Makna Tumbuh-Tumbangnya Tirani

Tubuh manusia dilengkapi mekanisme pertahanan yang disebut homeostatis. Sebuah proses penyusaian yang harus segera dilakukan tubuh manusia untuk menjaga komposisi internal selalu dalam batas yang bisa diterima. Tak ubahnya untaian kalimat yang bisa memperpanjang atau meringkas cerita, proses homeostatis terikat siklus perputaran sehat-sakit yang mengantarkan ke akhir cerita, mati.

Pergiliran yang sama juga terjadi dalam sejarah. Gerak sejarah menurut Spengler didasarkan atas kehidupan organis yang dikuasai oleh hukum siklus gerak lingkar sebagaimana perputaran waktu pagi, siang, sore, dan malam. Peradaban yang telah melewati puncak kebesarannya, akan kehilangan jiwa, gerak sejarahnya membeku, kemudian runtuh.

Dengan berpijak pada QS 48: 2 bahwa ketetapan (sunatullah) sekali-kali tidak akan pernah berubah, termasuk  hukum kausalitas yang menjadi sebab dipergilirkannya kejayaan dan keruntuhan. Keberadaan proses homeostatis serta gerak sejarah  yang mengikuti siklus perputaran dengan mempergilirkan sehat-sakit tubuh, jaya-runtuh peradaban, juga berada dalam ketetapan ini. Oleh karenanya, tumbuh atau tumbangnya tirani tidak membuktikan apa-apa kecuali apa yang telah kita lakukan terhadapnya.

Tumbangnya tirani, baik atas nama do’a yang terkabul, saatnya kebatilan hancur, maupun buah harapan yang tak pernah padam, tidak serta merta  bisa menjadi pembenar bahwa hidup kita dalam kebaikan. Sebaliknya, berada dalam penindasan tiran juga tidak selalu mengindikasikan adanya ketidak-baikan. Parameternya hanya terletak pada kadar ketaaatan kita kepada Allah dan RasulNya, baik ketika jaya atau terpuruk, meredeka atau tertindas. InsyaAllah.

Iklan

Eksekutif Menua, Dikemanakan?

Berada di puncak karier maupun di ‘puncak’ usia, para eksekutif menghadapi ancaman eksistensial yang tidak terlalu berbeda. Yang pertama dihantui decline, yang kedua dibayangi useless karena merasa ditolak atau tidak diperlukan. Harapannya sama, ingin tetap eksis dan produktif, setidaknya kelenyapan yang satu sebanding dengan kemunculan yang lainnya.
Jika merancang kebijakan untuk eksekutif puncak, terutama yang usianya kurang dari empat puluh tahun, cukup membuat gamang manajemen. Lebih membingungkan lagi memperlakukan eksekutif yang mendekati uzur. Selain memerlukan kecermatan dalam mengambil keputusan manajerial, manajemen juga berhadapan dengan tuntutan tanggung jawab moral. Masalah tidak akan beres hanya dengan mencari pengganti dan memensiunkan atau memberi mereka uang pesangon. Manajemen, pada organisasi level apa pun, tidak ingin dituduh berlaku sewenang-wenang atau melakukan tindakan diskriminatif usia, habis manis sepah dibuang.
Al Qarni dalam buku “Jangan Melampaui Batas” menceritakan, para raja bila melihat budak-budak mereka telah beruban akan membebaskannya. Drucker (The Frontiers of Management) menyarankan adanya kebijakan yang memenuhi harapan dan keharusan hukum untuk tetap mempertahankan eksekutif yang menua, dan keharusan demografis untuk menciptakan peluang promosional bagi orang-orang yang lebih muda. Yang lebih penting, mempertahankan agar perusahaan tetap sehat, sehingga yang tua maupun yang muda harus difokuskan pada kinerja, merasa tertantang, dan menjadi produktif.
Satu hal yang pasti, baik bertumpu pada rancangan kebijakan yang efektif maupun produktivitas kerja yang tinggi, tidak akan menghalangi kenyataan bahwa alasan untuk memperlakukan semua pekerja secara adil karena (seperti kata Drucker) mereka adalah manusia.
Hopefully always be productive!

Pecundang yang Tak 100%

Dalam “Cinderella Man”, kehidupan petinju profesional Jim Braddock dikisahkan sedang terpuruk menyusul gelombang depresi besar yang menghantam negaranya. Depresi yang bukan hanya mendera para pekerja pabrik, tapi juga membuat lulusan perguruan tinggi, tenaga-tenaga profesional, dan orang-orang yang menganggap dirinya kelas menengah, kehilangan pekerjaan. Wajah-wajah berkerut penuh keinginan, mencari pekerjaan kemana-mana dan tak menemukan satu pun. Lapar, hampa, tak berdaya, kalah. Dengan pakaian compang-camping yang berulang kali ditambal oleh jari-jari sabar istrinya disertai tiga anak lapar, Jim Braddock suka melihat foto diri dan istrinya yang mengenakan gaun pengantin dengan wajah berseri-seri merona. Satu-satunya benda yang masih membuatnya merasa sebagai pria beruntung, bukan orang yang 100% terkalahkan.

Manusia tak pernah 100% identik dengan dirinya sendiri. Manusia, tak tahu bahwa dirinya adalah makhluk yang menipu dirinya sendiri dan orang lain. Satre melukiskan gerak-gerik seorang pelayan yang menampakkan dirinya 100% adalah pelayan. Tapi fakta lain menunjukkan bahwa pelayan tersebut juga seorang pelaut. Kalau seseorang melarikan diri dari musuh kemudian mengatakan bahwa ia lari karena ia seorang pengecut, pada dasarnya ia juga sedang berbohong. Dia bebas memilih menjadi pahlawan, tidak 100% pengecut.

Dengan kesadaran manusia menciptakan dirinya. Seterpuruk apa pun orang-orang kalah terjatuh, selalau tersedia topeng. Topeng kaku harga diri yang (harus diakui) tak cukup menutupi perasaan yang remuk karena dianggap sebagai pecundang.

Bacaan : Marc Cerasini – Cinderella Man, MAW Brouwer – Psikologi Fenomenologi

Totemisme Dibalik Gaji Besar Eksekutif

Para eksekutif banyak menghabiskan waktu mengelola orang dan membuat keputusan  tentang orang, dan memang begitulah seharusnya. Dihitung dengan cara apa pun, menurut Peter F. Drucker, skor rata-rata efektivitas keputusannya tidak lebih dari  0,333, dimana sepertiga keputusan benar, sepertiga efektif minimalis, dan sepertiga sisanya gagal total. Namun kelemahan ‘alami’ ini tidak terlalu mengusik dibanding gaji mereka. Tingginya disparitas gaji blue-collar (pekerja) dan white collar (ekskutif), menjadikannya tidak ada istilah yang cocok untuk menilainya selain ketidakadilan. Perasaan diperlakukan tidak adil ini, sebagaimana dikemukakan Drucker, bukan hanya mengusik serikat buruh dan pegawai biasa, tapi sudah menjalar sampai ke jajaran profesional dan manajer.

Jika ditelusuri, pengindetikan eksekutif dengan hak menerima gaji besar ini lebih dari sekedar ekspresi penghargaan terhadap tugas dan tanggugjawabnya, juga bukan bentuk penolakan terhadap doktrin egalitarianisme (hak kesederajatan), melainkan gairah yang terpancar dari hasrat mendapatkan perlindungan pada apa yang disebut hak kepemilikan. Sebuah hak sakral, yang keabsahannya bisa melahirkan hak untuk menguasai sumber daya alam secara individual maupun menerima perlakuan eksklusif berupa pemberian gaji yang besar. Demi menjaga kesakralannya, agar tidak ada yang mengutak-atik, selain menjaga jarak dengan doktrin kesedarajatan, komunitas eksekutif secara sadar dan terencana membangun kesadaran umum dunia kerja akan pentingnya ‘aturan’ untuk tidak mengatur gaji mereka. Sehingga akan terdengar janggal bila ada menejemen menetapkan upah minimum eksekutif sebagaimana yang berlaku umum pada buruh atau pekerja biasa.

Struktur kesadaran dalam meng-sakralkan hak kepemilikan serupa dengan kesadaran yang ada dalam totemisme. Totemisme dalam kamus psikoanalisa Sigmund Freud diterangkan sebagai kepercayaan akan binatang, tumbuhan, atau benda mati yang dijadikan simbol atau berperan sebagai pelindung kelompok. Menjadi kewajiban sakral untuk tidak membunuh (menghancurkan) binatang yang termasuk kategori totem.  Rasa terlindungi oleh ‘totem’ gaji besar bukan semata-mata disebabkan nilai nominal atau rasio keterjaminan taraf kehidupannya, tapi juga tentang adanya kenikmatan eksistensial dimana dengan jumlah mereka yang sedikit dihargai hampir setara atau bahkan melampaui total jumlah pekerja.

Bacaan : Peter F. Drucker – The Frontiers of  Management, Muhammad Baqir Ash Shadr – Buku Induk Ekonomi Islam, Sigmund Freud – Kamus PSikoanalisa.

Dahaga Ketidaktundukan di Telaga Pemberontakan

Ketika penindasan tumbuh subur di tanah di mana ketidakadilan menumpuk, kemalangan menjadi tanah air bersama dan menjadi satu-satunya kerajaan di dunia yang paling menepati janjinya. Di tengah praktik dominasi di antara kandang, pakan dan kotoran, ternak-ternak malang tak pernah mengerti bahwa kebajikan padang gembala telah takluk di bawah tekanan ketakutan anakronistis. Kekejaman dan kedengkian tak lagi berlalu-lalang dengan telanjang, karena mengenakan jubah penjaga keadilan.

Hanya telaga pemberontakan yang memahami dahaga ketidaktundukan. Dahaga yang harus diredakan, sekalipun di tanah pekuburan

  • Tidak setiap nilai memerlukan pemberontakan, tetapi setiap pemberontakan secara diam-diam meminta suatu nilai.
  • Pemberontakam adalah bagian diri yang ingin dihormati, diletakkan di atas apa pun, bahkan terhadap hidupnya sendiri
  • Dengan sikap all or nothing, pemberontak siap menerima kekalahan akhir, yaitu kematian. Lebih baik mati di atas kaki sendiri ketimbang hidup di atas pangkuan orang lain.
  • Jika pemberontak lebih menyukai resiko kematian daripada pengingkaran atas kebenaran-kebenaran yang ia pertahankan, itu disebabkan karena ia memandang hal ini lebih penting daripada dirinya
  • Seorang pemberontak menentang kebohongan sama baiknya dengan menantang dominasi
  • Pemberontak tidak hanya muncul karena mereka tertekan, tetapi juga disebabkan kesaksian atas orang lain yang menjadi korban penindasan
  • Pemberontak sama sekali tidak mencoba menaklukkan, tetapi cuma memaksa

Penindasan pada jaman dahulu maupun saat ini, lebih dari sekedar cerita tentang kebobrokan, kekejaman dan kedengkian, malainkan juga sejarah yang tampil dalam bentuknya yang murni.

Jika ternak-ternak malang bukan hanya kehilangan nyali, tapi memang tak pernah berniat meredakan dahaga ketidaktundukannya, lembaran-lembaran cerita tentang perlawanan bukan lagi percontohan, bukan pula sarana melampiasakn luapan bisu kekesalan, tetapi hanya selembar gambar, tidak lebih.

Selamat Menunaikan shalat Jum’at

Bacaan : Albert Camus, Pemberontak

Racial Memory dan Mentalitas Budak

Pandangan bahwa ketertinggalan kultural sebagai kebelum-normalan sebagaimana anak-anak di mata orang dewasa, menurut Erikson, menyebabkan para antropolog yang tinggal bertahun-tahun bersama suku pribumi tidak melihat bahwa suku-suku tersebut melatih anaknya dengan sistem tertentu. Keterbelakangan diartikan sebagai tahap infantil dari proses evolutif umat manusia, sementara kelimpahruahan sebagai norma progresif yang merepresentasikan keberadaban atau kemajuan. Ujung pandangan ini bukan hanya menyesatkan tapi juga menjadi bagian dari mesin dominasi.

Frantz Fanon menyatakan terdapat begitu banyak simbol yang diperkenalkan oleh kolonialisme di muka bumi. Sartre (1961) mempertegasnya dengan menyatakan “bumi yang dihuni oleh dua miliar penduduk tediri dari 500 juta orang adalah manusia sedangkan 1,5 miliar sisanya penduduk pribumi yang tidak dimanusiakan”. Penilaian Berger juga menghasilkan kesimpulan sama, bahwa dibalik romantisme kejayaan masa lalu yang selalu dibangga-banggakan, terdapat tumpukan korban-korban mereka yang tak berdaya.

Serigala tidak akan pernah merasa bersalah karena memiliki taring dan gemar memangsa domba. Sedangkan domba, agar tetap hidup, tidak malu melarikan diri. Sebagaimana sifat resiproknya, dominasi tidak ditentukan oleh siapa serigala – siapa domba, tapi merupakan hasil interaksi antara kemampuan memanfaatkan keunggulan dan keberhasilan mengeliminir ketidakberdayaan. Bukan hanya faktor taring, tapi juga perlawanan. Adanya apatisme atau kerelaan ditindas, sangat mungkin berakar pada apa yang disebut Freud sebagai racial memory (ingatan rasial), dimana kehidupan mental indvidu tidak hanya terdapat pengalaman pribadi, melainkan juga apa yang dibawanya sewaktu lahir yakni fragmen filogenetis asal, sebuah warisan leluhur umat manusia yang tidak hanya terdiri dari watak melainkan juga ideasional, jejak ingatan dari pengalaman generasi sebelumnya. Desain mentalitas budak telah terpateri begitu kuat dalam ketidaksadaran kolektif, membentuk watak inferior yang terwariskan secara turun temurun.

Bilik Kebisuan diantara Budak dan Majikan

Selama tidak lagi ada yang benar atau palsu, baik atau buruk, prinsip-prinsip akan menuntun menuju yang paling kuat. Lalu kehidupan tak lagi terbagi  antara yang adil dan tidak adil, tetapi majikan dan budak.

Demi membangkitkan perasaan lebih dari sebagai manusia unggul, para budak diikat diarak melewati jalan-jalan yang dipenuhi sorak sorai kegirangan. Ketika balut kesopanan dan kasih sayang dibuka, luka menjadi tidak penting. Kebungkaman membayangi hasrat untuk berbicara dan berkomunikasi dengan manusia-manusia yang telah direduksi menjadi budak.

Pada hari kejahatan mengenakan buasana tanpa dosa,  budak-budak dipenjara dibawah bendera kebebasan, keputusan yang timpang menjadi bilik percekcokan bisu sang penindas dengan yang ditindas. Bilik kebisuan yang bukan hanya berhasil menyelubungi kebiadaban, tapi juga ketidakadilan.

Bacaan : Pemberontak – Albert Camus

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

%d blogger menyukai ini: