Doa, segelas air dan timbangan rusak

by Catilla Art Workshop

Pada level yang tak begitu teramati, watak infantil juga mempengaruhi cara pandang seseorang dalam memaknai hidupnya. Seperti yang terlihat ketika manusia memaknai hidupnya hanya berdasarkan apa yang telah diraihnya, khususnya materi. Siapa saja yang tidak mampu membuktikan diri meraih kesuksesan sesuai dengan kaidah-kaidah yang lazim berlaku di masyarakat, maka tak pelak lagi akan dikategorikan sebagai kelompok manusia gagal. Demikian juga sebaliknya, melalui kesuksesannya menghimpun harta, kedudukan dan kedermawanannya, seseorang tak perlu membuktikan apa-apa kecuali mempersiapkan diri menjadi sosok panutan yang kisah suksesnya diabadikan dalam buku biografi agar menjadi inspirasi bagi mereka yang belum sukses. Cara memaknai hidup seperti ini, disadari atau tidak, telah mereduksi hakekat manusia dari makhluk bebas yang dengan potensi akalnya memiliki banyak pilihan, menjadi makhluk terkandang hanya dengan satu, dua pilihan. Tak ada keharusan bagi manusia untuk membatasi pemakmanaan hidupnya hanya berdasarkan tingkat pemenuhan kebutuhan, keinginan maupun impiannya. Termasuk membiarkan dirinya tersedot dalam pusaran falsafah budaya komsumtif bahwa “memiliki-menjadi”. Lebih senang mengatakan gelas ditangannya belum terisi penuh daripada mengatakan sudah terisi dua pertiganya. Sehingga diantara mimpi, do’a, dan undian berhadiah, mereka yang merasa telah berupaya keras namum belum bisa mewujudkan impiannya, menggugat Kemaha-pemurahan Tuhannya dengan bertanya, “Mengapa kemalangan ini selalu Engkau timpakan kepada kami ?”.

Sebagaimana pastinya bahwa tak satu manusiapun yang ingin hidup menderita, juga tak ada satu manusia pun yang tidak memilki kesempatan untuk menentukan jalannya sendiri. Di atas kesadaran utuh yang tidak terbelah, semestinya manusia tidak lagi bermimpi untuk selalu senang, tetap muda belia, dan selalu terpenuhi. Kalau pun secara statistik terbukti, harapan hidup seseorang berjalan pararel dengan kekayaan yang dimilikinya, dan pendeknya harapan hidup seseorang dipengaruhi tingkat kemiskinannya. Maka bagaimana menjelaskan makna hidup seseorang. Tentu tak seorangpun setuju, bila dikatakan umur yang panjang identik dengan keberartian dan kemuliaan, dan umur yang pendek sama dengan absurd dan kehinaan. Karena keberartian tidak memiliki korelasi dengan kesempatan untuk berbuat banyak. Demikian juga, kesia-siaan dengan keminiman kesempatan. Yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak orang menyia-nyiakan kesempatan yang dimilikinya berupa waktu, tenaga, kesehatan dan kekayaan, hanya dipergunakan untuk permainan dan kesenangan-kesenangan sesaat. Sementara mereka yang karena penyakitnya divonis dokter usianya tinggal beberapa bulan, justru mampu mengisi sisa hidupnya dengan hal-hal yang bermakna baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Lebih dari sekedar pengaruh jaman yang serba hedonistik, karakter infantil pada kadar yang tak tersentuh oleh nilai-nilai peradaban (terutama yang bersumber dari agama) seperti pertanggungjawaban kepada diri, keluarga, masyarakat dan Penciptanya, tak diragukan lagi merupakan manifestasi dari naluri pemuasan diri yang seharusnya hanya ada pada hewan. Hilang-lestarinya karakter infantil tidak dtentukan oleh tingkat pengetahuan, keuletan,  maupun prestasi materiil. Tapi lebih terkait dengan integritas dan keikhlasan diri sebagai makhluk yang tidak hanya bisa berhasil dan senang, tapi juga bisa gagal, sedih, menjadi tua, dan pada saatnya pasti mati.

Semasa hidupnya, Muhammad Iqbal pernah mengatakan bahwa bila legalitas dipisahkan dengan moralitas, setiap tatanan lebih menjadi sarana untuk menemukan kemenangan daripada kebenaran. Tatanan yang berlaku saat ini tidak dapat disebut telah mengabaikan nilai-nilai moral, karena nilai-nilai kemanusiaan seperti tidak boleh merugikan atau merampas hak orang lain, mengedepankan kepentingan umum, mengayomi yang lemah, masih menjadi bagian dari acuan perilaku sosial. Tapi untuk menakar seberapa jauh nilai-nilai tersebut diimplemetasikan dalam bentuk perilaku nyata, masyarakat tidak memiliki alat pengukur kecuali satu, timbangan rusak!. Sehingga ketika menimbang yang diperoleh bukan hanya ketidakseimbangan, ketidaksetaraan dan ketidak-adilan, tapi juga kepalsuan dan kesesatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s