PERANGKAP HARGA DIRI

Sebuah pohon yang telah mengering, akarnya masih mencengkeram kuat, sebelum akhirnya tumbang ke tanah. Ketika simbol eksistensi diri berupa kedudukan, jabatan dan harta lepas dari genggaman, harga diri menjadi pilihan satu-satunya untuk mempertahankan eksistensi diri. Kebernilaian harga diri pada dasarnya adalah setara. Kaca mata sosial-lah yang membuat harga diri terpeta menjadi peringkat tinggi-rendah. Sehingga perlombaan memperebutkan kedudukan tertinggi menjadi hal yang tak terhindarkan, termasuk praktik penghalalan segala cara.

Seberapapun tingginya seseorang menetapkan harga dirinya, tidak akan keluar dari bingkai transaksi psikososial, antara pencitraan diri dengan pengakuan sosial. Bisa saja, secara sepihak seseorang mematok harga diri semaunya. Namun hampir dapat dipastikan harapan tersebut sulit terpenuhi. Kalau pun tetap diperolehnya juga, patut dicurigai ketulusan penghargaannya. Apakah bukan sekedar basa-basi, menghindari konflik, atau sebagai cara untuk menunda dan mencari momen yang tepat untuk mencap secara terbuka sebagai pribadi narsis yang gila hormat.  Lalu, apakah dengan merendahkan diri dalam banyak hal ada jaminan mendapatkan persetujuan atau tanggapan sosial yang positif ?. Kalau yang dimaksud adalah diterima secara sosial, jawabannya adalah ya!. Tapi kalau yang dimaksud adalah mendapatkan penghormatan, maka jawabannya belum tentu!.

Sebagaimana watak individu yang tidak steril dari kemungkinan dihinggapi sifat ego sentris, iri, dengki, gemar merendahkan orang lain senang meninggikan diri sendiri, maka dalam bentuk jamak perilaku serupa juga sangat mungkin terjadi. Ketika seseorang mengembangkan perilaku low profile, respons positif dalam arti menganggapnya sebagai pribadi yang tidak suka menonjolkan diri, memiliki empati tinggi terhadap sesama, mungkin akan diperoleh. Namun, ketika low profile diartikan sebagai ekspresi kelemahan (inferioritas), atas dasar itu lingkungan sosial merasa berhak untuk memandangnya dengan sebelah mata, menganggap sebagai manusia biasa, pribadi rata-rata, atau figur yang tidak terlalu diperhitungkan.

Tak ada formulasi baku setinggi apa seseorang harus menetapkan harga dirinya. Hanya dengan mengendalikan dorongan naluri primitif berupa keserakahan terhadap harta dan kemuliaan serta ekspresi sejenis lainnya, manusia akan berada pada proporsi kesadaran dinamis antara keyakinan akan kemampuan diri serta pengakuan tulus atas kelebihan orang lain. Ada kalanya dengan rasa bangga sekedarnya, seseorang memiliki kesempatan mengulurkan tangan kepada sesamanya untuk satu urusan. Dan tanpa rasa terhina, dengan besar hati bersedia menerima bantuan untuk urusan lainnya. Meninggikan diri dalam segala hal, selain tidak mungkin dan tak ada gunanya, hanya membuat diri sibuk dengan pertanyaan konyol, siapa di bawah siapa di atas. Otak teracuni oleh kebodohan yang tak semestinya.

Ketulusan pribadi dan kejujuran sosial memiliki jalannya sendiri. Tidak ditentukan oleh kehebatan strategi pencitraan maupun kecerdikan menggalang dukungan sosial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s