Jejak Rahim Ibu pada Penderita Agoraphobia

Agoraphobia atau ketakutan yang abnormal terhadap tempat-tempat terbuka merupakan bentuk penyerahan diri terhadap godaan perasaan bahaya instingtif. Penderita agoraphobia tidak akan mendatangi suatu tempat, kecuali tempat tersebut telah dikenalnya dengan baik. Layaknya anak kecil, rasa amannya terbatas pada jarak tertentu dari tempat tinggalnya.

Menurut Freud, gejala agoraphobia sangat rumit, karena ego tidak meninggalkan jejak apapun. Untuk menghilangkan rasa bahaya yang dimilikinya bisa dilakukan regresi atau membawanya mundur ke masa lalu, tepatnya ke masa kanak-kanak. Pada kasus ekstrim, bisa berupa tindakan regresi ke kondisi yang paling terlindungi, yaitu alam rahim (uterus).

Sederhananya, jejak rasa aman dalam rahim ibu ternyata terbawa terus hingga dewasa. Jejak ini terlalu eksis bagi penderita agoraphobia, sehingga toleransi terhadap perasaan bahaya relatif rendah.

Yang layak direnungkan bukan tentang rendahnya toleransi penderita agoraphobia terhadap perasaan bahaya, tapi tentang panggilan (regresi) alam rahim. Bagaimana jika regresi berlanjut ke masa sebelum alam rahim?. Dari situlah manusia berasal dan kembali. Sejak detik pertama kelahiran, manusia sedang berjalan menuju asal melewati pintu bernama kematian.

Sumber bacaan : Sigmund Freud, Dictionary of Psychoanalysis

Mengapa hari Senin ‘Mengesalkan’ ?

Menanti tibanya hari Minggu setelah enam hari kerja yang menekan, laksana minum es di tengah terik matahari. Lebih dari waktu untuk berkumpul dengan keluarga, hari Minggu juga memberikan ruang psikologis untuk bisa sepenuhnya menjadi diri sendiri, mulai dari bermalas-malasan, berbusana kedodoran, hingga menikmati menu masakan kegemaran.

Minggu malam sekitar jam sembilan atau sepuluh malam, bayangan esok hari tentang diri yang terpapar ‘racun’ suasana kerja (baik yang berasal dari himpitan beban kerja maupun perilaku orang-orang yang menjengkelkan), siap mengacaukan tidur malam kita. Kekesalan periodik ini mencapai puncaknya pada Senin pagi seiring pergerakan jarum jam di dinding yang menghalau kita agar bergegas berangkat kerja.

Ketika ditanyakan mengapa hari Senin mengesalkan?, ada penjelasan lain selain jawaban bahwa manusia maunya bersenang-senang terus. Kelenjar pineal yang ada dalam otak kita memproduksi hormon melatonin yang salah satu fungsinya, selain memperbaiki sel-sel rusak, adalah mempengaruhi suasana hati. Salah satau faktor yang mempengaruhi produksi melatonin adalah ritme tidur malam, khususnya durasi tidur.

J. Bock dan Boyette (Stay Young The Melatonin Way, 1995) menjelaskan bahwa pola tidur delapan jam sehari adalah mitos kuno yang diwariskan orang Romawi yang ingin menciptakan ketertiban dengan membagi hari (24 jam) menjadi tiga bagian, salah satunya adalah waktu tidur. Lamanya tidur yang semestinya bukan ditentukan oleh lima, delapan, atau sembilan jam, tapi menurut kebutuhan. Tidur melebihi kebutuhan sebagaimana sering dilakukan pada hari minggu, efeknya tidak jauh berbeda dengan kurang tidur. Keduanya mengacaukan produksi melatonin yang pada gilirannya mempengaruhi suasana hati. Pola tidur malam yang tidak berbeda antara hari Minggu dengan hari lainnya, mampu menjaga tubuh terasa segar, termasuk tidak merasa kesal ketika bangun di hari Senin.

Gaya Hidup Terang Gelap dan Penuaan Dini

Tubuh kita bukan mesin. Tidak sekedar menjadi ‘usang’ sebelum akhirnya dibuang. Tubuh kita memperbaiki diri secara terus menerus. Selain sel-sel otak, permukaan gigi dan sel telur wanita, akan selalu diperbaiki setiap hari. Akan tetapi, menjadi tua dan kemudian mati, bukan disebabkan adanya ‘cacat’ dalam sistem tubuh kita, melainkan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang ‘wajib’ dijalani setiap orang.

Namun meskipun tak terelakkan, sebagaimana ada sejumlah orang yang mengalami pubertas lebih awal dan ada yang lebih lambat, maka hal yang sama juga terjadi pada proses penuaan. Di laboratorium, para peneliti menggunakan tes darah untuk mengukur jumlah melatonin yang beredar dalam tubuh. Melatonin adalah hormon yang dihasilkan kelenjar pineal yang berfungsi membantu memperbaiki sel-sel dan sistem-sistem yang rusak akibat paparan racun dan tekanan hidup sehari-hari. Para ahli menyimpulkan bahwa produksi melatonin berhubungan dengan ritme gelap-terang, yaitu ada-tidaknya paparan sinar matahari (bukan cahaya lampu).

Artinya, gaya hidup yang terpola secara rutin diantara rentang batas waktu siang-malam, lebih memudahkan tubuh untuk memelihara produksi melatonin, yang pada gilirannya bisa mencegah terjadinya proses penuaan lebih awal (penuaan dini). Sementara, atas nama tuntutan gaya hidup masa kini, terutama di kota-kota besar, justru banyak orang yang menghabiskan waktunya atau melakukan aktivitasnya dengan mengabaikan ritme waktu siang-malam, terang-gelap, di dalam gedung yang 24 jam steril dari paparan sinar matahari.

Sumber : Steven J.Bock, MD & Michael Boyette – Stay Young The Melatonin Way

Ironi di Ujung Penemuan Jati Diri

Jawaban atas pertanyaan “who am I ?” menentukan seberapa tinggi kita berdiri. Dalam batas kenormalan yang bisa diterima, setiap orang tidak memilki otoritas memetakan sendiri identitasnya. Cara paling jamak dilakukan adalah membangun keyakinan umum dengan memaparkan kepemilikan simbol-simbol superioritas berupa kemewahan properti termasuk identifikasi warna kulit.

Cerita absurd tentang penemuan jati diri terjadi pada seorang anak laki-laki kulit berwarna. Ia mengkhayalkan dirinya sebagai sosok pahlawan bertopeng pemberantas kejahatan. Namun, seketika ia menghentikan khayalannya manakala menyadari tokoh idolanya tersebut adalah pria kulit berwarna. Anak laki-laki ini tengah merepresentasikan benak jaman dimana terang identik dengan bersih dan pandai, gelap identik dengan kotor dan bodoh. Ia meyakini bahwa kulit berwarna menjadi gelap setelah melalui proses pengotoran, dan  kulit putih adalah bentuk kulit berwarna yang telah dicuci dan diputihkan.

Di ujung perjuangan menemukan jati diri, dimana lingkungan bertekad menelan identitas secara permanen, terlalu banyak orang kulit berwarna mengidap regresi neurotik identitas ego seorang budak. Mereka merasa lelah dengan karikaturnya sendiri. Mereka gagal melawan godaan untuk mengidentifikasi diri sebagai individu yang tidak valid.

 Sumber : Erik H.Erikson – Childhood and Society

Eliminasi Transendental Kejahatan

Sebelum mempercayai keyakinan umum bahwa faktor ekonomi –tepatnya kemiskinan–  merupakan akar kejahatan, tidak ada salahnya bertanya dulu, apa sih kejahatan itu?. Jika artinya adalah perilaku yg bertentangan dengan nilai dan norma yg berlaku yg telah disahkan oleh hukum tertulis, maka kemiskinan tidak bisa diartikan sebatas kondisi perekonomian yang serba kekurangan, karena faktanya –seperti sering ditayangkan dalam televisi–, kejahatan juga dilakukan oleh mereka yang perekonomiannya telah berkecukupan.

Besarnya energi penggerak kejahatan dipengaruhi tingkat kekeringan ikatan emosi antara pelaku kejahatan dengan korbannya (perorangan maupun sosial). Semakin tidak mampu ikut merasakan penderitaan yang bakal atau sedang ditanggung oleh korban semakin berpotensi sebuah tindak kejahatan diekspresikan. Bukankah rasa nikmat yang diperoleh seorang psikopat atas penderitaan korbannya merupakan kepanjangan dari nihilnya kemampuan merasakan penderitaan korban (orang lain).

Lalu, apakah kejahatan semata-mata hanya bersumber dari ketidakmampuan ikut merasakan penderitaan orang lain ?. Kejahatan tidak mungkin terjadi tanpa faktor pemicu seperti keterdesakan, ketidak-adilan, kemarahan, keserakahan. Sebaliknya, apakah ada jaminan tidak terjadi tindak kejahatan jika semua orang memupuk rasa sepenanggungan-sependeritaan?. Kalaupun ‘terpaksa’ terjadi, akan tersendat, tidak meluap dan terlampiaskan sepuasnya.

Jaminan tidak adanya tindak kejahatan bisa terwujud manakala semua orang merasa selalu terlihat, karena kejahatan merupakan saudara kembar kegelapan atau ketersembunyian. Caranya bukan dengan menebar kamera cctv di setiap jengkal ruangan (kecuali kamar mandi), tapi membangun mindset dengan mewajibkan diri untuk selalu mengada keluar mengawasi diri (transendensi) sebagai wujud keyakinan bahwa Tuhan Maha Melihat, termasuk ketika ada di kamar mandi.

Referensi: KamusBahasaIndonesia.org

Cara Cerdas Menghadapi Orang Bermasalah

Orang bermasalah, khususnya di lingkungan kerja, boleh dibilang pribadi yang selalu menentang logika. Sebagian dari mereka tidak menyadari dampak negatif perilakunya terhadap orang-orang di sekitar mereka, sebagian lainnya menunjukkan kepuasan setelah berhasil membuat kekacauan yang menekan orang lain. Pendek kata, mereka menciptakan kompleksitas yang tidak perlu, pertikaian, dan penyulut stres yang buruk.

Kemampuan untuk mengelola emosi dan tetap tenang ketika sedang di bawah tekanan memiliki link langsung ke kinerja kita. Berdasarkan penelitian yang dilakukan TalentSmart terhadap lebih satu juta orang, ditemukan fakta bahwa 90% dari top performer adalah orang-orang yang terampil dalam mengelola emosi mereka pada saat stres sehingga tetap tenang dan terkendali. Salah satu anugerah terbesar dari sifat mereka adalah kemampuan untuk menetralisir orang-orang bermasalah. Top performer mampu mengasah strategi yang baik kemudian mereka terapkan untuk mengatasi orang-orang bermasalah.

Satu hal yang perlu diingat ketika kita berinteraksi dengan orang bermasalah yaitu menyadari bahwa kita sedang terpapar oleh kendali jauh lebih daripada yang kita sadari. Berikut ini indikasi perilaku tipikal orang bermasalah dan cara efektif mengatasinya :

  1. Mereka Mengatur Batas (representasi pengeluh)

Hadirnya pengeluh di lingkungan kerja adalah berita buruk karena mereka berkubang dalam masalah mereka dan gagal fokus pada solusi. Mereka ingin orang-orang di sekitarnya bergabung  ke dalam barisan para penuntut belas kasihan, sehingga mereka dapat merasa menjadi orang yang layak mendapat simpati. Sikap mohon belas kasihan ini menjadi tekanan orang-orang disekitarnya, karena jika tidak bersimpati takut dinilai sebagai orang yang berperasaan atau kasar. Kebanyakan orang tidak bisa membedakan antara menunjukkan sikap simpatik atau tersedot ke dalam pusaran emosi negatif, karena perbedaanya sangat tipis.

Cara efektif menghadapi pengeluh adalah dengan menetapkan batasan dan menjauhkan diri seakan pengeluh sedang merokok, tidak mungkin kita duduk disebelahnya sepanjang waktu menjadi penghisap asap kedua. Dengan menetapkan batas atas apa yang mesti mereka keluhkan dengan masalah yang semestinya akan mengarahkan pengeluh kepada pembicaraan produktif.

  1. Mereka Jangan Dihabisi

Orang-orang sukses tidak akan tergoda untuk menghabisi orang-orang bermasalah, karena konflik yang terkendali merupakan ajang untuk berlajar menjadi lebih bijaksana.

  1. Mereka menginjak kepala kita

Orang bermasalah memancing kita agar berbuat gila karena perilaku mereka begitu tidak rasional. Perilakunya benar-benar bertentangan dengan akal sehat. Membiarkan diri kita hanyut dalam emosi sama artinya dengan masuk perangkap mereka.  Semakin tidak rasional tingkah laku mereka, semakin besar alasan kita untuk tidak terpancing. Tidak usah berpikir mengalahkan mereka di permainan mereka. Menjauhkan diri dari mereka secara emosional dan melakukan pendekatan interaksi seperti layaknya proyek ilmiah dimana kita tidak perlu untuk menanggapi secara emosional atas kekacauan faktual.

  1. Mereka menyadari emosi mereka

Mempertahankan jarak emosional membutuhkan kesadaran. Kita tidak mungkin bisa menghentikan seseorang menekan kita jika kita tidak mengenali kapan itu terjadi. Seringkali kita dihadapkan dengan situasi di mana kta harus memilih. Kita tidak perlu takut untuk memutuskan kapan saat terbaik hanya tersenyum dan mengangguk. Kapan  melakukan koreksi atas kesalahan yang tidak semestinya.

  1. Mereka Membangun Batas

Ini adalah tentang di mana kebanyakan orang cenderung memandang sebagai kewajaran. Kita secara sadar dan proaktif perlu membuat batas. Jika kita memandang dan membiarkan sesuatu terjadi sebagai hal yang alami, secara potensial kita akan terlibat dalam kesulitan, terutama akibat dari perilaku yang bermasalah. Kita perlu menetapkan batas-batas dan memutuskan kapan dan di mana kita akan melibatkan orang-orang bermasalah, terutama jika kita mengetahui adanya gelagat mereka berniat melanggar batas yang kita tetapkan.

  1. Mereka tidak akan membiarkan siapa pun membatasi kegembiraan mereka

Orang bermasalah tidak akan membiarkan siapa pun berpendapat atau memberi komentar sinis atas apa yang diklaim mereka sebagai gagasan brilian. Dalam situasi tertentu kita tidak perlu mempedulikan apa yang dipikirkan atau dikehendaki orang-orang atas apa yang kita lakukan. Apa yang mereka pikirkan atau katakan tentang kita pada saat tertentu, tidak bisa menjadi ukuran baik atau buruk atas apa yang kita lakukan.

  1. Mereka hanya fokus pada masalah, bukan solusi

Memfokuskan perhatian pada masalah yang kita hadapi, hanya akan memperpanjang emosi negatif dan mengundang stres. Ketika berhadapan dengan orang bermasalah, betapa mereka terpaku pada kegilaan atas apa yang mereka sebut sebagai masalah. Kita dibuat sulit untuk menunjukkan kekuasaan kita. Jangan terpengaruh, berhenti berpikir tentang betapa mereka begitu mengganggu, dan berfokus pada bagaimana cara mencegah melibatkan mereka terlalu jauh. Cara ini membuat kita lepas dari kontrol mereka, dan itu akan mengurangi tingkat stres yang kita alami saat berinteraksi dengan mereka.

  1. Jangan lupakan Mereka

Secara emosional orang-orang cerdas cepat memaafkan, tapi itu tidak berarti bahwa mereka lupa. Pengampunan membutuhkan pelepasan diri dari ikatan kejadian. Ini tidak berarti kita membiarkan terjadi pelanggaran pada kesempatan lain, termasuk terhadap apa yang dilakukan orang bersalah.

  1. Penebar pesan negatif

Kadang-kadang kita menyerap negativitas orang lain begitu saja. Tidak ada yang salah dengan perasaan yang terganggu akibat ulah seseorang, tapi berkutat dengan ketidaknyamanan perasaan kita sendiri akan berakibat buruk. Mengntensifkan perasaan positif bisa membantu kita bergerak melewatinya.

  1. Mereka bukan beruang

Pelepasan hormon adrenalin memicu respons instingtif. Mekanisme bertahan hidup yang memaksa kita untuk memilih, melawan atau lari ketika menghadapi ancaman. Mekanisme fight-or-flight  tepat dilakukan ketika beruang mengejar kita, namun tidak mungkin berlaku ketika kita dikejutkan oleh seseorang atau rekan kerja yang marah besar.

  1. Tidur cukup ketika ‘bertempur’ dengan mereka

Ketika kita tidur, otak kita aktif menyeret kita melalui kenangan hari itu dan menyimpan atau membuangnya lewat mimpi, sampai kemudian kita terbangun, waspada dan jernih. Kontrol diri, perhatian, dan memori kita berkurang ketika kita kurang tidur. Tidur malam yang baik ini membuat kita lebih positif, kreatif, dan proaktif, termasuk ketika berinterakasi dengan orang-orang bermasalah.

  1. Memanfaatkan Dukungan dalam menghadapi mereka

Mencoba mengatasi semua masalah sendiri sangat menggoda, namun sama sekali tidak efektif. Untuk mengatasi orang bermasalah, kita perlu mengenali kelemahan pendekatan kita. Ini berarti berpikir untuk memanfaatkan sistem dukungan. Sebagaimana lazimnya, setiap orang memiliki seseorang di tempat kerja yang siap membantu ketika menghadapi situasi sulit. Mengidentifikasi individu-individu membuat kita berupaya menambah wawasan, termasuk mendapatkan bantuan mereka ketika kita membutuhkannya.

  1. Menjadi bagian dari upaya menjadi lebih baik

Tidak bisa dipungkiri, interaksi sensitif dengan orang-orang bermasalah menguras perhatian. Untungnya, plastisitas otak memungkinkan untuk membentuk dan mengubah saat kita berlatih membentuk perilaku baru, bahkan ketika kita gagal. Mempraktikkan prinsip ini bisa melatih otak kita untuk menangani stres secara lebih efektif sehingga mengurangi kemungkinan efek buruknya.

Disadur dari : https://www.linkedin.com/pulse/article/20141020140349-50578967-how-successful-people-handle-toxic-people?trk=tod-home-art-list-large_0

Memerdekakan Budak Masa Kini

Menghubungkan makna budak dengan dunia kekinian, selain sebatas bahan kajian sejarah masa lalu atau kasus perilaku sosial, hampir dapat dipastikan dianggap telah kehilangan relevansi. Tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa selain diartikan ‘hamba sahaya’ atau ‘jongos’, budak juga diartikan ‘orang gajian’. Maka dengan menggunakan makna yang terakhir, bukan hanya relevan, dalam wujud yang jauh lebih beradab, ‘budak’ masih menjadi bagian tak terpisahan dari kehidupan dunia kerja saat ini.

Tentu saja, penggunaan makna ini tidak bermaksud merendahkan atau menyamakan orang gajian dengan budak, karena secara fundamental kedua istilah tersebut berasal dari konsep yang berbeda.  Hubungan budak dengan tuannya dibangun atas dasar yang menguasai dan yang dikuasai, sedangkan orang gajian didasarkan pada perjanjian yang disepakati. Hanya pada eskalasi ketidakberdayaan, ketidakleluasaan, atau tingkat keminiman pilihan, keduanya berada pada jalur yang sama.

Memerdekakan orang gajian bukan berarti melonggarkan atau membebaskan sama sekali dari semua bentuk ikatan, melainkan lebih kepada upaya mengikis sekat hubungan antar manusia, sehingga antara tuan dan orang gajian bukan hanya bisa saling menyaksikan dan memahami tapi juga saling merasakan. Seperti disitir Jem lewat lagu ‘It’s Amazing’ :  “…… You?re gonna have to work for it. Harder and harder……. Knocking on the doors with rejection……Patience, now frustrations in the air…..And people who don’t care….Well, it’s gonna get you down“, ketidakpedulian memupuskan harapan melukai jiwa. Jika secara obyektif, kalkulatif dan kualitatif, kehidupan yang layak mustahil bisa diperoleh orang gajian melalui sistem pengupahan yang ada, lalu bagaimana mungkin terdapat begitu banyak para tuan yang tidak terusik oleh keterpurukan di sekelilingnya hanya karena merasa telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Memerdekakan orang gajian bukan sekedar keputusan menjadi tuan yang murah hati atau tuan yang sampai hati. Memerdekakan merupakan bagian dari upaya memperoleh kebaijkan, baik bagi tuan maupun budaknya, sebagaimana diajarkan kepada setiap muslim bahwa kebajikan bukan tentang menghadapkan wajah ke arah timur dan barat, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman, memberikan harta yang dicintainya kepada yang memerlukan pertolongan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, menepati janji, bersabar dalam kesempitan dan memerdekakan hamba sahaya atau budak.

Nilai kebajikan suatu perbuatan ditentukan oleh cara memaknai kebajikan itu sendiri. Seberapa ikhlas seseorang bersedia memenuhi panggilan atau perintahNya (termasuk kesediaan ‘membuang’ sebagian harta yang dicintainya demi membebaskan sesama dari himpitan kehidupan), sebesar itu pula makna kebajikan akan mengendon dalam kepala sebelum akhirnya merembes ke pori-pori.

ءندلسى remembrance – tentang perilaku manusia

%d blogger menyukai ini: