Mencari Makna di Jalan Pengabdian

Sekitar 12-19 tahun, remaja mulai mengenal dan mengembangkan kesadaran yang berhubungan dengan pengabdian dan kesetiaan. Pada fase ini pada umumnya remaja mulai membina persahabatan, kelompok, serta bentuk-bentuk ikatan lainnya yang menuntut pengabdian dan kesetiaan. Jika gagal memenuhi kebutuhan intuitif ini, akan menimbulkan kebingungan identitas yang bisa berlanjut hingga dewasa.

Pengabdian dan kesetiaan pada dasarnya merupakan bagian dari penyerahan diri. Perhitungan untung-rugi tidak diberi tempat. Yang ada hanya kesediaan berkorban dan menemukan keberartian. Seorang anak remaja yang mengikatkan diri pada persahabatan atau perkumpulan seusianya, rela menyisihkan waktu, tenaga dan juga uang, demi memenuhi kebutuhan akan pengabdian dan kesetian. Ketika dewasa, kebutuhan ini berkembang lebih dari sekedar sebuah ikatan dengan keluarga, sahabat, jiran tetanga, tapi mencakup pengabdian dan kesetiaan yang lebih luas. Kalau masa remaja ikatan kepada kelompok sebaya menjadi identitas dan kebanggaan diri, ketika dewasa keterikatan diri pada status sosial, partai politik, serta ideologi, menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembentukan identitas diri.

Dalam kehidupan sosial, selain didasarkan karakter individualnya seperti murah senyum atau pemarah, identitas diri juga dihubungkan dengan status sosial ekonomi, profesi, intelektualitas, keyakinan dan idealisme. Yang patut direnungkan bukan tentang gagal-tidaknya menemukan identitas diri, tapi bentuk pengabdian dan kesetiaan yang bagaimana serta kepada siapa semua itu didedikasikan. Jawaban atas pertanyaan ini sering menjadi pemicu perselisihan bahkan konflik.

Ibarat bola liar, kebutuhan mencari makna dalam bentuk pengabdian dan kesetiaan bisa bergulir kemana saja. Bukan hanya mungkin masuk ke gawang lawan, tapi juga bisa ke gawang sendiri. Pengabdian dan kesetiaan bisa diarahkan kepada tokoh idola, menjadi pecinta alam, menjadi aktivis kemanusiaan, mendukung organisasi politik. Namun sayangnya, sepanjang belum ada definisi final tentang hakekat manusia, usaha yang dilakukan filusuf dan ilmuwan untuk memastikan jawaban selalu berujung pada kekaburan.

Hanya dengan melepaskan diri dari tradisi berpikir bahwa kebenaran hanya ada pada ilmu pengetahuan, pengabdian dan kesetiaan diri akan menemukan kebermaknaan yang semestinya. Manusia akan selalu membangun kesadarannya di atas fakta bahwa kini atau nanti, meyakini atau mengingkari, terpaksa atau sukarela, apa pun bentuk dan caranya, pengabdian dan kesetiaannya akan berakhir pada ketundukan dan kepatuhan kepada apa yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Pencipta, bukan selainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s