Motiv Keuntungan, Kejijikan dan Kehormatan

Motiv keuntungan bagi siapa saja sama artinya, yaitu dorongan mendapatkan manfaat.  Namun, ketika sebagian besar masyarakat harus merasa puas dengan perolehan keuntungan atau manfaat ala kadarnya sementara sejumlah kecil orang menikmati keuntungan berlimpah ruah, maka cara memaknai motiv maupun keuntungan menjadi tidak sederhana.

Max Weber mengatakan bahwa teori politik kuno tidak menyukai motiv keuntungan. Dalam kelas masyarakat atas yang santai (pada zaman itu) terdapat kejijikan terhadap perdagangan dan para pedagang.  Faktor lain yang juga ikut berperan, masih menurut Weber, adalah sangat bervariasinya perbedaan-perbedaan yang membagi populasi ke dalam kelas turun temurun.

Di jaman modern, tepatnya ketika kaum borjuis yaitu para saudagar dan pengrajin yang awalnya sama sekali tidak tampak sebagai satu kelas, menurut Peter L. Berger, mereka menuntut persamaan hukum sehingga hubungan individu dalam tatanan previlese tidak lagi ditentukan berdasarkan keturunan atau kebaikan raja, melainkan ditentukan oleh peranan keberhasilannya dalam proses produksi. Bagi kaum aristokrat, kemunculan kaum borjuis dianggap terlalu vulgar, dimana kesuksesan dalam memperoleh uang harus diperhitungkan sama halnya keturunan ningrat , kehormatan pribadi serta kedekatan dengan tahta.

Dianggap menjijikkan atau layak dihormati tak akan mengubah kenyataan bahwa keuntungan hanyalah selisih antara pengorbanan dan perolehan, tidak berhubungan dengan kejijikan maupun kehormatan. Seberapa besar kandungan alam kebohongan sehingga makna hal-hal simbolis menjadi lebih esensial dari yang semestinya, itulah pokok masalahnya.

Bacaan : Stainlav Andreski – Wax Weber: Kapitalisme, Birokrasi dan Agama, Peter L. Berger – Revolusi Kapitalis

 

Ternyata, Kita Hidup Hanya 2,2 Jam

Hidup adalah waktu yang diencerkan dan manusia adalah partikel terlarut yang tak berdaya. Ketika dikatakan “usianya sudah 60 tahun”, maka yang dimaksudkan bukan banyaknya angka 60, tapi tentang hadirnya gejala ketuaan, tanda-tanda semakin dekatnya dengan ajal.

Andai, berkat kemajuan teknologi kesehatan serta meningkatnya kualitas kesejahteraan, umur rata-rata manusia bisa mencapai 90 tahun atau lebih, jika dikonversi berdasarkan dimensi waktu QS 32: 5 (“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”), maka rata-rata masa hidup manusia setara dengan 2,2 jam.

Sama seperti usia, masalah utama manusia bukan  tentang singkatnya hidup (hanya 2,2  jam), tapi tentang kemasabodohannya.

Usia 40 dan Kesegeraan Yang Berlalu

Ada apa dengan usia 40 tahun?. Satu-satunya ayat yang secara spesifik menyebut usia empat puluh tahun adalah QS 46 ayat 15:

“….Apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Untuk mendapatkan penjelasan secara benar dan mendalam perlu rujukan kitab tafsir, namun satu hal yang pasti ayat tersebut berbicara tentang waktu. Saat ini, waktu sepertinya tidak lagi dipandang sebagai sarana atau modal, tapi dianggap sebagai komoditas yang layak diperjual belikan. Mie instan, peralatan masak elektronik, jasa laundry dan belanja online, tidak hanya menawarkan barang atau jasa berkualitas dengan harga efisien, tapi tanpa diungkapkan juga menjajakan “waktu luang”, waktu yang bisa membebaskan para konsumen dari berbagai tekanan keharusan. Menonton TV, membaca buku, jalan-jalan ke mall atau nongkrong di cafe, bukan hanya mengkonsumsi informasi, pengetahuan, suasana serta wisata kuliner, melainkan juga melahap habis semua waktu senggang. Tak ada keraguan jika pengorbanan ini mendapatkan hasil yang sepadan berupa kemudahan, keleluasaan, kesantaian dan kesenangan. Namun juga tidak bisa disangkal bersamanya jatah hidup juga ikut menyusut.

Hanya dengan menyegerakan perintahNYa sebagaimana tak pernah tertundanya nikmat nafas, oksigen, dan detak jantung, setiap detik bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana bila sudah 40 tahun berlalu, do’a diatas menjadi jawabannya. Insyaallah

Target dan Cara Menetapkannya

Selain Sasasaran Strategis (SS), setiap organisasi umumnya memiliki Key Performance Indicators (KPI) atau ukuran, serta Target.

KPI dan target memiliki hubungan erat sebagaimana “porsi makan” dan “rasa kenyang”. KPI memberikan petunjuk tentang “besarnya porsi makan”, sedangkan target menentukan “rasa kenyang “ yang ingin dicapai. Semakin besar porsi makannya akan semakin mengenyangkan, bahkan bisa kekenyangan atau melampaui target.

Target sebaiknya dibuat satu tahun  dan dievaluasi setiap bulan, triwulan, persemester atau tahunan. Sebelum menetapkan target perlu memperhatikan :

  1. Pencapaian di masa lalu (baseline)
  2. Harapan stakeholder (angkanya ditentukan sendiri oleh stakeholder)
  3. Mengaitkan dengan kondisi internal dan eksternal organisasi

Biasanya yang digemari cara yang pertama, yaitu berdasarkan pencapaian masa lalu yang dibagi dalam beberapa pilihan :

  1. Pencapaian masa lalu dijadikan patokan menetapkan target tahun berikutnya. Cara ini umumnya ditempuh oleh penganut tipe konvensional
  2. Pencapaian di masa lalu ditambah dengan 10% sebagai asumsi kemungkinan terjadinya inflasi, sehingga organisasi bisa bertahan pada tahun berikutnya
  3. Bersifat elastis, pencapaian masa lalu ditambah 50% dengan tujuan menjadikan target lebih menantang
  4. Didasarkan pada target yang paling baik yang mungkin bisa dicapai (eksponensial). Cara ini biasanya kurang disenangi oleh mereka yang berpola pikir konservatif dan pesimistis.

Bacaan : Suwardi Luis, B.Psy, MBA dan Dr, Ir, Prima A. Biromo – Step by Step in Cascading Balanced Score Card to Functional Scorecards

Ilmu Sosial Dasar : Faktor Kapitalisme, Postmodernisme dan Islam

Setiap perkembangan jaman, termasuk saat ini, selalu berada di bawah pengaruh ide-ide. Ketidakpedulian terhadap ide-ide, menurut John Maynard Keynes, secara perorangan maupun segolongan masyarakat akan menerima begitu saja, bahkan menjadi ‘budak’ -nya. Pernyataan Keynes ini cukup beralasan, mengingat mengakarnya budaya materi dan konsumsi tidak terlepas dari sistem yang melatarbelanginya, yaitu Kapitalisme-hedonistik. Ketersediaan benda-benda komoditas yang melimpah melampaui kebutuhan bukan hanya berhasil membuat kehidupan menjadi terasa lebih mudah dan menyenangkan, tapi juga berhasil menanamkan keyakinan bahwa satu-satunya ide yang paling layak dipertahankan dan dipraktikkan jaman ini hanyalah Kapitalisme.

ILMU SOSIAL DASAR
Penerbit: Catilla Publisher & Art Workshop, Cetakan pertama: Pebruari 2016, Jumlah halaman:119+xii, ISBN: 978-602-99392-4

Setelah melalui perjalanan panjang, modernisme akhirnya bertemu dengan apa yang disebut masyarakat pertumbuhan. Konsep tersebut menempatkan masyarakat berada pada kondisi “kebutuhan” akan selalu melampaui produksi. Pemikir Postmodernisme, Baudrillard, mengartikan masyarakat pertumbuhan ini sebagai lawan dari masyarakat berkecukupan. Di dalam masyarakat pertumbuhan berlangsung pemiskinan psikologis dan kefakiran sistematis, semua orang dibuat sedemikian rupa sehingga selalu tidak pernah cukup.

Berbeda dengan sejarah Kapitalisme dan Postmodernisme yang tidak bisa dipisahkan dengan modernisme. Sejak kelahirannya 14 abad silam, Islam berada di luar jalur itu. Sejarah mencatat tidak kurang dari 12 abad, Islam menjadi determinan global, namun karena berbagai sebab, secara berangsur dan pasti masyarakat muslim jatuh dalam perangkap jaman. Puncaknya terjadi pada tahun 1924, kekhalifahan Turki Usmani dihapus dari peta dunia. Masyarakat muslim kehilangan induk tempat bernaung, bertebaran laksana buih yang terombang-ambing. Meskipun telah mengalami proses sekulerisiasi, sebagai keyakinan, budaya dan ideologi, sampai saat ini Islam tetap mewarnai kehidupan masyarakat, terutama di negeri-negeri yang berpenduduk mayoritas muslim, seperti Indonesia.

Mendekati Penguasa Membuahkan 3 Perkara

Penguasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya orang yang menguasai. Diantara keinginan-keinginan manusia yang tak terhingga dan yang paling penting adalah keinginan memperoleh kekuasaan dan keagungan.

Bertrand Russell mengisahkan tentang seorang wanita yang ditimpa kemalangan bertubi-tubi,  bapak mertua dan suaminya mati dibunuh seekor harimau. Anak laki-lakinya juga mati dengan cara yang sama. Ketika bertemu gurunya dan ditanya, “mengapa tidak meninggalkan tempat tersebut?”. Ia menjawab, “disini tidak ada pemerintah yang menindas”.

Anggapan kekuasaan bisa dijinakkan dengan membatasinya, tidak selamanya ampuh. Karena, sebagaimana bakteri melawan antibiotik dengan cara bermutasi, penguasa akan berupaya menemukan jalan, bukan hanya untuk melanggengkan kekuasaannya tapi juga menambahnya. Hasrat berkuasa seperti candu, agar bisa memuaskan dosisnya harus ditambah. Bahkan menurut Russell, jika memungkinkan setiap orang ingin menjadi Tuhan.

Dhakkak ra. bercerita semalam suntuk tidak bisa tidur hanya karena mencari satu kalimat yang bisa menyenangkan penguasa tapi tidak membuat Tuhannya marah, ternyata tidak menemukannya. Sementara  Abu Laits as-Samarqandi memberikan nasehat bahwa mendekati para penguasa mengakibatkan datangnya 3 perkara, yaitu: berusaha memuaskan mereka, mengagungkan kedudukan serta harta mereka, (selalu) menyetujui perbuatan mereka.

Bacaan : al Imam al Faqih Abu Laits as-Samarqandi – Tanbihul Ghafilin, Bertrand Russell – Kekuasaan Sebuah Analisis Sosial Baru.

Dominasi Harus Dilawan!

Salah satu ciri postmodernisme adalah lahirnya gerakan perlawanan terhadap dominasi yang dipelopori Pierre Bourdieu. Bourdieu melihat kehidupan sosial tak ubahnya pasar atau permainan, tempat terjadinya praktik dominasi, baik antar individu maupun antar kelompok. Salah satunya adalah dominasi budaya yang dilakukan penguasa politik maupun penguasa ekonomi atau gabungan keduanya dalam bentuk pembedaan diri dengan kebanyakan orang.

Untuk mempertahankan dominasinya, berbagai macam strategi ditempuh, termasuk dengan terus meningkatkan akumulasi modal atau kekayaan yang dimilikinya. Bourdieu menunjukkan bahwa seseorang berada di kelas tertentu, dalam kondisi kaya raya maupun miskin sekali, bukan lantaran nasib, tetapi karena adanya “mekanisme dominasi” yang menyebabkan ia terperangkap di posisinya saat ini. Oleh karenanya menurut Bourdieu harus dilawan.

Sayangnya, apa yang disebut Bourdieu sebagai “mekanisme dominasi” tersebut adalah sesuatu yang abstrak, bukan wujud yang bisa diamati, tidak terlihat kecuali oleh mereka yang memikirkannya. Itulah sistem!. (Bacaan : Arizal Mutahir – Intelektual Kolektif Peierre Bourdieu)

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: