Pabrik Kemakmuran dan Kemiskinan

H2 dan O2 pada suhu kamar berujud gas dan mudah terbakar. Namun ketika keduanya digabung menghasilkan H2O (air) bersifat cair dan memadamkan api. Sebuah fakta ketidak-linier-an sistem yang menakjubkan.

Dalam sistem ekonomi, tepatnya kemakmuran, lebih ‘mengagumkan’ dari itu. Apa yang dimaksud dengan masyarakat pertumbuhan adalah masyarakat yang selalu berkebutuhan, dimana kebutuhan akan selalu melampaui produksi. Uniknya, selain memproduksi kemakmuran, pertumbuhan ekonomi juga menghasilkan kemiskinan, terutama kemiskinan psikologis dan kefakiran struktural.

Ritual perdebatan tentang berapa besaran income per-kapita untuk bisa disebut miskin atau berapa besarnya  upah minimum, tak lebih cara terselubung menetapkan batas layak tumbuh ekonomis. Karena seperti disebutkan di atas, selain memakmurkan, pertumbuhan berfungsi memustahilkan upaya orang–orang miskin mengejar ketertinggalan.

Meyakini kemakmuran bersama bisa dicapai lewat masyarakat pertumbuhan tidak akan bisa memuaskan akal, karena tujuan utama pertumbuhan adalah menjaga perbedaan struktural.

Bacaan : Prof. Yohanes Surya, Ph.D , Hokky Situngkir – Solusi untuk Indoensia V2, George Ritzer – Pengantar Masyarakat Konsumsi (Jean P Baudrillard)

Penuaan dan Kematian, Keuntungan Evolusioner?

Selain sel kanker yang mampu bereproduksi secara tak terbatas, sel-sel tubuh manusia membagi diri sekitar lima puluh kali sebelum mati. Meskipun banyak anggapan umum mengatakan penuaan termasuk kematian dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti gaya hidup, polutan, radiasi. Fakta menunjukkan bahwa batasan kemampuan sel membiakkan diri yang biasa disebut batasan Hayflick ini, merupakan gambaran mikroskopis proses penuaan dan kematian yang dikendalikan oleh lonceng biologis internal.

Kaum evolusionis memandang proses penuaan dan kematian sebagai ‘keuntungan evolusioner’. Berkurangnya persaingan antar satu generasi dengan generasi berikutnya akan mempercepat tujuan evolusi. Seolah para lansia memiliki tanggungjawab untuk segera mati dan menyingkir dari jalan generasi berikutnya. Sedingin inikah kebenarannya?.

Kematian bukanlah hidup yang diakhiri. Maut adalah kemungkinan utama, karena seluruh hal yang mengada dalam dunia (baik lanjut usia atau remaja, kondisi sehat atau sakit-sakitan) menjadi sasarannya. Kalkulasi statistik tentang keberhasilan menekan angka kematian ibu dan bayi, bertambahnya usia harapan hidup, tidak lebih dari salah satu cara manusia ‘menentramkan diri’ dari kecemasan permanen karena tidak pernah lepas dari intaian maut. Sehingga sangat tidak pada tempatnya berharap ada margin keuntungan dengan mendikotomikan tua-muda, kehidupan-kematian, sebagaimana selisih pendapatan dan biaya.

Penuaan dan kematian bukan determinan jahat perampas kehidupan, tapi merupakan bagian sistem kehidupan itu sendiri. Sejak lahir manusia sudah mulai mengalami proses meninggal. Tiap-tiap yang berjiwa (hidup) akan merasakan mati (QS. Ali Imran: 185).

Bacaan : Steven J. Bock MD, Michael Boyette – Stay Young with Melatonin, MAW Brouwer – Psikogi Fenomenologi

Mesin-mesin Pelumpuh Harapan

Ketika masih kecil, seorang anak berkulit hitam luar biasa ekspresif, baik ketika senang maupun sedih. Setelah dewasa tampak tenang dan selalu tersenyum dengan bahasa yang lembut dan kabur. Tak seorang pun bisa memaksanya melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa, membuatnya khawatir atau senang. Masyarakat kulit putih menyukainya.
Silently identification ini bukan tentang dominasi entitas mayoritas atau kekuasaan minoritas dominan, melainkan tentang imunitas terhadap paparan cap (labeling) in atau outgroup atas nama ras maupun uang, yang memaksa setiap individu mem-validasi diri agar bisa diterima dan disukai. Tepatnya, telah teruji menjadi penghuni ‘penjara’ identitas.
Ketika individu, komunitas, atau masyarakat berpikir bahwa mereka tidak mampu mengontrol masalah-masalah yang terjadi di luar diri mereka, maka mereka akan merasa tidak mampu, termasuk merasa tidak berdaya terhadap penyematan label individu tidak valid atau outgroup. Gagal dalam beradaptasi memicu terjadinya kelumpuhan harapan.
Adanya fakta bahwa mesin-mesin sosial tersebut mampu bekerja efektif hanya pada habitatnya berupa tangga hierarki ras atau uang, maka semuanya tak lebih dari tumpukan tulang, onggokan daging serta sederetan angka yang dimaknai secara sepihak, sehingga selalu ada alasan dan pilihan untuk hidup merdeka. Insyaallah!.
Bacaan : Neil Niven – Psikologi Kesehatan, Erik H.Erikson – Childhood and Society

Seberapa Efektif Pribadi Anda ?

Untuk merencanakan karier atau kesuksesan biasanya diawali dengan penilaian diri yang jujur, salah satunya adalah menilai efektivitas diri. Tertarik ? Coba jawab 11 pertanyaan di bawah ini dengan jawaban 4 skala kecakapan (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).

  1. Komunikasi Lisan : kemampuan menyatakan gagasan secara efektif dalam situasi kelompok atau individual (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).
  2. Komunikasi tertulis : kemampuan menulis secara jelas, ringkas, dan benar (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).
  3. Kepemimpinan : kemampuan mengupayakan agar gagasannya diterima dan dilaksanakan oleh individu atau kelompok (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).
  4. Kepekaan antar pribadi : kemampuan menangkap minat dan kebutuhan orang lain dan mengetahui dampak dari perilakunya terhadap orang lain (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).
  5. Perencanaan dan pengorganisasian : kemampuan merencanakan tindakan untuk diri sendiri dan orang lain serta untuk menghasilkan sesuatu (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).
  6. Pemecahan masalah : kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab, menganalisis masalah, dan mengusulkan pemecahan yang layak (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).
  7. Tegas : kemampuan untuk membuat keputusan yang baik dan kemauan untuk mengambil tindakan (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).
  8. Manajemen waktu : kemampuan memanfaatkan dengan baik waktu kerja untuk memenuhi jadwal, batas waktu, dan komitmen lain (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).
  9. Toleransi terhadap stress : kemampuan untuk tetap bekerja dalam suasana tertekan (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).
  10. Kreativitas dan inovasi : kemampuan mengangankan, mengenali, dan menerima atau menerapkan setiap gagasan baru atau imajinatif (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).
  11. Keluwesan : kemampuan mengenali kondisi yang berubah dan menerapkan setiap perubahan yang perlu (Lemah, Cukup, Perlu Peningkatan, Kuat).

Sumber : Lester L. Bittel, John W. Newstrom – Handbook for Supervisors

Ancaman ‘Baby Blues’ Pascamelahirkan

 

Banyak, bahkan hampir semua, ibu-ibu setelah melahirkan mengalami perubahan mood. Kejadian ini secara umum disebut ‘maternity blues’ atau ‘post partum blues’ atau ‘baby blues’.

Kemurungan setelah melahirkan ini biasanya berlangsung selama beberapa hari, sebagai respons yang normal terhadap perubahan hormonal yang terjadi pada waktu kelahiran bayi. Bagi ibu-ibu yang tidak mengalami perubahan kondisi perasaan yang parah akan segera kembali normal.

Namun bagi sebagian ibu yang mengalami perubahaan mood sampai berbulan-bulan atau bahkan sampai setahun atau lebih, ada kemungkinan mengalami depresi pascamelahirkan (post partum blues). Gejalnya seringkali disertai dengan gangguan selera makan dan tidur, harga diri yang rendah, dan kesulitan dalam mempertahankan konsentrasi atau perhatian. Antara 8% sampai 15% sebagaimana dilaporkan Campbell & Cohn (1991) dan Gitlin & Pasnau (1989), ibu-ibu mengalami suatu gangguan, setidaknya pada tingkat keparahan sedang.

Pada kasus parah yang mengarah pada tindakan bunuh diri, terdapat faktor-faktor lain yang diasosiasikan dengan peningkatan resiko yang mencakup stres, single parent, masalah perkawinan, keuangan, kurangan dukungan pasangan dan anggota keluarga.

Bacaan : Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, Beverly Greene – Abnormal Psychology in a Changing World

Pribadi Histrionik Lapar Perhatian

Pria berupaya menarik perhatian dengan penampilan ‘macho’ dan wanita dengan gaya feminin, merupakan fenomena biasa. Namun, ketika upaya untuk menarik perhatian tersebut melibatkan emosi yang berlebihan disertai kebutuhan yang besar untuk menjadi pusat perhatian, maka sangat dimungkinkan hal itu merupakan pertanda terjadinya gangguan kepribadian histrionik (Histrionic Personality Disorder)

Istilah  Histrionik berasal dari bahasa Latin ‘histrio’ yang berarti ‘aktor’. Orang dengan gangguan kepribadian histrionik cenderung dramatis dan emosional. Mereka terdorong menuntut orang lain memenuhi rasa laparnya akan perhatian dan akan berperan sebagai korban (teraniaya) manakala orang lain mengecewakannya. Penundaan kesenangan adalah hal yang menyiksa. Mereka cepat bosan dengan rutinitas, ketagihan hal-hal baru, haus stiimulasi. Impiannya untuk mendominasi lampu sorot menjadikan mereka cenderung tertarik menekuni profesi modeling dan akting.

Meski dari luar mereka tampak meyakinkan, sebenarnya mereka memiliki harga diri (self-esteeem) yang kurang. Bila mengalami kemunduran dan kehilangan perhatian publik, mereka pun dihinggapi keraguan yang menyedihkan.

Bacaan : Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, Beverly Greene – Abnormal Psychology in a Changing World

The Real Individualism

Individualism is the belief that exalts the freedom and rights of individuals. Allthough in reality when dealing with the affairs of the group, the country, especially families, individualism is no longer fully individualized, not really personal. As social beings how to interpret not only not wrong, but it should be and useful.

At a predetermined time each individual will act as an individual in the real sense. Everyone does not bind themselves with anyone including their own families. That Judment Day. When the voice came shattering on a day when everyone broke away from their brother, from their mothers and their fathers, their wives and their children. Everyone on that day has to occupy affairs (QS 80 : 33-37)

At that time humans really be individual not because of the collapse of morality so everyone really did not think about their families, but because of the enormity of the catastrophe without no place to escape and unhelpful.

Just into the lap of God a place to return and seek refuge. Insyaallah

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: