Berkorban menentang zaman

 

Naluri untuk berkorban, disadari atau tidak, terpateri dalam setiap dada manusia. Kalau tidak untuk keluarga, saudara, kelompok atau orang lain, manusia akan terdorong berkorban untuk dirinya sendiri.

Ekspresi pengorbanan bisa diwujudkan dalam bentuk pikiran, waktu, tenaga, harta maupun nyawa, yang pada intinya adalah kesediaan untuk kehilangan. Mulai sebatas memberikan perhatian, dukungan sampai keberpihakan yang menuntut pengorbanan yang lebih besar lagi. Yang melatar belakangi seseorang mau bekerja siang-malam, bukanlah semata-mata demi mencari nafkah untuk menghidupi diri dan keluarganya, tapi juga dalam rangka mendapatkan makna sebagai manusia yang berguna, setidaknya bagi diri dan keluarganya. Seorang serdadu yang rela kehilangan nyawanya di medan tempur juga bukan semata-mata karena keberanian dan profesionalisme, tapi juga demi mencari makna patriotisme dan nasionalisme. Demikian juga semangat “panggilan kemanusiaan”  yang terselip di dada para aktivis kemanusiaan juga merupakan bentuk pemaknaan lain dari pengorbanan. Yang menjadi pertanyaan, seberapa jauh pengorbanan masih memiliki relevansi di tengah merebaknya paham materialisme dan hedonisme yang serba bayar, mahal, instan, serba enak dan serba pribadi seperti yang terjadi sekarang ini ?. Sementara pengorbanan sendiri menuntut kerelaan kehilangan ?.

Kembali kepada pemikiran awal, spirit berkorban dalam rangka mendapatkan kebermaknaan hidup merupakan kebutuhan pasti sebagaimana pastinya kedatangan maut. Kalau memang demikian adanya, pertanyaan yang relevan adalah bagaimana cara yang benar menyalurkan hasrat untuk berkorban, bukan bertanya perlu tidaknya manusia berkorban. Sehingga, atas ketentuan ini, Yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui segalanya tidak membiarkan manusia mengeskpresikan naluri berkorbannya kecuali dengan memberikan bekal berupa petunjuk tentang tata cara berkorban dan kepada siapa hal itu harus diabdikan.

Terlepas adanya dinamika keyakinan dalam mengimani tata cara dan tujuan berkorban, masih ada sejumlah manusia yang mengekspresikan pengorbanan dalam bentuk berbeda. Mereka bukannya berkorban untuk membantu sesamanya, tapi justru mengorbankan sesamanya untuk kepentingannya sendiri. Dalam beragam versi dan kemasan, fenomena pengorbanan manusia oleh manusia lainnya sudah menjadi bagian dari tatanan hidup itu sendiri. Cukup dengan mengatasnamakan “konsekuensi zaman” yang tak lain adalah manifestasi dari keserakahan dan kepongahan, manusia dengan tega dan enjoynya “memangsa” sesamanya.

Jika kerelaan berkorban demi sesama, meskipun harus bertentangan dengan zaman, diartikan sebagai manifestasi hasrat manusiawi untuk mendapatkan makna hidup, lalu memangsa sesama atas nama keserakahan dan kepongahan, diartikan apa ?.

Selamat Hari Raya Iedul Adha 1432 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s