Keberanian, Kegegabahan dan Optimisme

Keberanian adalah usaha untuk menjelajahi wailayah tak dikenal. Tidak mempunyai jaminan tentang bagaimana segalanya akan berkahir atau ke dalam situasi tak terduga mana saya akan terbawa (Milton Mayeroff)

Dalam rasa aman ada kepastian, sehingga bisa dikenal, dipahami dan diantisipasi apa yang bakal terjadi. Lain halnya dengan memasuki sesuatu yang baru, baik yang berkaitan dengan dimensi ruang  maupun waktu.  Ketika memasuk lingkungan atau tempat yang baru, kebanyakan orang mengalami kecemasan dengan kadar sesuai kepribadiannya. Ada kalanya kecemasan segera berlalu bersamaan kemampuan seseorang menguasai diri dan linkungannya. Namun juga tidak sedikit yang harus mengalami kecemasan bekepanjangan.

Atas dasar itulah, kebanyakan manusia cenderung menghindari perubahan, karena perubahan menimbulkan rasa tidak aman. Sementara perubahan adalah hal yang pasti terjadi. Istilah klisenya “tidak ada yang abadi”. Di tengah ke-paradoks-an antara keinginan mendapatkan rasa aman dengan ketidakberdayaan menolak perubahan itu,  manusia memiliki pilihan.

Konsekuensi dari sebuah pilhan adalah menerima resiko. Dan pilihan yang ideal adalah memilih yang tanpa resiko. Tapi, kenyataannya, tak ada pilihan tanpa resiko, termasuk memilih “diam dan tidak memilih”. Pengertian “resiko” dalam kaitan ini mesti dibedakan dengan “akibat”. Bila kita berangkat dari rumah terlambat berdasarkan waktu tempuh yang diperlukan, ‘akibatnya’ pasti terlambat tiba di kantor. Bila kita berkendaraan dengan kecepatan tinggi, berarti kita meningkatkan “resiko” kemungkinan celaka (belum tentu terjadi). Dalam setiap pilihan tesimpan potensi-potensi yang tak terkalkulasi, tak terjangkau dan tak ter-antisipasi. Itulah sisi lemah. Dari sisi ini apapun bisa terjadi. Kita bisa saja melatih untuk berkendaraan dengan pelan dan hati-hati. Ketika di jalan raya, apakah cara mengendarai seperti itu menjamin kita terhindar dari kecelakaan?. Selalu ada kemungkinan pengendara lain yang teledor. Demikian juga, ketika terjepit oleh kebutuhan (ekonomi) yang harus dipenuhi, sementara di tangan tak ada lagi yang tersisa. Selalu ada kemungkinan seseorang datang menawarkan pekerjaan, atau seorang teman membayar hutang yang telah kita lupakan.

Memasuki dimensi baru, melakukan estimasi, kalkulasi maupun antisipasi akan apa yang bakal terjadi adalah hal yang semestinya. Namun menyandarkan optimisme pada kemampuan diri yang terbukti serba terbatas itu, adalah kegegabahan. Optimisme yang sesungguhnya bisa terwujud hanya ketika keberanian melangkah selain didasarkan pada prinsip rasionalitas dan kausalitas, juga disandarkan pada keyakinan akan adanya kemungkinan yang terjadi diluar jangkauan perhitungan dan pengetahuan manusia. Di sisi “kemungkinan” itulah,  Yang Maha Mengetahui dan Menggenggam kehidupan ini menuntut ketundukan kita.

Selamat Tahun Baru  1 Muharram 1433 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s