Kapitalisme, Rasional atau Rakus?

Keinginan untuk memiliki, mengejar keuntungan, dan memiliki uang sebanyak-banyaknya, menurut Weber, tidak ada hubungannya dengan kapitalisme. Dorongan itu ada pada semua manusia. Kerakusan terhadap keuntungan sama sekali tidak identik dengan kapitalisme, bahkan Weber menegaskan bahwa itu bukan semangatnya. Kapitalisme lebih identik dengan pengendalian, pengejaran keuntungan yang selamanya dapat diperbarui dengan cara usaha kapitalistik yang berlanjut dan rasional.

Pandangan berbeda dikemukakan Baqir Ash Shadr. Ia menyatakan bahwa kapitalisme tidak mempersoalkan keadilan, karena adil bukan gagasan ilmiah. Harga yang ditentukan berdasarkan hukum suplai dan permintaan, menurut Shadr, tidak bisa menyatakan apakah adil atau tidak. Penetapan harga hanya menunjukkan hubungan obyektif sebagaimana hukum besi upah, dimana para buruh selalu menerima upah yang tidak jauh dari level “sekedar bisa mempertahankan hidup”, tanpa mempersoalkan adil tidaknya bagian para buruh.

Kapitalisme hanya menawarkan kesimpulan (deduksi) berdasarkan fakta ilmiah atau rasionalitas, tanpa menghubungkan dengan nilai tertentu, termasuk keadilan.

Bacaan : Max Weber – Kapitalisme Birokrasi dan Agama, Muhammad Baqir Ash Shadr – Iqtishaduna

Api yang Menderita

Camus (L’Envers et L’Endroit) menuturkan bahwa tidak ada yang membanggakan selain ketidakmampuan, karena banyak berjasa dalam memupuk cela. Kemiskinan adalah salah satunya.

Kemiskinan tak mengharuskan adanya keirian maupun rasa sesal

Cuma kegigihan membisu dalam kemapanan nasib,

cahaya petang yang menyedihkan ,

sekeping kegembiraan yang tak pernah dipercaya,

kebun keheningan yang dipenuhi ratapan,

dan kesedihhan yang memekik-mekik.

Kalau tidak menyala,

kemiskinan adalah api yang menderita.

Pusat Kepedihan

Pelukis ekspresionis abad ke-19 Edward Munch mengatakan : “Aku bisa melihat apa yang tersembunyi dibalik topeng. Wajah-wajah tersenyum penuh kedamaian tak lebih dari mayat-mayat pucat yang tanpa kenal lelah menelusuri jalan beriku menuju liang kubur.”

Ungkapan suram tersebut memberikan gambaran yang teliti tentang kepedihan manusia akan ke-alamiahan-nya sebagai manusia. Sayangnya, seperti kata Munch, manusia gemar mengenakan topeng sehingga kepedihan yang tampak bukan cerminan luka yang sesungguhnya.

Menurut Shawn C. Shea pusat kesedihan bersembunyi dibalik :

  1. Takut menjadi sendirian
  2. Takut menjadi tidak berharga
  3. Takut terhadap penolakan
  4. Takut terhadap kegagalan
  5. Takut kehilangan kontrol eksternal
  6. Takut kehilangan kontrol internal
  7. Takut kepada sesuatu yang tidak diketahui

Ketakutan menjadi sendirian merupakan cermin dari perasaan takut ditinggalkan, baik karena kematian itu sendiri maupun oleh sebab lain seperti perceraian, pertikaian. Mengenai ketakutan menjadi tidak berharga akan diekspresikan dalam bentuk ketergantungan pada seseorang sebagai ganti dari rasa tidak berdaya mengatasi hidup. Akan halnya takut terhadap penolakan menjadi pendorong seseorang untuk selalu berupaya menyenangkan orang lain. Ungkapan yang sering digunakan untuk menyembunyikan pusat kepedihan ini : “itu adalah hal yang bodoh untuk dikatakan”. Adapun ketakutan akan kegagalan berbaur dengan ketakutan tidak berharga, yaitu bersumber pada hilangnya kepercayaan diri. Sedangkan ketakutan kontrol eksternal merupakan ekspresi kombinasi kemarahan dan ketakutan, yang bukan tidak mungkin merupakan gambaran ide bunuh diri. Sementara ketakutan kehilangan kontrol internal lebih berorientasi kepada kegagalan mengendalikan emosi yang mendominasi perilaku seseorang, misalnya dorongan melakukan kekerasan. Yang terakhir, ketakutan akan sesuatu yang belum diketahui berhubungan dengan bidang gelap dimana akibat buruk (terutama yang tidak diharapkan) terjadi tanpa bisa mengetahui terlebih dahulu.

Satu Jam Sebelum Kematian

Tidak ada kemalangan yang paling tidak mengenakkan, kecuali kemalangan seorang perempuan tua cacat yang di tinggal pergi ke bioskop. Perempuan tua yang tidak bisa diam, kini tereduksi menjadi hening dan tak berkutik. Tak ada orang yang mengajaknya bicara. Ia ada di pojokan, seperti seekor anjing. Ia pun menyerahkan segalanya kepada Tuhan yang ia cintai dengan cara yang begitu buruk. Ia berpikir : “Dia punya rembulan.” Segalanya terkatakan.

Dalam potret di dinding ia bergaun hitam tanpa satu keriput, dengan mata luar biasa yang bening dan dingin. Wajahnya merah padam tertikam kenangan. Ia tak pernah mengkhianati suaminya, bahkan sampai melahirkan sembilan orang anak. Namun, di mata cucunya yang telah beranjak dewasa, ia tak lebih dari seorang penindas dengan pandangan pesimisnya. Perempuan tua yang selalu mengatakan : “akulah yang berbuat segalanya di sini”. Terus, “bakal jadi apa kalian, kalau aku lenyap dari dunia!”

Anak cucunya terbiasa tak menghiraukan sakitnya sampai suatu hari ia terpaksa berbaring dan menuntut kehadiran dokter. Hari pertama, sang dokter mengungkapkan bahwa penyakitnya hanya tidak enak badan biasa, hari kedua kanker liver, dan hari ketiga penyakit kuning yang parah.

Di hari terakhir, dengan didampingi anak cucunya, ususnya terbebas dari makanan. Satu jam sebelum mati, ia bertutur terus terang kepada cucunya : “kau dengar, aku kentut seperti seekor babi kecil”. Saat penguburan, karena letusan air mata para pelayat, cucunya akhirnya menangis, tetapi dengan diliputi rasa cemas akan ketidaktulusan dan kedustaannya di depan mendiang. Sempurna, absurd !.

Disadur : Albert Camus – Ironi (L’Envers et L’Endroit)

Jejak Rahim pada Agoraphobia

Agoraphobia atau ketakutan yang abnormal terhadap tempat-tempat terbuka merupakan bentuk penyerahan diri terhadap godaan perasaan bahaya instingtif. Penderita agoraphobia tidak akan mendatangi suatu tempat, kecuali tempat tersebut telah dikenalnya dengan baik. Layaknya anak kecil, rasa amannya terbatas pada jarak tertentu dari tempat tinggalnya.

Menurut Freud, gejala agoraphobia sangat rumit, karena ego tidak meninggalkan jejak apapun. Untuk menghilangkan rasa bahaya yang dimilikinya bisa dilakukan regresi atau membawanya mundur ke masa lalu, tepatnya ke masa kanak-kanak. Pada kasus ekstrim, bisa berupa tindakan regresi ke kondisi yang paling terlindungi, yaitu alam rahim (uterus).

Sederhananya, jejak rasa aman dalam rahim ibu ternyata terbawa terus hingga dewasa. Jejak ini terlalu eksis bagi penderita agoraphobia, sehingga toleransi terhadap perasaan bahaya relatif rendah.

Yang layak direnungkan bukan tentang rendahnya toleransi penderita agoraphobia terhadap perasaan bahaya, tapi tentang panggilan (regresi) alam rahim. Bagaimana jika regresi berlanjut ke masa sebelum alam rahim?. Dari situlah manusia berasal dan kembali. Sejak detik pertama kelahiran, manusia sedang berjalan menuju asal melewati pintu bernama kematian.

Sumber bacaan : Sigmund Freud, Dictionary of Psychoanalysis

Mengapa hari Senin ‘Mengesalkan’ ?

Menanti tibanya hari Minggu setelah enam hari kerja yang menekan, laksana minum es di tengah terik matahari. Lebih dari waktu untuk berkumpul dengan keluarga, hari Minggu juga memberikan ruang psikologis untuk bisa sepenuhnya menjadi diri sendiri, mulai dari bermalas-malasan, berbusana kedodoran, hingga menikmati menu masakan kegemaran.

Minggu malam sekitar jam sembilan atau sepuluh malam, bayangan esok hari tentang diri yang terpapar ‘racun’ suasana kerja (baik yang berasal dari himpitan beban kerja maupun perilaku orang-orang yang menjengkelkan), siap mengacaukan tidur malam kita. Kekesalan periodik ini mencapai puncaknya pada Senin pagi seiring pergerakan jarum jam di dinding yang menghalau kita agar bergegas berangkat kerja.

Ketika ditanyakan mengapa hari Senin mengesalkan?, ada penjelasan lain selain jawaban bahwa manusia maunya bersenang-senang terus. Kelenjar pineal yang ada dalam otak kita memproduksi hormon melatonin yang salah satu fungsinya, selain memperbaiki sel-sel rusak, adalah mempengaruhi suasana hati. Salah satau faktor yang mempengaruhi produksi melatonin adalah ritme tidur malam, khususnya durasi tidur.

J. Bock dan Boyette (Stay Young The Melatonin Way, 1995) menjelaskan bahwa pola tidur delapan jam sehari adalah mitos kuno yang diwariskan orang Romawi yang ingin menciptakan ketertiban dengan membagi hari (24 jam) menjadi tiga bagian, salah satunya adalah waktu tidur. Lamanya tidur yang semestinya bukan ditentukan oleh lima, delapan, atau sembilan jam, tapi menurut kebutuhan. Tidur melebihi kebutuhan sebagaimana sering dilakukan pada hari minggu, efeknya tidak jauh berbeda dengan kurang tidur. Keduanya mengacaukan produksi melatonin yang pada gilirannya mempengaruhi suasana hati. Pola tidur malam yang tidak berbeda antara hari Minggu dengan hari lainnya, mampu menjaga tubuh terasa segar, termasuk tidak merasa kesal ketika bangun di hari Senin.

Gaya Hidup Terang Gelap dan Penuaan Dini

Tubuh kita bukan mesin. Tidak sekedar menjadi ‘usang’ sebelum akhirnya dibuang. Tubuh kita memperbaiki diri secara terus menerus. Selain sel-sel otak, permukaan gigi dan sel telur wanita, akan selalu diperbaiki setiap hari. Akan tetapi, menjadi tua dan kemudian mati, bukan disebabkan adanya ‘cacat’ dalam sistem tubuh kita, melainkan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang ‘wajib’ dijalani setiap orang.

Namun meskipun tak terelakkan, sebagaimana ada sejumlah orang yang mengalami pubertas lebih awal dan ada yang lebih lambat, maka hal yang sama juga terjadi pada proses penuaan. Di laboratorium, para peneliti menggunakan tes darah untuk mengukur jumlah melatonin yang beredar dalam tubuh. Melatonin adalah hormon yang dihasilkan kelenjar pineal yang berfungsi membantu memperbaiki sel-sel dan sistem-sistem yang rusak akibat paparan racun dan tekanan hidup sehari-hari. Para ahli menyimpulkan bahwa produksi melatonin berhubungan dengan ritme gelap-terang, yaitu ada-tidaknya paparan sinar matahari (bukan cahaya lampu).

Artinya, gaya hidup yang terpola secara rutin diantara rentang batas waktu siang-malam, lebih memudahkan tubuh untuk memelihara produksi melatonin, yang pada gilirannya bisa mencegah terjadinya proses penuaan lebih awal (penuaan dini). Sementara, atas nama tuntutan gaya hidup masa kini, terutama di kota-kota besar, justru banyak orang yang menghabiskan waktunya atau melakukan aktivitasnya dengan mengabaikan ritme waktu siang-malam, terang-gelap, di dalam gedung yang 24 jam steril dari paparan sinar matahari.

Sumber : Steven J.Bock, MD & Michael Boyette – Stay Young The Melatonin Way

ءندلسى remembrance – tentang perilaku manusia

%d blogger menyukai ini: