Eliminasi Transendental Kejahatan

Sebelum mempercayai keyakinan umum bahwa faktor ekonomi –tepatnya kemiskinan–  merupakan akar kejahatan, tidak ada salahnya bertanya dulu, apa sih kejahatan itu?. Jika artinya adalah perilaku yg bertentangan dengan nilai dan norma yg berlaku yg telah disahkan oleh hukum tertulis, maka kemiskinan tidak bisa diartikan sebatas kondisi perekonomian yang serba kekurangan, karena faktanya –seperti sering ditayangkan dalam televisi–, kejahatan juga dilakukan oleh mereka yang perekonomiannya telah berkecukupan.

Besarnya energi penggerak kejahatan dipengaruhi tingkat kekeringan ikatan emosi antara pelaku kejahatan dengan korbannya (perorangan maupun sosial). Semakin tidak mampu ikut merasakan penderitaan yang bakal atau sedang ditanggung oleh korban semakin berpotensi sebuah tindak kejahatan diekspresikan. Bukankah rasa nikmat yang diperoleh seorang psikopat atas penderitaan korbannya merupakan kepanjangan dari nihilnya kemampuan merasakan penderitaan korban (orang lain).

Lalu, apakah kejahatan semata-mata hanya bersumber dari ketidakmampuan ikut merasakan penderitaan orang lain ?. Kejahatan tidak mungkin terjadi tanpa faktor pemicu seperti keterdesakan, ketidak-adilan, kemarahan, keserakahan. Sebaliknya, apakah ada jaminan tidak terjadi tindak kejahatan jika semua orang memupuk rasa sepenanggungan-sependeritaan?. Kalaupun ‘terpaksa’ terjadi, akan tersendat, tidak meluap dan terlampiaskan sepuasnya.

Jaminan tidak adanya tindak kejahatan bisa terwujud manakala semua orang merasa selalu terlihat, karena kejahatan merupakan saudara kembar kegelapan atau ketersembunyian. Caranya bukan dengan menebar kamera cctv di setiap jengkal ruangan (kecuali kamar mandi), tapi membangun mindset dengan mewajibkan diri untuk selalu mengada keluar mengawasi diri (transendensi) sebagai wujud keyakinan bahwa Tuhan Maha Melihat, termasuk ketika ada di kamar mandi.

Referensi: KamusBahasaIndonesia.org

Cara Cerdas Menghadapi Orang Bermasalah

Orang bermasalah, khususnya di lingkungan kerja, boleh dibilang pribadi yang selalu menentang logika. Sebagian dari mereka tidak menyadari dampak negatif perilakunya terhadap orang-orang di sekitar mereka, sebagian lainnya menunjukkan kepuasan setelah berhasil membuat kekacauan yang menekan orang lain. Pendek kata, mereka menciptakan kompleksitas yang tidak perlu, pertikaian, dan penyulut stres yang buruk.

Kemampuan untuk mengelola emosi dan tetap tenang ketika sedang di bawah tekanan memiliki link langsung ke kinerja kita. Berdasarkan penelitian yang dilakukan TalentSmart terhadap lebih satu juta orang, ditemukan fakta bahwa 90% dari top performer adalah orang-orang yang terampil dalam mengelola emosi mereka pada saat stres sehingga tetap tenang dan terkendali. Salah satu anugerah terbesar dari sifat mereka adalah kemampuan untuk menetralisir orang-orang bermasalah. Top performer mampu mengasah strategi yang baik kemudian mereka terapkan untuk mengatasi orang-orang bermasalah.

Satu hal yang perlu diingat ketika kita berinteraksi dengan orang bermasalah yaitu menyadari bahwa kita sedang terpapar oleh kendali jauh lebih daripada yang kita sadari. Berikut ini indikasi perilaku tipikal orang bermasalah dan cara efektif mengatasinya :

  1. Mereka Mengatur Batas (representasi pengeluh)

Hadirnya pengeluh di lingkungan kerja adalah berita buruk karena mereka berkubang dalam masalah mereka dan gagal fokus pada solusi. Mereka ingin orang-orang di sekitarnya bergabung  ke dalam barisan para penuntut belas kasihan, sehingga mereka dapat merasa menjadi orang yang layak mendapat simpati. Sikap mohon belas kasihan ini menjadi tekanan orang-orang disekitarnya, karena jika tidak bersimpati takut dinilai sebagai orang yang berperasaan atau kasar. Kebanyakan orang tidak bisa membedakan antara menunjukkan sikap simpatik atau tersedot ke dalam pusaran emosi negatif, karena perbedaanya sangat tipis.

