Kegunaan Rasa Minder

Tidak sebagaimana sikap rendah hati yang bisa dipilih secara sadar, perasaan rendah diri berlangsung diluar kendali. Rasa ketidakberdayaan dan ketidakberhargaan diri menyergap begitu saja. Kesadaran diri seperti aliran sungai yang tidak mengalir kecuali ke tempat yang lebih rendah. Tak ada yang mampu dilihat oleh pengidap rasa minder selain melihat kekurangan yang satu menuju ke kekurangan lainnya, asyik dengan alam penyangkalan, selalu melihat diri dari sisi yang tidak dimiliki.

Para ahli, terutama para motivator, melihat perasaan minder (inferiority complex) sebagai pertanda adanya masalah yang harus “diselesaikan”.  Perasaan minder membuat seseorang tenggelam dengan penghakiman diri semena-mena. Tak ada manfaat yang diperoleh dari perasaan minder selain menyesali diri yang berujung pada penarikan diri dari pergaulan sosial. Perasaan minder mendorong seseorang untuk mendiami tempat tak berpenghuni, memampatkan diri sekecil mungkin, dan berdialog dalam sunyi. Semua itu dilakukan demi mendapatkan rasa aman dan nyaman. Selama melakukan ritual “peniadaan diri” itu, seorang yang minder merasa terbebas dari kemungkinan dinilai, disalahkan, dicela, dicemooh, dicibir, dan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam perasaan minder, tanpa disadari seseorang berada dalam kesadaran mendua yang saling bertentangan. Antara kebutuhan menjadi sempurna dan peasaan tidak layak. Antara hal ideal yang dikehendaki dan pengakuan ketdakmampuan diri. Dalam kemenduaan yang tidak disadari itu, seorang pengidap tergiring untuk mencari alternatif lain. Kesadaran untuk menemukan alternatif ini (Adler menyebutnya “Kompensasi”) merupakan akumulasi dari keinginan menciptakan suprioritas diri yang memungkinkan untuk diwujudkan. Seorang anak yang secara fisik tidak memiliki keunggulan atau tidak sempurna, akan berupaya sekuat mungkin mengkompensasikan kelemahannya dengan menunjukkan prestasi belajar. Seorang yang merasa tidak memiliki peran berarti di tempat kerja, akan berupaya mengambil peran di lingkungan rumahnya. Mereka yang  merasa tak memiliki kemampuan berargumentasi, ketika terlibat konflik, akan cenderung menyelesaikan lewat kekerasan.

Perasaan minder, dalam batas yang masih bisa bersosialisasi, tidak sepenuhnya buruk. Rasa minder yang berhasil dikompensasikan bisa menjadi sumber energi yang bermanfaat untuk menciptakan keunggulan diri. Namun, mengkompensasikan diri di tengah sergapan perasaan minder, bukan perkara sederhana. Ruang kesadaran yang lebih dahulu dipenuhi oleh perasaan inferiora, secara intuitif akan mendorong seseorang berperilaku berdasarkan  perasaannya, meminimkan peran logika. Sehingga yang sering terjadi bukan pengkompensasian produktif dari perasaan minder menuju sebuah keunggulan diri, tapi lebih menjurus kepada kemarahan, dendam dan keangkuhan terpendam yang tidak beralasan.

2 thoughts on “Kegunaan Rasa Minder”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s