PREDATOR SANTUN


Karakter Tuyul seperti sering digambarkan dalam cerita tahyul, lucu dan menggemaskan, jauh dari kesan jahat atau mengerikan (seperti serial TV Tuyul dan mBak Yul). Padahal (masih menurut cerita yang berkembang) Tuyul juga dipercaya memiliki tabiat buruk, suka dan piawai mencuri uang. Namun tabiat buruknya itu seakan tidak pernah ada, dikalahkan gambaran lucunya. Di dunia nyata, hal yang tak jauh berbeda dipraktekkan oleh seekor lintah yang memangsa hidup-hidup korbannya. Setelah puas menghisap, dengan tubuh menggembung dipenuhi darah, seekor lintah melepaskan diri dari tubuh korbannnya meninggalkan lelehan darah dan luka sayatan, namun korbannya tak pernah merasa kesakitan.

Seperti yang dilakukan Tuyul maupun lintah, dalam kehidupan sosial ekonomi juga berlangsung sebuah praktik pemangsaan serupa. Bedanya, predator maupun mangsanya sama-sama manusia. Proses pemangsaan berlangsung secara “suka rela”, tanpa paksaan maupun keluhan yang berarti. Lebih uniknya, bila seekor lintah memangsa dengan tubuh berlepotan lendir yang menjijikkan, predator jenis manusia ini justru meninggalkan kesan sebaliknya. Berpenampilan menawan, ramah dan santun, meskipun tak pernah meninggalkan watak predatorinya. Mereka tetap gemar mengendus dan  menangkap mangsa potensialnya dengan cekatan. Kelebihan lainnya, para predator santun ini memiliki kemampuan bekerja melampaui pemikiran jamannya. Jika Robert Kiyosaki mewacanakan ”agar kita jangan bekerja untuk uang, tapi biarkan uang bekerja untuk kita”, maka para predator santun tidak memerlukan keduanya, baik pekerjaan maupun uang. Mereka hanya berpikir bagaimana caranya menanamkan dan mengembangkan kesadaran agar praktik pemangsaannya bukan hanya tidak dirasakan, tapi juga membanggakan mangsanya.

Sepintas, praktik “bisnis” para predator santun ini tidak ada bedanya dengan transaksi perdagangan. Semua dilakukan dengan aturan yang jelas serta atas dasar suka sama suka. Namun bila dicermati, pedagang tidak bisa membebaskan diri dari keharusan bekerja (membeli dan menjual barang), menanggung resiko tidak menentunya pendapatan, termasuk menderita kerugian. Sedangkan melalui praktik pembungaan uang, para predator santun memperoleh jaminan keuntungan (pasti untung) dari setiap transaksinya. Sehingga tanpa perlu bekerja (kecuali mencatat dan menghitung), tanpa menanggung resiko rugi, pendapatannya selalu dapat dipastikan.

Terlepas pro-kontra atas praktik pembungaan uang, para predator santun tetap pada keyakinannya bahwa apa yang mereka peroleh bukan hanya sah, tapi juga semestinya. Mereka merasa telah berjasa ikut menggerakkan roda perekonomian, menyediakan bantuan keuangan (untuk bisnis, piknik maupun untuk membayar rumah sakit). Maka sangat wajar, atas uluran tangannya itu, mereka mendapatkan imbalan. Sedangkan dasar pemungutan bunga atas pinjaman, mereka menggunakan logika potential loss (kerugian potensial), persis seperti proses ganti rugi ayam mati tertabrak sepeda motor. Dengan asumsi ayamnya bisa beranak-pinak seandainya tidak mati tertabrak, oleh karena itu pemilik ayam berhak mendapatkan ganti rugi jauh melampaui harga pasaran seekor ayam. Meminjamkan uang tanpa bunga sama dengan kerugian, karena jika “diputar” atau diinvestasikan kemungkinan bisa menghasilkan.

Para predator santun tidak pernah merasa kenyang dengan memangsa yang nyata, yang masih berupa kemungkinan pun juga dianggap sebagai santapannya. Mereka bukan hanya selalu kelaparan, tapi selalu melaparkan diri.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s