Termurnikan bersama Aliran Waktu

Begitu melekatnya materialisme dalam benak manusia, sampai mereka tak mampu memahami apa yang sedang dialami kecuali harus membendakannya terlebih dahulu. Salah satunya adalah mengidentikan waktu dengan arloji.

Detik, menit, jam, arloji, kalender hanyalah sarana untuk memudahkan perhitungan bagaimana waktu bisa dipahami bersama dalam bentuk satuan-satuan tersebut, sehingga ada sepemahaman dalam berkomunikasi. Di kalangan masyarakat tertentu, untuk menunjukkan waktu kelahiran, bukan dengan cara menyebut hari, tanggal, bulan dan tahun, tapi menghubungkannya dengan peristiwa-peritiwa penting, seperti meletusnya sebuah gunung berapi atau terjadinya peperangan.

Manusia hidup dalam waktunya masing-masing. Dalam waktunya itu, manusia mendiami sebuah alam. Bukan alam dalam pengertian alam semesta, melainkan alam eksistensial. Janin dalam rahim ibunya tak akan pernah merasa terganggu dengan hiruk pikuk kehidupan sampai ia lahir. Seorang bayi tidak ada hal yang lebih penting selain kehadiran ibunya di sisinya. Yang paling menarik perhatian anak-anak remaja adalah teman sebayanya. Sedangkan bagi kalangan pebisnis tidak ada perbincangan yang lebih diminati selain peluang usaha. Demikian seterusnya, hingga akhirnya manusia berhenti dan menyerahkan hidupnya, baik dengan sepenuh hati atau dengan terpaksa, kepada kematian.

Dalam memaknai rentang waktu menuju akhir (kematian) itu, ada yang mengartikan sebagai kesia-siaan (absurd), karena ketika maut menjemput semuanya berakhir, harus ditinggalkan. Sebagian lainnya melihat hidup sebagai hal yang bermakna. Dalam kondisi apapun, baik bahagia maupun menderita, merdeka atau terjajah, termasuk ketika bertemu kematian, tetap bermakna.

Dalam aliran waktu yang tak bisa dihentikan, manusia mengalami proses pemurnian. Dari ketiadaan menjadi segumpal darah. Kemudia mendiami rahim sebelum dilahirkan sembilan bulan kemudian. Dari masa anak-anak yang selalu dimanja, tumbuh menjadi manusia dewasa yang dibebani tanggung jawab. Dari taman “surga-surga” tiruan yang dipenuhi kebanggaan dan kelegaan atau “neraka-neraka” palsu yang menghinakan dan menghimpit dada, menuju surga atau neraka yang sesungguhnya. Dari hidup yang dibatasi oleh kematian menuju hidup selamanya. Bersama aliran waktu manusia dibawa menuju (baca : kembali) kepada kemurnian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s