Rahasia Dibalik Ritual Serba Kelihatan

Semakin hari semakin tidak ada yang tersembunyi merupakan gambaran fenomena sosial saat ini, setidaknya terjadi di dunia maya. Mulai wajah, aktivitas yang membanggakan sampai yang tersembunyi dalam hati, semua dipertontonkan

Meskipun tidak ada jaminan apa yang tertampang benar adanya, namun godaan membuka diri di dunia maya sulit dihindari. Menjamurnya sistem online guna meminimalisir kecurangan semakin menegaskan kegunaan ritual serba kelihatan ini, karena (diharapkan) bisa memotivasi tumbuhnya perilaku jujur.

Jika pada akhirnya (mudah-mudahan) benar-benar semakin tidak ada tempat untuk menyembunyikan ketidakjujuran, maka yang layak dilakukan bukan hanya mensyukurinya, tapi juga merenungkan alasan berperilaku jujur. Karena biar bagaimana pun, jujur terpaksa dan jujur terpanggil mengikuti perintahNya, beda nilainya.

Sumber Disparitas Perilaku Manusia

Ketika seseorang menyerahkan segalanya kepada Tuhan yang ia cintai dengan cara yang begitu buruk, bukan sekedar fakta tentang adanya model keimanan ogah-ogahan, tapi juga tentang implikasi dari sebuah keyakinan, tepatnya keyakinan akan adanya kehidupan sesudah kematian.

Perilaku yang hanya berorientasi pada nilai guna rasionalistik materialistis dengan ekspresi keimanan ala kadarnya atau meniadakan sama sekali, dapat dipastikan merupakan representasi dari ketiadaan atau keraguan akan adanya kehidupan sesudah kematian. Karena konsekuensi logis dari keyakinan akan kehidupan sesudah kematian adalah lahirnya perilaku holistik yang tidak hanya berorientasi kepada kehidupan saat ini tapi juga nanti (sesudah mati). Tidak berhenti pada asas manfaat, masuk akal dan decak kagum orang banyak, tapi juga demi melaksanakan semua PerintahNya.

Adanya kesadaran umum tentang pentingnya pembentukan karakter disiplin, gigih, kompetitif, kreatif, inovatif, maka hal itu tak lebih dari upaya mempersenjatai diri untuk memenangkan persaingan. Esensi disparitas perilaku manusia bukan terletak pada tingkat keselarasannya dengan tuntutan obyektif kehidupan, tapi pada model keyakinan terhadap kehidupan ‘nanti’.

Mengapa Manusia (selalu) Mencari Kesenangan ?

Perasaan, termasuk rasa senang, merupakan aliran kesadaran yang berlangsung lebih dalam daripada pengamatan atau pembayangan. Perasaan sulit dianalisa, karena berhubungan dengan motif, yaitu situasi yang bisa diterima. Jika hal yang dipikirkan menjadi milik semua orang, maka apa yang kita rasakan ( termasuk rasa senang), sepenuhnya milik pribadi.

Selain itu, rasa senang juga berkaitan dengan  proses hedonalgis yaitu perasaan yang sulit dilukiskan yang berkaitan dengan merasa enak atau tidak enak, senang atau tidak senang, seperti perasaan tidak enak ketika mendengarkan musik riang saat sedih.

Yang pasti, motif untuk selalu mendapatkan kesenangan bukan hanya terletak pada efek kenikmatannya, tapi juga adanya fakta obyektif sebagaimana sensasi makan manisan, rasa enaknya tidak mampu bertahan, melainkan terus memudar, akhirnya sensasi rasa enaknya menghilang.

Bacaan : M.A.W. Brouwer – Psikologi Fenomenologi

The Real Hometown

Meskipun ada anggapan bahwa masa depan tidak lebih dari sekedar pendukung untuk segala macam omong kosong, optimisme terpaksa, kemewahan paling bejat, dan tipu daya paling memuakkan. Namun ketika mustahil berdialog dengan orang-orang tuli dan acuh tak acuh, maka berinteraksi dengan masa depan menjadi pilihan paling logis.

Bukankah kebenaran palsu diberi kedudukan tinggi hanya agar lebih mudah disingkirkan, karena juru masak jaman tahu bahwa kualitas dadar peradaban tidak ditentukan oleh banyaknya telur yang dipecahkan. Kalau pun kepalsuan dianggap sebagai pemenangnya tidak ada kewajiban untuk bertindak sedemikian rupa sehingga tampak adil.

Seberapa pun indahnya, kehidupan dunia tetap bungkus kado yang akhirnya dibuang. Masa depan bukanlah alternatif terakhir antara meratapi nasib atau mabuk kesuksesan, tapi tentang kepastian kembali ke kampung halaman sesungguhnya (the real hometown), ke pangkuanNya.

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1436 H, Mohon Maaf Lahir Bathin

Lezatnya Daging Sejarah

Bersuara lantang, terbakar kritik pedas, berlumur celaan dan cibiran, bukanlah monopoli para seniman, tapi menjadi kelayakan siapa saja yang tidak ingin terikat pada tiang perbudakan masa kini, terlebih ketika tahu bahwa tiang itu penuh sisa kotoran.

Tanpa ada keraguan, panggung sejarah adalah habitat para pejuang dan singa. Yang pertama mendambahkan makna, yang kedua berpesta pora menikmati lezatnya daging sejarah. Terlalu banyak yang lantang hanya ketika di tepi panggung. Ketika tiba gilirannya masuk panggung sejarah tak ada yang keluar dari mulutnya selain omong kosong dan pikiran dangkal yang menggelikan.

Di bawah panorama senja sorak sorai kemewahan berbaur dengan penderitaan yang memekik-mekik

Bacaan : Albert Camus – Krisis Kebebasan

Kapitalisme, Rasional atau Rakus?

Keinginan untuk memiliki, mengejar keuntungan, dan memiliki uang sebanyak-banyaknya, menurut Weber, tidak ada hubungannya dengan kapitalisme. Dorongan itu ada pada semua manusia. Kerakusan terhadap keuntungan sama sekali tidak identik dengan kapitalisme, bahkan Weber menegaskan bahwa itu bukan semangatnya. Kapitalisme lebih identik dengan pengendalian, pengejaran keuntungan yang selamanya dapat diperbarui dengan cara usaha kapitalistik yang berlanjut dan rasional.

Pandangan berbeda dikemukakan Baqir Ash Shadr. Ia menyatakan bahwa kapitalisme tidak mempersoalkan keadilan, karena adil bukan gagasan ilmiah. Harga yang ditentukan berdasarkan hukum suplai dan permintaan, menurut Shadr, tidak bisa menyatakan apakah adil atau tidak. Penetapan harga hanya menunjukkan hubungan obyektif sebagaimana hukum besi upah, dimana para buruh selalu menerima upah yang tidak jauh dari level “sekedar bisa mempertahankan hidup”, tanpa mempersoalkan adil tidaknya bagian para buruh.

Kapitalisme hanya menawarkan kesimpulan (deduksi) berdasarkan fakta ilmiah atau rasionalitas, tanpa menghubungkan dengan nilai tertentu, termasuk keadilan.

Bacaan : Max Weber – Kapitalisme Birokrasi dan Agama, Muhammad Baqir Ash Shadr – Iqtishaduna

Api yang Menderita

Camus (L’Envers et L’Endroit) menuturkan bahwa tidak ada yang membanggakan selain ketidakmampuan, karena banyak berjasa dalam memupuk cela. Kemiskinan adalah salah satunya.

Kemiskinan tak mengharuskan adanya keirian maupun rasa sesal

Cuma kegigihan membisu dalam kemapanan nasib,

cahaya petang yang menyedihkan ,

sekeping kegembiraan yang tak pernah dipercaya,

kebun keheningan yang dipenuhi ratapan,

dan kesedihhan yang memekik-mekik.

Kalau tidak menyala,

kemiskinan adalah api yang menderita.

ءندلسى remembrance – tentang perilaku manusia

%d blogger menyukai ini: