Agar tidak menjadi Manusia Lenyap.

Pada suatu malam, secara tak sengaja aku menubruk seorang lelaki, mungkin karena kegelapan yang tak begitu pekat, ia melihatku dan memakiku. Kutinju ia, kutarik kerah bajunya, dan memaksanya untuk minta maaf. Ia seorang kulit putih yang tinggi, dan ketika wajahku merapat ke wajahnya, ia memandangku dengan pandangan menghina lewat mata birunya dan mengutukku, nafasnya terasa panas di wajahku ketika ia melawan. Aku mendorong dagunya dengan kepalaku, menubruknya seperti yang pernah kulihat dilakukan oleh seorang Karibia, aku merasakan dagingnya robek dan darahnya mengucur, lalu aku berteriak, “Ayo minta maaf !, Minta maaf ! ” Tetapi ia terus memaki dan melawan, dan aku lagi-lagi menu­bruknya hingga ia jatuh atas kedua lututnya, dan terus mengeluarkan darah. Aku menendangnya berulang-ulang dengan membabi buta karena ia masih saja mengutuk dengan bibirnya yang luka parah. Oh ya, kutendang ia !, dan dengan geram kukeluarkan sebilah pisau dan siap untuk menggorok lehernya, tepat di bawah lampu jalanan yang sepi, aku memegang kerahnya dengan satu tangan, dan membuka pisau dengan gigi, tiba-tiba kusadari orang itu sebenamya tidak melihat aku; ia sedang berjalan dalam mimpi buruknya! Aku menahan pisauku, membe­lah udara sambil menjauhkannya dan membiarkan ia jatuh ke jalan.”

Cuplikan buku Invisible Man-nya Ralph Elisson tersebut mengajak kembali ke Amerika era pasca Perang Dunia II. Kriminalitas, kemiskinan dan semua keburukan ditimpahkan kepada orang-orang kulit hitam. Eksistensi orang kulit hitam tidak diakui secara layak. Orang kulit hitam dianggap sebagai manusia yang tidak ada (Invisble Man).

Setelah berlalu lebih setengah abad, perilaku rasis yang vulgar seperti yang diilustrasikan Ralph Elisson, tidak lagi bisa ditemukan. Bahkan, sepeninggal rezim Apartheid di Afrika Selatan, rasisme dianggap sebagai perilaku rendah, picik, dan memalukan.

Kini, nilai-nilai fundamental rasisme dijungkir balikkan oleh kolaborasi teknologi kosmetika dan kepentingan pasar. Sekat identitas biologis berupa warna kulit, bola mata dan rambut, lebur menjadi komoditas fashion. Rambut blonde, mata biru, tak selalu diidentikkan dengan ras kulit putih.Apakah ini pertanda lenyapnya paham rasis?.

Kalau pemahaman rasisme hanya dikaitkan dengan ciri biologis semata, mungkin ya. Setidaknya dipandang sebagai sikap yang memalukan. Tapi, bila pengertiannya diartikan sebagai pengkotakan kelas sosial, maka untuk mengatakan rasisme benar-benar telah hilang, perlu beripikir ulang.

Ideologi rasis tidak dibangun kecuali atas dasar keyakinan adanya ras yang lebih unggul dari ras lainnya. Hal serupa juga terjadi dalam proses idetifikasi kelas sosial. Jadi, perbedaan rasisme ortodoks dengan pembedaan kelas sosial hanya terletak pada parameter yang digunakan. Yang pertama membangun ideologi dominasinya berdasarkan ciri-ciri biologis, sedangkan yang kedua memeta dan menstrukturkan kedudukan manusia berdasarkan kepemilikan materi. Keduanya sama-sama menghendaki adanya perbedaan yang terstruktur antara sekelompok manusia terhadap yang lainnya.

Sekat-sekat imajiner tersebut dipertahankan bukan semata-mata sebagai batas dan pembeda, namun juga demi kepentingan pasar. Yaitu sebagai cara efektif menciptakan kebutuhan. Bukan kebutuhan primer, sekunder atau tersier, tapi kebutuhan mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari kelompok ideal. Lewat penggalangan opini publik di media massa serta media sosial, masyarakat dihasut untuk berlomba meraih identitas impian. Ketika pesan ini ter-internalisasi, sajak saat itu simbol-simbol kelas berupa benda komsumtif mewah menjadi komoditas yang dibutuhkan. Lalu bagaimana halnya dengan masyarakat yang tidak mungkin mampu menjangkaunya ?. Masalah ini akan terselesaikan dengan sendirinya dengan menyediakan hutang. Mereka yang berhasil memiliki komoditas simbol kelas tersebut (meskipun degan cara berhutang), merasa tidak lagi menjadi orang kebanyakan atau manusia tidak ada (manusia lenyap).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s