Uang berbicara paling lantang

English:
Abdullah Yusuf Ali
Self-Portrait, Spring 1887, Oil on pasteboard,...
Vincent Van Gogh

Hegemoni kekayaan atas banyak hal bukan sekedar fakta yang menuntut pengakuan. Tapi, juga tatanan yang mempermaklumkan hiper-apresiatif terhadap kekayaan. Kekayaan tidak cukup dipahami sebagai pembeberan fakta atas kemampuan mengkonsumsi benda-benda komoditas secara menyolok (Celia Lury, Budaya Konsumen,1998), tapi juga menjadi dasar pengistimewaan, termasuk hal-hal yang secara prinsipil tidak ada sangkut-pautnya dengan kekayaan. Peter L. Berger (Revolusi Kapitalis, 1990) melihat fenomena kemunculan kaum berharta sebagai hal yang terlalu vulgar, dimana kesuksesan dalam memperoleh uang, dijadikan alasan untuk menuntut diperhitungkan sama dengan keturunan ningrat, kebajikan keluarga, kehormatan pribadi dan kedekatan dengan tahta. Sehingga, status sosial telah menjadikan uang berbicara paling lantang.

Persepsi yang demikian ini sama sekali tidak bermaksud mengidentikkan kekayaan sama dengan ketercelaan. Menjadi kaya adalah hak dan impian banyak orang. Termasuk keinginan menjadi yang istimewa, paling didengar atau paling vulgar, bukanlah monopoli orang kaya saja, Jika memungkinkan mereka yang tidak kaya pun juga menginginkan hal serupa. Keistimewaan, kevulgaran dan kelantangan merupakan kebutuhan alami dari bukan sebuah eksistensi. Tanpa kemenonjolan, eksistensi sebuah prestasi tidak ada bedanya dengan yang biasa, atau yang rata-rata.

Kelebihan lain kekayaan adalah kekongkritan !. Menjadikan kekayaan berbicara terlalu fasih dan meyakinkan, Pelukis Vincent Van Gogh yang karya-karyanya disanjung, dieluh-eluhkan, dihargai jutaan dolar, semasa hidupnya selalu akrab dengan kemiskinan dan penderitaan. Bahkan, akibat beban penderitaan itu, Van Gogh mengalami goncangan jiwa yang hebat. Ia memotong telinganya sendiri. Cerita tragis lainnya terjadi pada diri Abdullah Yusuf Ali.  Seorang tokoh intelektual Pakistan yang merintis terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris, hidupnya berakhir di tengah dinginnya udara kota London tanpa kehadiran seorangpun disisinya. Yusuf Ali meninggal di emperan dalam kesendirian dan terlupakan.

Lukisan Van Gogh maupun “Holy Qur’an”-nya Yusuf Ali, termasuk bentuk-bentuk prestasi lainnya, menjadi sangat dihargai setelah yang bersangkutan tidak bisa berkarya lagi alias sudah mati. Artinya, penghargaan diberikan kepada keduanya bukan sekedar pengakuan atas prestasinya, melainkan lebih didasarkan pada kelangkaan hasil karyanya. Prestasi mereka dikongkritkan menjadi sebuah komoditas yang tidak lagi mudah diperoleh. Karyanya telah menjadi barang berharga (bukan dihargai) .

Tanpa  uang, sebuah prestasi hanya akan berujung pada pujian, simpati dan belas kasihan. Jauh dari penghargaan yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s