Cara efektif menghadapi pengeluh adalah dengan menetapkan batasan dan menjauhkan diri seakan pengeluh sedang merokok, tidak mungkin kita duduk disebelahnya sepanjang waktu menjadi penghisap asap kedua. Dengan menetapkan batas atas apa yang mesti mereka keluhkan dengan masalah yang semestinya akan mengarahkan pengeluh kepada pembicaraan produktif.

  1. Mereka Jangan Dihabisi

Orang-orang sukses tidak akan tergoda untuk menghabisi orang-orang bermasalah, karena konflik yang terkendali merupakan ajang untuk berlajar menjadi lebih bijaksana.

  1. Mereka menginjak kepala kita

Orang bermasalah memancing kita agar berbuat gila karena perilaku mereka begitu tidak rasional. Perilakunya benar-benar bertentangan dengan akal sehat. Membiarkan diri kita hanyut dalam emosi sama artinya dengan masuk perangkap mereka.  Semakin tidak rasional tingkah laku mereka, semakin besar alasan kita untuk tidak terpancing. Tidak usah berpikir mengalahkan mereka di permainan mereka. Menjauhkan diri dari mereka secara emosional dan melakukan pendekatan interaksi seperti layaknya proyek ilmiah dimana kita tidak perlu untuk menanggapi secara emosional atas kekacauan faktual.

  1. Mereka menyadari emosi mereka

Mempertahankan jarak emosional membutuhkan kesadaran. Kita tidak mungkin bisa menghentikan seseorang menekan kita jika kita tidak mengenali kapan itu terjadi. Seringkali kita dihadapkan dengan situasi di mana kta harus memilih. Kita tidak perlu takut untuk memutuskan kapan saat terbaik hanya tersenyum dan mengangguk. Kapan  melakukan koreksi atas kesalahan yang tidak semestinya.

  1. Mereka Membangun Batas

Ini adalah tentang di mana kebanyakan orang cenderung memandang sebagai kewajaran. Kita secara sadar dan proaktif perlu membuat batas. Jika kita memandang dan membiarkan sesuatu terjadi sebagai hal yang alami, secara potensial kita akan terlibat dalam kesulitan, terutama akibat dari perilaku yang bermasalah. Kita perlu menetapkan batas-batas dan memutuskan kapan dan di mana kita akan melibatkan orang-orang bermasalah, terutama jika kita mengetahui adanya gelagat mereka berniat melanggar batas yang kita tetapkan.

  1. Mereka tidak akan membiarkan siapa pun Batasi Joy mereka

Orang bermasalah tidak akan membiarkan siapa pun berpendapat atau memberi komentar sinis atas apa yang diklaim mereka sebagai gagasan brilian. Dalam situasi tertentu kita tidak perlu mempedulikan apa yang dipikirkan atau dikehendaki orang-orang atas apa yang kita lakukan. Apa yang mereka pikirkan atau katakan tentang kita pada saat tertentu, tidak bisa menjadi ukuran baik atau buruk atas apa yang kita lakukan.

  1. Mereka hanya fokus pada masalah, bukan solusi

Memfokuskan perhatian pada masalah yang kita hadapi, hanya akan memperpanjang emosi negatif dan mengundang stres. Ketika berhadapan dengan orang bermasalah, betapa mereka terpaku pada kegilaan atas apa yang mereka sebut sebagai masalah. Kita dibuat sulit untuk menunjukkan kekuasaan kita. Jangan terpengaruh, berhenti berpikir tentang betapa mereka begitu mengganggu, dan berfokus pada bagaimana cara mencegah melibatkan mereka terlalu jauh. Cara ini membuat kita lepas dari kontrol mereka, dan itu akan mengurangi tingkat stres yang kita alami saat berinteraksi dengan mereka.

  1. Jangan lupakan Mereka

Secara emosional orang-orang cerdas cepat memaafkan, tapi itu tidak berarti bahwa mereka lupa. Pengampunan membutuhkan pelepasan diri dari ikatan kejadian. Ini tidak berarti kita membiarkan terjadi pelanggaran pada kesempatan lain, termasuk terhadap apa yang dilakukan orang bersalah.

  1. Penebar pesan negatif

Kadang-kadang kita menyerap negativitas orang lain begitu saja. Tidak ada yang salah dengan perasaan yang terganggu akibat ulah seseorang, tapi berkutat dengan ketidaknyamanan perasaan kita sendiri akan berakibat buruk. Mengntensifkan perasaan positif bisa membantu kita bergerak melewatinya.

  1. Mereka bukan beruang

Pelepasan hormon adrenalin memicu respons instingtif. Mekanisme bertahan hidup yang memaksa kita untuk memilih, melawan atau lari ketika menghadapi ancaman. Mekanisme fight-or-flight  tepat dilakukan ketika beruang mengejar kita, namun tidak mungkin berlaku ketika kita dikejutkan oleh seseorang atau rekan kerja yang marah besar.

  1. Tidur cukup ketika ‘bertempur’ dengan mereka

Ketika kita tidur, otak kita aktif menyeret kita melalui kenangan hari itu dan menyimpan atau membuangnya lewat mimpi, sampai kemudian kita terbangun, waspada dan jernih. Kontrol diri, perhatian, dan memori kita berkurang ketika kita kurang tidur. Tidur malam yang baik ini membuat kita lebih positif, kreatif, dan proaktif, termasuk ketika berinterakasi dengan orang-orang bermasalah.

  1. Memanfaatkan Dukungan dalam menghadapi mereka

Mencoba mengatasi semua masalah sendiri sangat menggoda, namun sama sekali tidak efektif. Untuk mengatasi orang bermasalah, kita perlu mengenali kelemahan pendekatan kita. Ini berarti berpikir untuk memanfaatkan sistem dukungan. Sebagaimana lazimnya, setiap orang memiliki seseorang di tempat kerja yang siap membantu ketika menghadapi situasi sulit. Mengidentifikasi individu-individu membuat kita berupaya menambah wawasan, termasuk mendapatkan bantuan mereka ketika kita membutuhkannya.

  1. Menjadi bagian dari upaya menjadi lebih baik

Tidak bisa dipungkiri, interaksi sensitif dengan orang-orang bermasalah menguras perhatian. Untungnya, plastisitas otak memungkinkan untuk membentuk dan mengubah saat kita berlatih membentuk perilaku baru, bahkan ketika kita gagal. Mempraktikkan prinsip ini bisa melatih otak kita untuk menangani stres secara lebih efektif sehingga mengurangi kemungkinan efek buruknya.

Disadur dari : https://www.linkedin.com/pulse/article/20141020140349-50578967-how-successful-people-handle-toxic-people?trk=tod-home-art-list-large_0

Memerdekakan Budak Masa Kini

Menghubungkan makna budak dengan dunia kekinian, selain sebatas bahan kajian sejarah masa lalu atau kasus perilaku sosial, hampir dapat dipastikan dianggap telah kehilangan relevansi. Tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa selain diartikan ‘hamba sahaya’ atau ‘jongos’, budak juga diartikan ‘orang gajian’. Maka dengan menggunakan makna yang terakhir, bukan hanya relevan, dalam wujud yang jauh lebih beradab, ‘budak’ masih menjadi bagian tak terpisahan dari kehidupan dunia kerja saat ini.

Tentu saja, penggunaan makna ini tidak bermaksud merendahkan atau menyamakan orang gajian dengan budak, karena secara fundamental kedua istilah tersebut berasal dari konsep yang berbeda.  Hubungan budak dengan tuannya dibangun atas dasar yang menguasai dan yang dikuasai, sedangkan orang gajian didasarkan pada perjanjian yang disepakati. Hanya pada eskalasi ketidakberdayaan, ketidakleluasaan, atau tingkat keminiman pilihan, keduanya berada pada jalur yang sama.

Memerdekakan orang gajian bukan berarti melonggarkan atau membebaskan sama sekali dari semua bentuk ikatan, melainkan lebih kepada upaya mengikis sekat hubungan antar manusia, sehingga antara tuan dan orang gajian bukan hanya bisa saling menyaksikan dan memahami tapi juga saling merasakan. Seperti disitir Jem lewat lagu ‘It’s Amazing’ :  “…… You?re gonna have to work for it. Harder and harder……. Knocking on the doors with rejection……Patience, now frustrations in the air…..And people who don’t care….Well, it’s gonna get you down“, ketidakpedulian memupuskan harapan melukai jiwa. Jika secara obyektif, kalkulatif dan kualitatif, kehidupan yang layak mustahil bisa diperoleh orang gajian melalui sistem pengupahan yang ada, lalu bagaimana mungkin terdapat begitu banyak para tuan yang tidak terusik oleh keterpurukan di sekelilingnya hanya karena merasa telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Memerdekakan orang gajian bukan sekedar keputusan menjadi tuan yang murah hati atau tuan yang sampai hati. Memerdekakan merupakan bagian dari upaya memperoleh kebaijkan, baik bagi tuan maupun budaknya, sebagaimana diajarkan kepada setiap muslim bahwa kebajikan bukan tentang menghadapkan wajah ke arah timur dan barat, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman, memberikan harta yang dicintainya kepada yang memerlukan pertolongan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, menepati janji, bersabar dalam kesempitan dan memerdekakan hamba sahaya atau budak.

Nilai kebajikan suatu perbuatan ditentukan oleh cara memaknai kebajikan itu sendiri. Seberapa ikhlas seseorang bersedia memenuhi panggilan atau perintahNya (termasuk kesediaan ‘membuang’ sebagian harta yang dicintainya demi membebaskan sesama dari himpitan kehidupan), sebesar itu pula makna kebajikan akan mengendon dalam kepala sebelum akhirnya merembes ke pori-pori.

Memproduksi Nasib Palsu, Menangguk Untung

Kita tidak hidup di dalam ruang kosong nilai, melainkan dikelilingi beragam gagasan, pemikiran dan ajaran, yang semuanya mengatasnamakan kebenaran.

Ketika ada yang bertanya, mengapa “nasib” manusia berbeda satu sama lain?. Tanpa mempermasalahkan kaya atau miskin, terpandang atau rata-rata, tidak akan menjadi lebih jelas dengan mendijawab : “itu adalah bagian dari takdir”. Karena sulit untuk menyangkal bahwa apa yang sering disebut “nasib” adalah produk dari sebuah permainan, yaitu permainan sosial.

Setiap permainan, termasuk permainan sosial, selalu ditandai dengan 3 karakteristik. Pertama, memiliki aturan sendiri. Ada ketentuan siapa yang boleh dan tidak boleh melakukan. Kedua, permainan dipelajari melalui pengajaran. Banyak yang bisa mengikuti, bukan membikin sendiri. Ketiga, setiap permainan pasti memiliki tujuan.

Dunia sosial bukan sekedar representasi kumpulan perilaku individu atau tindakan-tindakan yang terstruktur, tapi merupakan praktik sosial. Siapa yang lebih dominan mengendalikan jalannya permainan, merekalah yang memiliki banyak kesempatan untuk ‘mempermainkan’ jalannya permainan, termasuk mempertahankan dominasi beserta keuntungannya.

Bukan hanya terlalu lugu, tapi juga melawan akal dan moralitas, jika di tengah pemahaman umum bahwa disparitas kualitas layanan kesehatan akan selalu berjalan pararel dengan besarnya biaya pengobatan, dengan tenangnya dikatakan bahwa banyaknya orang miskin yang mati dalam usia relatif muda merupakan konsekuensi logis yang tak terelakkan.

Nasib palsu yang diproduksi kelompok dominan benar-benar terlihat lebih nyata dari yang semestinya. Tidak ada yang merasa terusik ketika disodori fakta bahwa segelintir orang yang jumlahnya kurang dari sepuluh persen, tidak hanya berhasil menguasai 90 persen total kekayaan, tapi secara dominan juga mempengaruhi “nasib” mereka.

Apa yang kita sebut “nasib” sesungguhnya tak lebih dari sebuah perangkap yang direncanakan lewat permainan sosial. Sehingga siapa saja yang terperosok di dalamnya, baik dalam keadaan kaya atau miskin, elit atau marjinal, akan merasa hidup semestinya yang mustahil bisa berubah.

Tuhan hanya tersenyum, ketika begitu banyak orang yang meratapi “nasibnya” sambil mengumbar prasangka Tuhan telah berlaku tidak adil.

Sumber bacaan : Intelektual Kolektif Piere Bourdieu – Arizal Mutahir, Masyarakat Konsumsi – Jean P Baudrillard, Budaya Konsumen – Celia Lury

Pesan Penguasa Kegelapan

Dari balik api yang menjilati udara dingin berkabut datang mengendap. Tanpa basa-basi ia memperkenalkan diri dan berpesan :

Aku adalah bagian integral dari kekuatan gelap. Aku tidak maha tahu, aku hanya mempunyai pendengaran tajam. Siang-malam aku selalu membanting tulang bekerja, menahan penderitaan dengan sabar. Sampai kemudian merasa lega setelah kusaksikan manusia tanpa penyesalan menengadah sambil berucap: “FirmanMu terdengar, tapi imanku goyah”.

Manusia bersemangat mengikat kemuliaan dan kekejian, kebenaran dan tipu daya. Mereka diperbudak ilmu pengetahuan. Tanpa ragu mereka percaya dan membeo begitu saja atas teori tentang benda-benda organik. Padahal apa yang mereka namakan ilmu kimia sebenarnya hanyalah senda gurau, tak ubahnya permainan sulap. Sedangkan ilmu hukum adalah ilmu yang sedang mencar-cari. Dari generasi ke generasi begitu keadaannya, tak pernah beranjak dari tempatnya. Mempelajari ilmu hukum hanya membuat manusia sering berpura-pura mengerti dan tahu. Manusia pun mengira bersekutu dengan setan atau tidak sama saja, toh pada akhirnya akan jatuh pada kebinasaan.

Menurutku, manusia yang sebenarnya adalah mereka yang tak pernah puas dan selalu gelisah. Aku tahu, dipuncak kegelisahannya mereka diam-diam menginginkan kematian, karena jika mati gelisah takkan mampu mencekiknya lagi. Sepanjang hidup, mereka hampir tak pernah menghargai waktu. Padahal waktu seperti pedang, kalau tidak hati-hati kepala mereka bisa terpenggal.

Ketegaskan, dunia ini milikku bersama keruntuhan dan puing-puingnya. Dengan rendah hati, aku mau mengatakan kebenaran sederhana ini. Biarlah hati manusia yang gelap menganggap dunia yang tak lebih merupakan permainan ini, sebagai suatu kesempurnaan yang menyeluruh. Meskipun aku adalah kegelapan, tapi aku juga ibu dari segala cahaya yang mengalir dari benda dan memperindah benda itu. Ikuti aku !

Disadur dari : Faust – Johann Wolfgang von Goethe

Manipulator Emosi – The Invisible Trouble Makers

Sangat mungkin tidak terpikirkan, ternyata yang bisa dimanipulasi bukan hanya uang, tapi juga emosi. Selain itu, juga tidak mengira jika manipulasi emosi merupakan agresi terselubung.

Untuk dapat mendeteksi adanya praktik manipulasi emosi di sekitar kita, ada baiknya mencermati beberapa gejala berikut ini :

  1. Dibalik ungkapan penyesalan termasuk linangan air mata, sesungguhnya seorang manipulator emosi sama sekali tidak benar-benar menyesali perbuatannya.
  2. Manipulator emosi merepresentasikan diri mereka sebagai orang yang siap membantu. Jika kita meminta mereka untuk melakukan sesuatu, hampir dapat dipastikan mereka selalu setuju. Namun setelah kita mengatakan ” ok thanks “, mereka segera mendesah dalam,  atau mengirim pesan-pesan non verbal lainnya guna menunjukkan bahwa mereka tidak benar-benar ingin melakukannya.
  3. Meskipun di luar nalar sehat, manipulator emosi seringkali berhasil membalikkan keadaan, merasionalisasikan, membenarkan, menjelaskan hal-hal yang telah berlalu dengan kebohongan yang hampir sempurna. Pendekatan persuasif mereka membuat kita meragukan keyakinan kita sendiri. Proses manipulasi mereka sangat ‘mematikan’ dan mengikis realitas dalam arti harfiah.
  4. Melalui permainan emosi, manipulator emosi mampu memasarkan rasa bersalah kepada korbannya dengan sangat baik.
  5. Manipulator Emosi jarang mengungkapkan kebutuhan atau keinginannya secara terbuka, karena mereka terbiasa mendapatkannya dengan cara memanipulasi emosi orang di sekitarnya. Bagi seorang manipulator emosi, rasa bersalah adalah satu-satunya barang dagangan andalannya. Kita dapat dengan mudah ‘terperas’ untuk melakukan apapun demi meredakan rasa bersalah.
  6. Permainan lainnya yang juga sering dijadikan senjata adalah menebar rasa simpati. Seorang manipulator emosi sangat ahli menciptakan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa dirinya adalah orang yang teraniaya, sehingga menggugah banyak hati untuk besimpati dan memberikan dukungan kepadanya.
  7. Manipulator Emosi tidak akan pernah membuka perlawanan atau kekasaran secara terbuka. Keterusterangan adalah hal tabu. Mereka lebih senang berbicara di belakang kita untuk kemudian mendorong orang lain mengganti posisinya guna memberitahukan kepada kita apa yang diinginkannya.
  8. Sekali kita terhubung dengan mereka, mereka memiliki cara agar menempatkan perhatian lebih tertuju pada diri mereka sendiri.
  9. Manipulator Emosi entah bagaimana caranya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi iklim emosi orang-orang di sekitar mereka. Ketika memanipulasi emosi sedih atau marah seolah dalam ruangan terdengar alunan suara biola dan petikan gitar yang menggiring emosi orang-orang untuk ikut merasakannya.
  10. Manipulator emosi tidak memiliki rasa tanggung jawab . Mereka tidak bertanggung jawab kecuali untuk diri mereka sendiri. Apa yang meraka lakukan selalu tentang apa yang telah dilakukan orang lain untuk mereka.
  11. Indikasi awal karakter manipulator emosi dapat kita ketahui dengan memastikan bahwa mereka sering mencoba membangun keakraban dengan memberikan informasi yang sangat pribadi lebih dari yang sepatutnya. Biasanya korbannya langsung terkesan dan menganggapnya sebagai pribadi sangat sensitif, terbuka dan agak rapuh.
  12. Terakhir, jika kita memandang manipulator emosi sebagai manusia rapuh yang sedang melawan banteng, maka selama itu kita bakal disuguhi buah karya the invisible trouble makers, yaitu masalah dan krisis.

Manakala sebagian atau seluruh gejala tersebut di atas kita temukan pada diri seseorang di lingkungan kerja kita, apa yang mesti kita  lakukan ?. Apakah hanya cukup berhati-hati?, atau meresponsnya dengan tindakan tertentu?.

Disadur dari : Stumbleupon

Remaja dan Enmeshment

Masa remaja adalah waktu yang paling bergelojak dalam siklus hidup. Anna Freud mengatakan bahwa apa yang normal pada masa remaja tersebut akan dianggap sangat neurotik pada periode hidup lainnya. Jika masa bergejolak ini telah diselesaikan dengan cara yang sehat pada semua tahapan masa kanak-kanak sebelumnya, kita bisa membayangkan kembali batin masa anak-anak kita setelah terluka parah. Sayangnya, banyak diantara kita tidak mampu membayangkannya, karena kita tinggal di dalamnya.

Difusi peran sosial yang ditimpakan kepada remaja adalah apa yang disebut  oleh Erikson sebagai titik bahaya masa remaja. Bereksperimen dengan terlalu banyak memberi peran membuat remaja kehilangan konteks dalam memadukan kekuatan egonya. Dalam kebingungan dan kesendiriannya remaja merasa sangat ketakutan. Merasa kehilangan  sosok yang bisa dijadikan alasan untuk memberontak atau dijadikan model dalam mengambil peran. Ketiadaan orientasi ini mendorong remaja menjatuhkan pilihan pada prinsip anti-pahlawan. Produk pergolakan batin yang berlangsung di balik apa yang disebut ‘identitas negatif’. Remaja kebingungan, tidak tahu siapa dirinya, sehingga mereka mengidentifikasi diri sebagai ‘yang bukan’ atau ‘yang lain’. Dengan mengembangkan subkultur penolakan, remaja merasa telah ‘menemukan’ jati dirinya yaitu identitas negatif yang terputus sekaligus berjuang menuntut pengakuan.

Meningkatnya tuntutan peran seiring bertambahnya usia menciptakan alam isolasi dan meningkatkan kekosongan batin. Memilih sebuah peran yang paling signifikan dalam sistem keluarga (seperti dorongan untuk berkecimpung di bidang kesehatan, hukum, pendidikan, politik) sampai saat ini dianggap sebagai cara yang paling tersedia untuk menciptakan identitas. Meskipun, tidak dapat dipungkiri, keputusan menentukan pilihan karier sering memicu perselisihan dengan keluarga.

Pada usia 21 remaja berada dalam puncak kebingungan. Mereka merasakan kekosongan, tidak aman, takut dan marah. Menilai dirinya tidak berdaya berhadapan dengan masa depannya sendiri. Ketika berada di pusat kota, mereka hanya bisa diam terpaku sambil bertanya pada diri sendiri bagaimana orang-orang itu bisa memiliki pekerjaan, mobil, rumah, dan sebagainya. Di puncak kebingungannya ini keinginan untuk menenggelamkan diri dalam rasa malu menjadi sangatlah menggoda. Remaja mulai meyakini ternyata tidak bisa membuat pilihan sendiri selain menyerah dan jatuh kembali pada peran yang telah ditetapkan keluarga.

Remaja bersama subkulturnya tak ubahnya sebuah mosaik yang tersusun atas apa yang ditularkan oleh keluarga. Endapan alam keremajaan merupakan bagian dari ‘dunia’, impian, harapan, maupun kecemasan semua anggota keluarga. Jika ibunya sedih, mau tidak mau harus mendiami alam kesedihan. Demikian pula bila ayah hadir sebagai sosok yang dipenuhi rasa penyesalan atau kemuakan atas apa yang dianggapnya sebagai kegagalan hidup, anak remaja tidak memiliki pilihan selain tumbuh dan berkembang dalam dunia pesimisme dan keputusasaan.

Untuk membebaskan anak remaja dari cengkeraman enmeshment (keterperangkapan) setidaknya ada 2 hal yang layak dicermati. Pertama, badai krisis identitas bersama subkultur remaja bukan semata-mata manifestasi hormonal tapi juga merupakan proses pembangunan konstruksi sosial yang bisa dirancang dan dipengaruhi. Kedua, remaja tidak lahir, tumbuh dan berkembang di ruang kosong kecuali telah diwarnai oleh impian maupun kecemasan keluarga, dan eksistensi setiap keluarga selalu dihadapkan dengan apa yang disebut kehendak jaman. Lalu bagaimana cara menyikapinya?, disitulah kualitas dan integritas keluarga  –tepatnya orang tua–  diuji. Bukan hanya menyangkut kemampuan, kemauan dan ketulusan, tapi juga kadar komitmen atas apa yang telah menjadi keyakinannya.

 Bacaan :

  1. Growth Disorder – Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child, John Bradshaw
  2. Subkultur Generasi Muda – Budaya Konsumen, Celia Lury

ءندلسى remembrance – tentang perilaku manusia

%d blogger menyukai ini: