Perilaku Remaja diantara Manifestasi Hormonal dan Rancangan Konstruksi Sosial

Erik Erikson Česky: Německý psycholog a stoupe...
Erik Erikson (Photo credit: Wikipedia)

Secara umum perilaku anak remaja tidak jauh berbeda. Dimana pun  atau dengan latar belakang budaya apapun, anak remaja selalu merepresentasikan sebuah potret kepribadian yang penuh gejolak dan keunikan. Dan karena itu pula, banyak orang tua lebih memilih menanggapinya dengan kecemasan daripada mencoba memahaminya sebagai sebuah gejala alami anak remaja.

Sikap cemas yang ditunjukkan para orang tua termasuk para pendidik tersebut pada dasarnya cukup beralasan, mengingat fakta obyektif yang terjadi pada anak usia remaja (12-23 tahun), sebagaimana dikemukakan Erikson, merupakan fase yang rentan terhadap apa yang disebut krisis identitas. Yaitu suatu perasaan subjektif dan spontan yang nampak sangat jelas pada diri seorang muda yang menemukan dirinya sebagaimana ia menemukan kebersamaannya dengan orang lain.

Krisis identitas dipicu oleh ritus peralihan yang menandai kelahiran kedua, atau sebagai periode kritis yang diperhebat ketakutan tersembunyi dan perselisihan kolektif antara alam keremajaan yang diliputi berbagai gejolak dan kebingungan orientasi dengan alam kedewasaan yang menuntut keutuhan dan keteraturan.

Selain mengalami periode kritis, di tengah gejolak internal serta kebutuhan menunjukkan eksistensinya sebagai individu yang mandiri (bukan subordinat dari kehendak orang-orang dewasa), anak remaja mengembangkan perilaku tipikal yang biasa disebut subculture. Yaitu sebuah budaya khas remaja yang merepresentasikan deklarasi kemerdekaan diri, ekspresi kelainan, tujuan asing dan penolakan atas pandangan stereotip tentang diri mereka. Subculture ini juga diartikan sebagai naluri pengorbanan diri secara sengaja yang bisa memicu timbulnya perilaku abnormal seperti gangguan belajar, gangguan komunikasi, gangguan pemusatan perhatian, kecemasan dan depresi.

Celia Lury (1996) melihat subculture bukanlah sekedar manifestasi hormonal yang tak terelakkan atau ekspresi tahap tertentu dalam siklus kehidupan biologis (sebagaimana pandangan Erikson), tapi lebih merupakan manifestasi konstruksi sosial. Remaja bersama perilaku dan semua permasalahannya. Remaja bukan makhluk asing yang keluar dari perut bumi membawa karakter dan budayanya sendiri. Mereka adalah produk dari lingkungannya. Bermasalah tidaknya perilaku anak remaja, banyak dipengaruhi oleh proses interaksi secara timbal balik antara dorongan instingtif (sebagaimana dikemukakan Erikson) dengan rancangan konstruksi sosial diri dan lingkungannya. Sehingga, problematika yang timbul pada dunia anak remaja tidak akan beranjak jauh dari perilaku yang berlangsung pada dunia orang dewasa yang melingkupinya.

Sepertinya, meskipun jaman sudah demikian maju, pepatah tua ” buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” masih bisa menunjukkan eksistensinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s