Makna Waktu dalam Sebungkus Mie Instan

Mie instan selain mengandung nutrisi juga dipercaya memberi waktu. Jika hiburan disebut penguasa kebebasan, makanan instan adalah penjaja waktu luang. Proses masak yang singkat menyisakan waktu ‘bebas’ yang bisa diisi dengan berbagai aktivitas, termasuk bermalas-malasan.

Bebas berarti dimensi kosong yang bisa diisi. Sementara ‘waktu’ tidak bisa kosong alias tidak bisa dibebaskan. Waktu selalu terkait dengan aliran kesadaran sehingga setiap orang bisa membuat waktunya sendiri seperti merasa terlalu cepat ketika sedang senang atau dikejar deadline, dan merasa melambat ketika sedang bosan atau tersiksa. Adapun penggalan waktu berupa menit, jam, sore, pagi, tahun, minggu hanya kesepakatan bersama, semacam peta untuk menentukan titik temu.

Waktu mengada dengan apa adanya pada masyarakat primitif. Tanpa ikatan jam, waktu tak ubahnya oksigen dalam udara yang bisa dihirup sesuka hati. Suatu akitivitas dikatakan berguna atau sia-sia, baik atau buruk, benar atau salah, termasuk cepat atau lambat, tidak ditentukan oleh panjang-pendeknya waktu, tapi tergantung konteks atau parameter yang digunakan.

Dengan demikian, ketika kita terbebas dari kesepakatan tertentu sebagaimana ‘bebasnya’ masyarakat primitif, tidak ada waktu yang bisa dimaknai dalam sebungkus mie instan selain mengetahui proses memasaknya selama 10 menit.

The Real Place to Return

Although there is a presumption that the future is not more than just support for all sorts of nonsense, deceit most sickening. However, when we improbable dialogue with the deaf and indifferent, interact with the future be the most logical choice.

False truths were given a high position only to make it easier to be removed, because the cook era knows that the quality of the omelet of civilization is not determined by the number of eggs being solved. Although proven falsehood as the winner, there is no obligation to act in such a way that it seemed fair.

No matter how beautiful, life is a gift wrapping is finally disposed of. The future is not the last alternate between bemoaning the fate or getting drunk of success, but about the real place to return, to the bosom of God. Insyaallah!

Seberapa Adil Gaji Anda ?

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan di Emory University, para peneliti menemukan fakta bahwa monyet Capuchin yang telah dilatih menukar batu dengan makanan, sebagian monyet bersedia menukarkan batu dengan anggur, namun sebagian lainnya memilih membanting batunya atau menolak setelah tahu ditukar dengan mentimun.

Jika binatang primata bisa menuntut perlakuan adil, adalah hal yang sangat semestinya bila manusia lebih membutuhkannya. Namun keadilan bukan gagasan ilmiah, sangat terbuka untuk dimaknai sesuai sudut kepentingan masing-masing. Tidak bisa dipastikan (termasuk dengan memenuhi upah minimum) pada besaran berapa gaji bisa dikatakan adil bagi penerima maupun pemberi kompensasi.

Kalau memang mustahil mendapatkan rumusan yang benar-benar adil, setidaknya bisa meminimalisir ketidakadilan dengan mengacu kepada 4 prinsip keadilan :

  1. Keadilan eksternal, dengan cara membandingkan gaji di perusahaan lain untuk profesi atau pekerjaan sejenis
  2. Keadilan internal, dengan cara mengukur seberapa adil gaji pekerjaan yang satu dibanding dengan pekerjaan yang lain dalam perusahaan yang sama
  3. Keadilan perorangan, yaitu pemberian kompensasi yang mengacu pada kinerja perorangan pada pekerjaan yang sama di dalam perusahaan
  4. Keadilan prosedural, adalah keadilan dalam proses dan prosedur yang digunakan untuk mengambil keputusan berkenaan dengan pemberian kompensasi.

Kata kuncinya terletak pada perlakuan para korporat atas keuntungan yang diperolehnya atau karyawan atas gaji yang diterimanya, yaitu mengkonsumsinya dengan cara yang baik sebagaimana makannya anak kambing Arab yang hanya sekedar mengunyah bukan menelannya dengan lahap.

Bacaan :  Muhammad Ahmad Asyur – Khotbah dan Wasiat Umar Ibnul Khaththab,  Gary Dessler –  Human Resource Management

Kebaikan dan Penghambaan Yang Mengancam

Masyarakat konsumsi tidak hanya ditandai dengan melimpahnya benda-benda konsumsi, tetapi juga oleh kenyataan bahwa semua adalah jasa. Sedangkan barang adalah bonus cuma-cuma. Iklan menunjukkan tanda-tanda kehilangan selera berbicara tentang produk berkualitas atau harga murah, tapi sebagai ibu yang siap melayani dan memberikan perlindungan sepenuh hati.

Dalam masyarakat yang terhasut dan terkondisikan oleh sistem, Ideologi kebaikan hati dan penghambaan secara sempurna berhasil menyembunyikan motif ekonomis. Kehangatan dalam bentuk sapaan mekanis dan senyuman institusional adalah kenyataan mendasar hilangnya hubungan manusiawi yang spontan dan timbal balik.

Alhasil, upaya menangkal ancaman kebaikan dan penghambaan palsu bukan hanya keputusan personal yang selalu terintimidasi logika umum, tapi juga penaklukan diri terhadap godaan konsumtif.

Bacaan : Jean P Baudrillard, Masyarakat Konsumsi

Rahasia Dibalik Ritual Serba Kelihatan

Semakin hari semakin tidak ada yang tersembunyi merupakan gambaran fenomena sosial saat ini, setidaknya terjadi di dunia maya. Mulai wajah, aktivitas yang membanggakan sampai yang tersembunyi dalam hati, semua dipertontonkan

Meskipun tidak ada jaminan apa yang tertampang benar adanya, namun godaan membuka diri di dunia maya sulit dihindari. Menjamurnya sistem online guna meminimalisir kecurangan semakin menegaskan kegunaan ritual serba kelihatan ini, karena (diharapkan) bisa memotivasi tumbuhnya perilaku jujur.

Jika pada akhirnya (mudah-mudahan) benar-benar semakin tidak ada tempat untuk menyembunyikan ketidakjujuran, maka yang layak dilakukan bukan hanya mensyukurinya, tapi juga merenungkan alasan berperilaku jujur. Karena biar bagaimana pun, jujur terpaksa dan jujur terpanggil mengikuti perintahNya, beda nilainya.

Sumber Disparitas Perilaku Manusia

Ketika seseorang menyerahkan segalanya kepada Tuhan yang ia cintai dengan cara yang begitu buruk, bukan sekedar fakta tentang adanya model keimanan ogah-ogahan, tapi juga tentang implikasi dari sebuah keyakinan, tepatnya keyakinan akan adanya kehidupan sesudah kematian.

Perilaku yang hanya berorientasi pada nilai guna rasionalistik materialistis dengan ekspresi keimanan ala kadarnya atau meniadakan sama sekali, dapat dipastikan merupakan representasi dari ketiadaan atau keraguan akan adanya kehidupan sesudah kematian. Karena konsekuensi logis dari keyakinan akan kehidupan sesudah kematian adalah lahirnya perilaku holistik yang tidak hanya berorientasi kepada kehidupan saat ini tapi juga nanti (sesudah mati). Tidak berhenti pada asas manfaat, masuk akal dan decak kagum orang banyak, tapi juga demi melaksanakan semua PerintahNya.

Adanya kesadaran umum tentang pentingnya pembentukan karakter disiplin, gigih, kompetitif, kreatif, inovatif, maka hal itu tak lebih dari upaya mempersenjatai diri untuk memenangkan persaingan. Esensi disparitas perilaku manusia bukan terletak pada tingkat keselarasannya dengan tuntutan obyektif kehidupan, tapi pada model keyakinan terhadap kehidupan ‘nanti’.

Mengapa Manusia (selalu) Mencari Kesenangan ?

Perasaan, termasuk rasa senang, merupakan aliran kesadaran yang berlangsung lebih dalam daripada pengamatan atau pembayangan. Perasaan sulit dianalisa, karena berhubungan dengan motif, yaitu situasi yang bisa diterima. Jika hal yang dipikirkan menjadi milik semua orang, maka apa yang kita rasakan ( termasuk rasa senang), sepenuhnya milik pribadi.

Selain itu, rasa senang juga berkaitan dengan  proses hedonalgis yaitu perasaan yang sulit dilukiskan yang berkaitan dengan merasa enak atau tidak enak, senang atau tidak senang, seperti perasaan tidak enak ketika mendengarkan musik riang saat sedih.

Yang pasti, motif untuk selalu mendapatkan kesenangan bukan hanya terletak pada efek kenikmatannya, tapi juga adanya fakta obyektif sebagaimana sensasi makan manisan, rasa enaknya tidak mampu bertahan, melainkan terus memudar, akhirnya sensasi rasa enaknya menghilang.

Bacaan : M.A.W. Brouwer – Psikologi Fenomenologi

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: