan kemanusiaan. Ia mungkin peka terhadap penderitaan keluarganya sendiri, tapi tidak memiliki emosi apapun kepada “orang lain’, termasuk korban kejahatannya. Dalam kejahatan manusia dikendalikan oleh naluri gelap (Freud menyebutnya Id) yang hanya berorientasi mencari kesenangan dan kepuasan. Dalam masyarakat yang mengagungkan nilai-nilai materialisme dan hedonisme, naluri gelap tumbuh subur merasuki setiap sendi kehidupan. Oleh karenanya tidaklah mengherankan, mereka yang berbuat kejahatan tidak lagi memiliki rasa bersalah apalagi rasa malu. Bahkan sebagian diantaranya merasa mulia dengan hasil kejahatannya, karena berhasil lolos dari jerat hukum. Nilai-nilai formal hanya berdasarkan ke-legal-an bukan kebenaran. Prinsip praktisnya, siapa saja boleh berbuat jahat asal tidak ketahuan atau tidak bisa dibuktikan secara hukum. Para pelaku kejahatan benar-benar terputus dan kerasukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s