Serangga-serangga yang Gagal Paham

Menurut urutan penting dan besarnya peran, dunia kedokteran membagi arthropoda (serangga) menjadi: menularkan penyakit sebagai hospes perantara atau vektor, menimbulkan penyakit karena fungsinya sebagai parasit, mengakibatkan kelainan karena racun yang dikeluarkannya, menimbulkan alergi pada orang yang rentan, dan menimbulkan entomofobia atau rasa takut atau jijik karena bentuk fisiknya.

Kegemarannya mendiami tempat-tempat gelap, lembab dan kotor, menjadikan serangga gagal paham, buta makna. Tak ada yang lebih dimengerti di bawah terangnya sinar matahari, selain makanan, seks, dan bayang-bayang kematian. Menjadi makhluk penuh kuman atau steril, bejat atau terpuji, menghisap atau mengasihi, ingkar atau menepati janji, sama saja.. bakal dilahap kematian!. Bagi serangga, esensi hidup adalah perjuangan memuaskan diri tanpa akhir, dan kematian adalah takdir konyolnya.

Sepertinya, yang menyebabkan serangga dipahami sebagai makhluk berbahaya menjijikkan, bukan semata-mata karena tampilan tubuh dan tabiatnya, tapi lebih karena cara berpikirnya.

Bacaan :  Parasitologi Kedokteran : Protozoologi, Helmintologi, Entomologi – Dr. Hj. Rosdiana Safar, DAP & E, Mpd, DAPK (2009)

Seberapa Gagal Kita Memaknai Buku

Selain diartikan sebagai lembaran kertas berjilid yang berisi tulisan, buku juga dimaknai sebagai fenomena komunikasi. Tepatnya, sistem yang menghubungkan tulisan dengan penulis dan pembaca. Buku juga lebih dari sekedar penadahan sekresi intelektual lewat serangkaian praktik linguistik, tapi –sebagaimana kata Brauwer– buku dilahirkan dari badan fenomenal dalam suatu proses yang tak kalah menderita dibandingkan dengan sakit seorang ibu yang melahirkan bayinya.

Memang sebegitu bermakna kah ?. Buku jika bukan jalan hidup, maka ia adalah penggalan diri penulisnya. Menerbitkan buku, sama artinya dengan mendorong anak kecil ke dalam keramaian lalu lintas. Kritik kejam bukan hanya akan melindas buku, tapi juga melukai penulisnya

Buku hadir untuk mengomunikasikan makna tanpa perlu mempedulikan apakah ia dilahirkan lewat penyerahan diri kepada godaan laten berupa pemuasan dahaga intelektual atau  peng-konstruksian identitas diri. Aroma kebisuan akan selalu menyelubunginya, karena dalam setiap tulisan sulit (kalau tidak bisa disebut mustahil) mengelak dari ketidakterus-terangan, baik karena alasan keterbatasan maupun ketidakberdayaan, termasuk tulisan ini.

Jahanamiyun, Kaum Yang Terputus

Lewat proses partikelisasi manusia menemukan makna ke-individuannya. Universalitasnya terurai menjadi satuan terkecil yang solid, tak tersusupi, dan terisolasi dalam ruang dan waktu sebagaimana atom. Diri yang ter-individuisasi terputus dari semua bentuk ikatan: dengan sesama, ideologi, Tuhan, maupun diri sendiri.

Meskipun (secara meyakinkan) berhasil menciptakan kreativitas luar biasa, individuisasi menyisakan keterbelahan. Indiviidu hidup dalam kepingan kesadaran yang tak terhubung satu sama lain. Murah hati sekaligus tamak, menjaga martabat sambil merusak sendi-sendi moralitas, memuliakan wanita sembari mengeksploitasinya.

Hanya ketika keterputusan terpenggal, manusia tersadar akan kejatuhannya. Segalanya pun menjadi terlihat begitu sederhana dan bersahaja. Lewat sepenggal waktu yang terus menyusut, hanya tersedia dua pilihan. Dengan terpaksa atau patuh, membangkang atau menurut, ingkar atau yakin, kepadaNya semua pasti akan dikembalikan.

Betapa pun diri terluka dengan penyesalan yang sangat, Insyaallah selalu terbuka akhir yang baik sebagaimana yang menimpa kaum “Jahannamiyun”. Nabi SAW (dari Qatadah dari Anas bin Malik) bersabda: “Ada sekelompok kaum yang wajahnya terlihat kehitam-hitaman keluar dari neraka setelah dilahap api, kemudian mereka masuk surga, penghuni surga menjuluki mereka jahannamiyun (mantan penghuni jahannam)” (HR Bukhari).

Tanpa petunjuk dan rahmat-Nya, manusia hanya lah bakal bangkai yang kebingungan menunggu saat mengurai. Naudzubillah mindalik

Penyakit Mental: Pasien atau Pembangkang Tertindas?

Seseorang disebut sakit apabila mengalami suatu penyimpangan dari rancangan spesies, tertekan di bawah level khas spesies. Salah satunya adalah level kemampuan bekomunikasi dengan orang lain. Mengalami halusinasi, depresi, atau impulsiveness (cenderung terlalu menuruti dorongan hati) sehingga kemampuan berkomunikasinya memburuk, dapat dikategorikan sebagai sakit secara mental.

Secara empiris penyakit mental dikonvensikan berdasarkan penerapan hasil-hasil percobaan klinis yang menjadi panduan bersama yang harus dituruti dimana pun berada. Ketika lebih dari satu bulan seseorang menunjukkan simtom-simtom: kegoyahan, gemetaran, sakit otot, kelelahan, berkeringat, jantung berdebar-debar, pusing, mencret, bersemangat secara mendadak, ketakutan, perhatian berlebihan, imsomnia, lekas marah, impotensi, dan lain sebagainya, maka dapat didiagnosis mengalami kekacauan kecemasan.

Pandangan lain mengatakan: “penyakit mental adalah mitos”. Label penyakit mental tak lebih dari upaya menyisihkan dissident (pembangkang) yang berpendapat dan berperilaku yang mengancam ketertiban masyarakat. Bahkan, masih menurut pandangan ini, tidak ada kondisi yang disebut skizofrenia, kecuali sekedar fakta sosial dan fakta sosial adalah peristiwa politis. Orang yang dilabeli skizofrenia bukan hanya menjalani sebuah peran, tetapi juga meniti karier sebagai pasien. Status eksistensinya merosot, tidak lagi penuh, keleluasaannya terhalang, menjadi pribadi yang tidak lagi memiliki definisi sendiri atas dirinya. Ditandaskan oleh pandangan ini bahwa sebenarnya semua ini bukan berurusan dengan penyakit mental, melainkan masalah-masalah pribadi, sosial dan etis dalam kehidupan.

Bacaan : Pendekatan Naturalistik Kepada Psikiatri, Henrik R. Wulf MD, Stig Andur Pedersen, Raben Rosenberg MD

Insting Kematian dan Kecerdasan

Rasa takut akan kematian merupakan hal asing bagi anak-anak. Meninggal di mata anak-anak mirip dengan pergi atau menghilang. Anak-anak tidak mampu membedakan arti ketiadaan yang ditimbulkan oleh jarak, isolasi, atau kematian. Sementara dibalik rasa takutnya akan kematian, orang dewasa tahu bahwa tujuan insting destruktif yang juga dinamakan insting kematian adalah ketundukan pada proses entropi. Sebuah proses yang sesuai asal katanya entropia (Yunani) yang berarti mengubah atau mengonversi. Manusia dan yang lainnya mengalami proses konversi atau terurai sebagaimana energi panas selalu mengalir secara spontan dari daerah yang suhunya lebih tinggi ke daerah yang suhunya lebih rendah.

Anak-anak adalah representasi dari kondisi belum berfungsinya nalar sehat, sedangkan seseorang yang dianggap telah dewasa adalah sebaliknya. Meskpun bertambahnya usia tidak selalu berjalan pararel dengan kedewasaan maupun intelektualitas. Manusia tetaplah manusia, spesies yang tidak mungkin bisa survive tanpa mengandalkan kecerdasannya.

Apakah semua manusia cerdas?, Ya ! jika dibandingkan dengan spesies lain, dan tidak berlaku untuk komparasi antar sesamanya. Manusia cerdas adalah mereka yang mengetahui persis arah dan tujuan hidupnya, kemudian ia pandai mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya sebelum tiba di tujuan. Jatah, kesempatan atau waktu yang tersedia bagi manusia untuk membekali diri adalah sejak berfungsinya nalar (akil baliq) hingga lenyap, baik disebabkan oleh gangguan jiwa, pikun, atau kematian.

Sahabat pernah bertanya : ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Rasulullah SAW menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah).

Perhatian Mendalam Kepada Binatang, Gejala Skizoid?

Isolasi sosial adalah ciri utama gangguan kepribadian skizoid (schizoid personality disorder). Meskipun emosinya tidak sedangkal  atau stumpul penderita skizofrenia, kepribadian skizoid jarang sekali mengekspresikan emosinya serta menjaga jarak, terutama saat berada di tengah-tengah orang yang tidak dikenalnya.

Pria dengan gangguan skizoid jarang menikah. Sedangkan perempuan dengan gangguan ini cenderung menerima ajakan menikah secara pasif, jarang yang memiliki inisiatif membina hubungan atau mengembangkan ikatan yang kuat dengan pasangannya.

Uniknya, perilaku menjauh dan menjaga jarak sosial mungkin hanya tampak dipermukaan saja, orang dengan gangguan skizoid memiliki sensitivitas yang kuat, rasa ingin tahu yang mendalam tentang orang lain, termasuk harapan menemukan cinta yang gagal mereka ekspresikan. Dalam sejumlah kasus, sensitivitasnya diekspresikan dengan perasaan mendalam terhadap binatang daripada terhadap sesama.

Seorang pensiunan berusia 50 tahun membutuhkan penanganan psikis selama beberapa minggu menyusul kematian anjingnya karena ditabrak mobil. Di tempat kerjanya yang baru, rekan-rekannya menggambarkan sebagai pribadi penyendiri.  Satu-satunya hubungan yang ia miliki adalah dengan anjingnya. Bahkan, diceritakan, ketika kehilangan orang tuanya ia tak mampu membangkitkan respons emosional. Namun tidak demikian ketika hal itu terjadi pada anjingnya, membuatnya sedih.

Sumber bacaan : Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, Beverly Greene – Psikologi Abnormal (2005)

 

Makna Ghost Writer Bagi Avoidant Person

Berbeda dengan anggapan Albert Camus bahwa di tengah masyarakat yang mengidap keirian dan olok-olok bakal ditemui penulis yang berlumuran cibiran, Ghost Writer terhindar dari kemalangan seperti itu. Seperti namanya, Ghost Writer atau penulis bayangan adalah penulis profesional yang tidak mencantumkan namanya, kecuali nama orang yang menggunakan jasanya.

Seorang ghost writer, kendati ‘ditakdirkan’ miskin popularitas, namun ketika berkarya hampir dapat dipastikan menikmati tiga kelegaan: terpuaskan secara intelektual, terhargai dan tidak terlalu terbebani secara sosial maupun psikis.

Tentu saja, ghost writer tidak identik dengan profesi tanpa tanggungjawab, tapi bagi writer yang memiliki watak menghindar atau avoidant personality dengan ciri-ciri hambatan sosial, introversi dan tidak ingin terluka oleh kritik, maka ghost writer lebih dari sekedar pekerjaan profesional, tapi juga komoditas yang bisa memenuhi kebutuhan psikis, yatu rasa aman.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

%d blogger menyukai ini: