Membunuh Kematian, Mendirikan Istana Kristal

Berbekal logika yang menurut Al Ghazali tak lebih dari data akal, kehidupan –layaknya sebuah mesin–  harus dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dipastikan baik proses maupun hasil akhirnya. Sisi manusiawi yang berimplikasi pada ketidaklogisan seperti hal metafisik, moralitas, spontanitas dan ketidakterus-terangan, dianggap sebagai sumber ketidakpastian sebagaimana pemberontakan yang bergerak di luar kendali kekuasaan, harus dinetralisir.

Proses me-masuk-akal-kan segalanya ini pernah diprediksi Dostoyevski  (1821 – 1881) bahwa suatu saat akan diterbitkan buku-buku yang bersifat leksikon, dimana di dalamnya semua sudah diperhitungkan dan dipaparkan dengan jelas, sehingga di dunia ini tidak ada lagi yang bersifat kebetulan. Pertanyaan apa saja yang mungkin akan sirna dalam sekejap, karena pemecahan yang diperlukan sudah tersedia. Ketika itu, kata Dostoyevsky, manusia tak ubahnya tuts piano atau sumbat organ yang tidak memiliki kemauan sendiri.

Mekanisasi kehidupan pada hakekatnya bukan metode baru, melainkan juga pernah dilakukan jauh sebelum itu. Tahun 1800-an penjelajah Spanyol Ponce de Leὁn berharap bisa menemukan mata air awet muda di dunia baru yang bernama Florida. Namun mata air itu tidak pernah ditemukan, ia pun kembali ke Spanyol dimana ia menjadi tua dan mati. Proses mekanisasi kehidupan memang tidak dirancang untuk melanjutkan petualangan Ponce de Leὁn. Namun, apa yang disebut anti aging, bank sperma, global brain,  atau monumen, berada pada jalur harapan yang sama dengan upaya menghentikan proses penuaan, atau lebih tegasnya membunuh kematian. Hasilnya juga tidak jauh dari kekecewaan Ponce de Leὁn, replikasi-replikasi keabadian tersebut hanya sekedar melembutkan rasa cemas, bukan menyingkirkan penuaan, apalagi kematian.

Kalau pun mekanisasi kehidupan bukan kepanjangan gagasan Ponce de Leὁn, tapi sebuah upaya menciptakan kelimpah-ruahan hingga penderitaan manusia tidak ada yang tersisa, kecuali sekedar residu dari proses pertumbuhan, maka –seperti kata Dostoyevski– apa gunakan mendirikan Istana Kristal yang tenang dan sentosa, jika di dalamnya penderitaan disangsikan atau disangkal karena telah kehilangan wujud. Bukankah penderitaan melahirkan kesadaran yang kaya makna dari pada perkalian dua kali dua sama dengan empat.

Lamanya hidup maupun kelimpah-ruahan bukan nilai, hanya sebuah kondisi. Menjadi tua lalu mati, juga bukan bencana. Hidup maupun kegembiraan, faktanya, adalah proses pemerosotan. Sinarnya beringsut dengan pasti menuju senja kala kejemuan sebelum akhirnya padam. Makna hidup terarah kepada keadaan diri ketika waktu berhenti, ketika tidak ada yang bisa dilakukan, ketika kematian tidak ada lagi. Singkatnya, sesudah mati!. Saat menjelang ajal, Abu Hurairah ditanya oleh orang-orang disekelilingnya: “Apa yang membuatmu menangis Abu Hurairah?” Dia menjawab: “Bekal sedikit tapi perjalanan jauh dan akhir persinggahan hanyalah surga dan neraka.

Bacaan : Al Ghazali (Tahafut Al Falasifah), Fyodor Mikhailovitsy Dostoyevski  (Catatan dari Bawah Tanah), Khalid bin Abdurrahman Asy-Syayi & Sulthan bin Fadh Ar-Rasyid (Detik-detik Menjelang ajal).

Iklan

Perempuan Tua dan Makamnya

Seorang perempuan tua yang senang menyendiri merasa sudah dekat dengan kematian. Bermodalkan uang pemberian saudara perempuannya, ia berniat mendirikan kuburan yang megah, dimana tulang-belulangnya yang tua bisa benaung. Ia pun membeli sepetak tanah pekuburan dan mendirikan makam dari marmer hitam lengkap dengan namanya yang terukir dengan huruf besar berwarna emas.

Awalnya ia hanya datang sekedar melihat penyelesaian makamnya. Namun, akhirnya ia berkunjung setiap minggu, dan menjadikannya sebagai satu-satunya kegiatan sekaligus hiburan yang luar biasa. Pada suatu hari, ia dapati taburan bunga di makamnya. Rupanya, sebelum ia datang, orang-orang yang tak dikenal merasa kasihan melihat makamnya dibiarkan tanpa bunga. Sebagai bentuk perhatian yang santun, mereka berbagi bunga. Perempuan tua itu pun sadar, ia bukan hanya dirasuki cinta sejati terhadap pusaranya sendiri, tapi dirinya telah mati di mata dunia.

Manusia dan makam yang mereka beli adalah sepotong menit dalam lembaran waktu. Meskipun bagi kaum yang terburu-buru terdengar janggal, kehidupan sangatlah singkat,. Tak ada jarak antara yang merenung dan yang menggali pusaranya sendiri. Di bawah senyuman langit, kebermaknaan hidup bukan pertalian yang menuntun dari kelaparan menuju kehidupan atau keputus-asaan yang merahasia, maupun menjadi bahagia. Tapi, cukup menjadi sadar, membuka mata ke arah kematian. Nikmat, sebagaimana maksiat, harus diawasi jika tidak menghendaki akhir hidup yang zalim.

Bacaan : Albert Camus – Mati dalam Jiwa, Dr. Muhammad Ahmad Asyur – Khotbah dan Wasiat Umar Ibnul Khaththab

Menjadi Deviant atau Scarcity Hostage ?

Budi daya kebutuhan yang bukan bersumber dari rasa kekurangan sesungguhnya menghasilkan kelangkaan abadi. Berapa pun barang diproduksi atau berapa pun harta kekayaan tersedia akan selalu berhadapan dengan kelebihan struktural dan kelangkaan struktural. Selisih kemewahan menjadi batasan kualitas kemakmuran, sedangkan kemiskinan disimpulkan sebagai residu yang akan terserap dengan sendirinya oleh pertumbuhan. Bukan pertumbuhan alami seperti tunas menjadi pokok, anak-anak menjadi orang dewasa, tapi pertumbuhan tanpa batas.

Orang yang tersandera kelangkaan (scarcity hostage), selain berada dalam kondisi selalu ‘kelaparan’, kebahagiaan yang pada hakekatnya adalah urusan dada masing-masing, menjadi tidak otonom. Tidak cukup hanya dengan merasa cukup, kebahagiaan harus mampu menjadi kekuatan total batiniah yang bergantung pada kegemaran menampakkan tanda-tanda kemewahan berupa benda-benda mahal, perjalanan wisata ke manca negara, termasuk makanan atau kloset yang terbuat dari emas. Pendeknya, kebahagiaan harus dibuktikan!.

Seperti sel kanker, ‘kelangkaan’ berkembang biak secara liar. Batasan Hayflick, yaitu kemampuan sel membagi diri hanya kira-kira lima puluh kali sebelum mati, tidak berlaku bagi sel kanker. Demikian pula halnya dengan kelangkaan struktural, tumbuh menganga siap melahap segalanya. Dalam studi-studi terhadap binatang, para ilmuwan telah menemukan bahwa tikus-tikus dapat nyaris melipat-duakan rata-rata jangka hidupnya dengan cara membatasi makanannya.  Orang-orang yang mengalami keterbatasan berupa bentuk-bentuk tertentu kebutaan dinyatakan cenderung hidup lebih lama dan bertambah tua lebih lambat. Steven J. Bock M.D. dan Michael Boyette sampai pada kesimpulan bahwa kondisi hampir kelaparan membantu hidup lebih lama.

Pertumbuhan tanpa batas yang selalu diboncengi kelangkaan struktural merong-rong hasrat sebelum akhirnya menguras banyak sumber daya. Jika berpuasa bisa berfungsi detoxifikasi yang mampu menangkal gerusan kekuatan racun-racun korosif, memilih untuk tidak terpuaskan, menoleransi kondisi setengah berkebutuhan, bisa memadamkan hasrat mengikuti histeria kolektif. Meskipun bisa dianggap sebagai delinkuensi asketis, memerankan diri sebagai deviant dalam fragmen-fragmen konsumsi —seperti tidak makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang— mampu menepis kewajiban mengada-adakan aktivitas fisik karena ‘menyesal’ telah menimbun kolestrol. InsyaAllah.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1439 H

Bacaan : Jean P. Baudrillard – Masyarakat Konsumsi, MAW Brouwer – Psikologi Fenomenologi, Steven J. Bock M.D. dan Michael Boyette – Stay Young with Melatonin.

Yang Ter-eksekusi dan Yang Terampas

Maut menjadi hal eviden dalam hukuman mati. Bila eksekusi gagal, maka akan diulangi lagi. Meskipun dengan kejengkelan, terhukum harus berharap alat eksekusi bekerja dengan baik. Ini benar dalam satu arti. Dalam arti lain, juga harus diakui bahwa semua rahasia cara kerja yang baik ada disitu. Terhukum, secara moral, berkepentingan agar semua berjalan tanpa halangan. Sebelum bertemu ajal, ada kalanya terhukum berharap diizinkan naik ke mimbar sehingga dapat menengadah ke langit yang luas dimana angan-angan dapat tertambat. Akan tetapi, eksekusi dilaksanakan di atas tanah, cukup dengan isyarat algojo yang malu-malu, alat pembunuh itu menghancurkan semuanya dengan tepat sekali.

Menjelang waktu eksekusi, untuk pertama kali setelah sekian lama terlupakan, terhukum teringat ibunya. Ia baru mengerti mengapa di penghujung hidup ibunya memilih memiliki pasangan, mengapa ibunya bermain untuk mengawali hidup kembali. Sementara di panti wreda, dimana hidup bungkam, senja menjelma sebagai suatu hiburan yang menyedihkan. Untuk pertama kalinya juga, ya untuk pertama kalinya, hatinya terbuka lebar bagi ketidakpedulian alam yang ramah dan dermawan. Kini, segalanya telah selesai, dan tidak ada kesepian lagi. Lega. Sempat terlintas pikiran konyol, pada hari pelaksanaan hukuman mati akan banyak orang memberikan penghormatan berupa teriakan dan cacian.

Kalau dipikirkan baik-baik, direnungkan dengan tenang, ada yang tidak sempurna pada alat untuk mengeksekusi itu, yaitu tidak adanya kesempatan bagi terhukum, sama sekali tidak ada. Kematian diputuskan begitu ringkas untuk selamanya. Tapi, kalau dipikirkan sekali lagi, kesempatan tidak lenyap karena putusan hakim, isyarat algojo, atau terjangan logam tajam, melainkan oleh diri manusia sendiri.

Sejak lahir setiap diri adalah ‘terpidana mati’. Habisnya waktu karena uzur atau dieksekusi, di atas tanah atau di tempat tidur, hanyalah varian cara maut menampakkan diri. Yang jelas, di antara fitrahnya yang definitif, manusia selalu mendeskripsikan diri sebagai penciptaan yang belum selesai, dan oleh karenanya –secara diam-diam– merasa berhak menjadi bagian dari Penciptanya, termasuk menghabiskan waktu menurut caranya sendiri. Al Qur’an mengingatkan : “Namun, mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka?. Bahkan, hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS 6:43)

Bacaan : Orang Asing – Albert Camus

Pengorbanan Aneh Para Pengabdi Sejarah

Menghuni sejarah berarti mendiami lintasan waktu yang tidak hanya diselubungi kebanggaan atau kejayaan yang dielu-elukan, tapi juga kebungkaman tentang biaya-biaya manusiawi berupa tumpukan ribuan bahkan jutaan manusia yang dikorbankan. Harga tinggi pengorbanan di tingkat makna bukan kesengsaraan, tapi penyangkalan.

Ketika melakukan perjalanan ke reservasi bangsa Indian di Amerika untuk menemukan sumber apati tragis yang diterima anak-anak Indian dengan diam-diam, Erikson menemukan fakta adanya dua kebenaran: kebenaran kulit putih dan kebenaran Indian. Di atas tanah yang dijatahkan oleh pemerintah, orang-orang Indian meminta agar pemerintah melarang semua orang kulit putih berburu dan tinggal di wilayah teritorial mereka. Erikson meragukan harapan dibalik permintaan itu bisa terwujud jika yang dimaksud adalah menemukan sesuatu yang menyerupai gambaran  “Indian sejati”. Seandainya, masih menurut Erikson, jutaan banteng dan emas dikembalikan (seperti dahulu kala), orang-orang Indian tidak akan bisa melupakan kebiasaan dependensinya yang telah menciptakan sebuah masyarakat yang beradaptasi dengan dunia masa kini yang mendikte sang penakluk maupun yang di taklukkan.

Penyangkalan kronis terhadap kehidupan ekonomi dijelaskan Shutt bahwa walaupun performa ekonomi terus mengalami penurunan yang diindikasikan dengan meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan, semakin naiknya harga-harga dan memburuknya pelayanan publik, sebagian besar masyarakat tetap diam. Persepsi umum masyarakat terpancang pada anggapan bahwa situasi dan prospek ekonomi ke depan masih berada pada tahap yang bisa ditolelir, dan penyangkalan ini semakin menemukan pijakan manakala berbagai propaganda secara terus menerus manjanjikan perbaikan dalam jangka panjang.

Tidak cukup beternak keluguan, para pengabdi sejarah juga menyemai wabah kecemasan. Robertson menggambarkan adanya orang-orang yang tanpa memedulikan berada dalam kondisi dominan maupun tergantung, menolak dekolonisasi serta kemerdekaan. Dominasi atau ketergantungan menjadi tumpuan mereka memperoleh rasa aman. Mereka adalah orang-orang yang penghidupan, kesejahteraan dan identitasnya bergantung pada bisnis atau keuangan, politik atau pemerintah. Lebih jauh Fromm mengatakan bahwa banyaknya orang kembali kepada agama untuk menemukan jawaban, bukan sebagai perwujudan iman, tetapi sekedar untuk melepaskan keraguan hebat yang melanda diri dan mencari rasa aman.

Camus melihat mereka yang membaktikan diri pada sejarah sama dengan membaktikan diri tidak pada apa pun dan pada gilirannya tidak ada apa pun. Sebuah pengorbanan aneh untuk hubungan yang aneh. Para pengabdi sejarah selalu menempatkan diri di batas ambang dan, menurut Al Qur’an, mereka (pasti) merugi. “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS 22: 11).

Bacaan : Alternatif Yang Sehat (James Robertson), Chilhood and Society (Erik H. Erikson), Pemberontak (Albert Camus ), Psikoanalisa dan Agama (Erich Fromm), Runtuhnya Kapitalisme (Harry Shutt)

Makna Jaya-Tumbangnya Tirani

Tubuh manusia dilengkapi mekanisme pertahanan yang disebut homeostatis. Sebuah proses penyesuaian yang harus segera dilakukan tubuh manusia untuk menjaga komposisi internal selalu dalam batas yang bisa diterima. Tak ubahnya untaian kalimat yang bisa berfungsi untuk memanjangkan atau meringkas cerita, proses homeostatis terikat siklus perputaran sehat-sakit, yang mengantarkan ke akhir cerita, mati.

Pergiliran yang sama juga terjadi dalam sejarah. Gerak sejarah menurut Spengler didasarkan atas kehidupan organis yang dikuasai oleh hukum siklus gerak lingkar sebagaimana perputaran waktu pagi, siang, sore, dan malam. Peradaban yang telah melewati puncak kebesarannya, akan kehilangan jiwa, gerak sejarahnya membeku, kemudian runtuh.

Difirmankan dalam QS 48: 2 bahwa ketetapan (sunatullah) sekali-kali tidak akan pernah berubah, termasuk  hukum kausalitas yang menjadi sebab dipergilirkannya kejayaan dan keruntuhan. Keberadaan proses homeostatis serta gerak sejarah  yang mengikuti siklus perputaran dengan mempergilirkan sehat-sakit tubuh, jaya-runtuh peradaban, juga berada dalam ketetapan ini. Oleh karenanya, jaya atau tumbangnya tirani tidak membuktikan apa-apa kecuali apa yang telah kita lakukan terhadapnya.

Tumbangnya tirani, baik atas nama do’a yang terkabul, saatnya kebatilan hancur, maupun buah dari perjuangan, tidak serta merta  bisa menjadi pembenar bahwa hidup kita dalam kebaikan. Sebaliknya, berada dalam penindasan tiran juga tidak selalu mengindikasikan adanya ketidak-baikan. Parameternya hanya terletak pada kadar ketaatan kita kepada Allah dan RasulNya, baik ketika jaya atau terpuruk, merdeka atau tertindas. InsyaAllah.

 

Eksekutif Menua, Dikemanakan?

Berada di puncak karier maupun di ‘puncak’ usia, para eksekutif menghadapi ancaman eksistensial yang tidak terlalu berbeda. Yang pertama dihantui decline, yang kedua dibayangi useless karena merasa ditolak atau tidak diperlukan. Harapannya sama, ingin tetap eksis dan produktif, setidaknya kelenyapan yang satu sebanding dengan kemunculan yang lainnya.
Jika merancang kebijakan untuk eksekutif puncak, terutama yang usianya kurang dari empat puluh tahun, cukup membuat gamang manajemen. Lebih membingungkan lagi memperlakukan eksekutif yang mendekati uzur. Selain memerlukan kecermatan dalam mengambil keputusan manajerial, manajemen juga berhadapan dengan tuntutan tanggung jawab moral. Masalah tidak akan beres hanya dengan mencari pengganti dan memensiunkan atau memberi mereka uang pesangon. Manajemen, pada organisasi level apa pun, tidak ingin dituduh berlaku sewenang-wenang atau melakukan tindakan diskriminatif usia, habis manis sepah dibuang.
Al Qarni dalam buku “Jangan Melampaui Batas” menceritakan, para raja bila melihat budak-budak mereka telah beruban akan membebaskannya. Drucker (The Frontiers of Management) menyarankan adanya kebijakan yang memenuhi harapan dan keharusan hukum untuk tetap mempertahankan eksekutif yang menua, dan keharusan demografis untuk menciptakan peluang promosional bagi orang-orang yang lebih muda. Yang lebih penting, mempertahankan agar perusahaan tetap sehat, sehingga yang tua maupun yang muda harus difokuskan pada kinerja, merasa tertantang, dan menjadi produktif.
Satu hal yang pasti, baik bertumpu pada rancangan kebijakan yang efektif maupun produktivitas kerja yang tinggi, tidak akan menghalangi kenyataan bahwa alasan untuk memperlakukan semua pekerja secara adil karena (seperti kata Drucker) mereka adalah manusia.
Hopefully always be productive!

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

%d blogger menyukai ini: