PEMBIASAN MAKNA KEMEWAHAN

Tak ubahnya hasrat seksual yang cenderung diekspresikan tanpa keterusterangan. Dibalik keinginan menjadi kaya  berlangsung proses kristalisasi kemauan diri untuk tak ber-kekurangan, tak ber-kebutuhan, dan tak tersamai, yang kesemuanya itu tidak diekspresikan kecuali melalui kemewahan dan eksklusivitas. Kemewahan merepresentasikan level kemampuannya dalam mengkonsumsi barang-barang komoditas melebihi kebutuhan. Sedangkan eksklusivitas mewakili pemuasan ego yang tidak pernah mengenal dunia sosial, kecuali untuk diri sendiri.

Keinginan bisu itu semakin terbenarkan oleh adanya kenyataan bahwa kemewahan dan eksklusivitas dalam kehidupan sosial diartikan sebagai simbol kedaulatan pribadi dalam memposisikan diri. Padahal hakekat kemewahan dan eksklusivitas  hanyalah fenomena skala perbandingan (banyak-sedikit), dan pembedaan diri (tidak sama dengan orang lain), yang tidak ada sangkut pautnya dengan hierarki kestatusan (tinggi-rendah) seseorang.

Adalah Victor frankl dan Abraham Maslow yang mengatakan bahwa kebermaknaan atau kehormatan merupakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi tanpa mempedulikan kondisi, profesi maupun status sosialnya. Bukan hanya orang kaya yang ingin menjadi terpandang, mereka yang tak berkemampuan (meskipun dengan cara modifikasi atau imitasi) juga menginginkannya. Intinya, keinginan menjadi terhormat tidak dipengaruhi oleh banyak-sedikitnya nilai ekonomis benda komoditas yang dimilikinya. Indikasi berlakunya prinsip tersebut dapat dilihat ketika pada sebagian dari mereka yang tak berkemampuan berupaya bisa mengkonsumsi komoditas mewah seperti mobil, komputer, handphone, pakaian dan komoditas mewah lainnya  (meskipun dengan cara berhutang), untuk membuktikan kestatusan diri.

Dibalik kekaguman bisu itu terungkap ekspresi tersembunyi, bahwa semua orang (termasuk mereka yang tak berkemampuan) mengagumi dan membanggakan kemewahan persis seperti yang dirasakan orang kaya. Mereka ingin menikmati kemewahan meskipun tidak kaya.  Jadi, pada dasarnya yang dikagumi oleh orang banyak bukan orang kaya dengan kehidupan mewahnya, melainkan kemewahan itu sendiri.

Terjadinya proses pembiasan makna bahwa kekayaan berhubungan dengan status sosial sebagaimana anggapan umum selama ini, disadari atau tidak, merupakan bentuk penafsiran makna kemewahan secara sepihak sebagaimana seorang pelukis yang mengisap rokok dalam-dalam karena terkagum-kagum melihat hasil lukisannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s