Racial Memory dan Mentalitas Budak

Pandangan bahwa ketertinggalan kultural sebagai kebelum-normalan sebagaimana anak-anak di mata orang dewasa, menurut Erikson, menyebabkan para antropolog yang tinggal bertahun-tahun bersama suku pribumi tidak melihat bahwa suku-suku tersebut melatih anaknya dengan sistem tertentu. Keterbelakangan diartikan sebagai tahap infantil dari proses evolutif umat manusia, sementara kelimpahruahan sebagai norma progresif yang merepresentasikan keberadaban atau kemajuan. Ujung pandangan ini bukan hanya menyesatkan tapi juga menjadi bagian dari mesin dominasi.

Frantz Fanon menyatakan terdapat begitu banyak simbol yang diperkenalkan oleh kolonialisme di muka bumi. Sartre (1961) mempertegasnya dengan menyatakan “bumi yang dihuni oleh dua miliar penduduk tediri dari 500 juta orang adalah manusia sedangkan 1,5 miliar sisanya penduduk pribumi yang tidak dimanusiakan”. Penilaian Berger juga menghasilkan kesimpulan sama, bahwa dibalik romantisme kejayaan masa lalu yang selalu dibangga-banggakan, terdapat tumpukan korban-korban mereka yang tak berdaya.

Serigala tidak akan pernah merasa bersalah karena memiliki taring dan gemar memangsa domba. Sedangkan domba, agar tetap hidup, tidak malu melarikan diri. Sebagaimana sifat resiproknya, dominasi tidak ditentukan oleh siapa serigala – siapa domba, tapi merupakan hasil interaksi antara kemampuan memanfaatkan keunggulan dan keberhasilan mengeliminir ketidakberdayaan. Bukan hanya faktor taring, tapi juga perlawanan. Adanya apatisme atau kerelaan ditindas, sangat mungkin berakar pada apa yang disebut Freud sebagai racial memory (ingatan rasial), dimana kehidupan mental indvidu tidak hanya terdapat pengalaman pribadi, melainkan juga apa yang dibawanya sewaktu lahir yakni fragmen filogenetis asal, sebuah warisan leluhur umat manusia yang tidak hanya terdiri dari watak melainkan juga ideasional, jejak ingatan dari pengalaman generasi sebelumnya. Desain mentalitas budak telah terpateri begitu kuat dalam ketidaksadaran kolektif, membentuk watak inferior yang terwariskan secara turun temurun.

Iklan

Bilik Kebisuan diantara Budak dan Majikan

Selama tidak lagi ada yang benar atau palsu, baik atau buruk, prinsip-prinsip akan menuntun menuju yang paling kuat. Lalu kehidupan tak lagi terbagi  antara yang adil dan tidak adil, tetapi majikan dan budak.

Demi membangkitkan perasaan lebih dari sebagai manusia unggul, para budak diikat diarak melewati jalan-jalan yang dipenuhi sorak sorai kegirangan. Ketika balut kesopanan dan kasih sayang dibuka, luka menjadi tidak penting. Kebungkaman membayangi hasrat untuk berbicara dan berkomunikasi dengan manusia-manusia yang telah direduksi menjadi budak.

Pada hari kejahatan mengenakan buasana tanpa dosa,  budak-budak dipenjara dibawah bendera kebebasan, keputusan yang timpang menjadi bilik percekcokan bisu sang penindas dengan yang ditindas. Bilik kebisuan yang bukan hanya berhasil menyelubungi kebiadaban, tapi juga ketidakadilan.

Bacaan : Pemberontak – Albert Camus

Ketika Kulit Bersuara Apa Adanya

Satu menit atau satu abad tak ada bedanya, waktu tidak mungkin memuntahkan kembali apa yang telah ditelannya. Kebenaran atas peristiwa yang telah berlalu atau terlewatkan, hanya bisa diperoleh lewat rekonstruksi. Namun, selain dihadapkan dengan dimensi waktu dan ruang, upaya mencapai derajat sesuai aslinya juga dipengaruhi oleh kepentingan. Keputusan untuk menghadirkan kembali menurut apa adanya (bukti) atau yang semestinya (keinginan), selalu menjadi pilihan sekaligus ujian bagi pelaku, saksi mata, maupun media massa.

Alex Sobur mengatakan bahwa praktik komunikasi massa media konvensional seperti televisi, surat kabar, radio dan film, nyaris bukan komunikasi murni. Audiensnya membisu dan anonim, hanya memberikan umpan balik (feedback) dalam bentuk oplah (tiras), jumlah pemirsa atau pendengar. Ketidakmungkinannya mengetahui secara persis bakal ‘bertatap muka’ dengan siapa, menjadikan media massa berupaya memfokuskan diri pada subjek ideal berdasarkan pertimbangan obyektivitas yang mereka tentukan sendiri. Praktik komunikasi massa one sideness (kesatusisian) ini menjadikan media massa selalu berada dalam kerawanan menjatuhkan pilihan pada apa yang seharusnya, bukan apa adanya. Sosok anti-mainstream Amerika, William Blum, ketika ditanya mengapa sangat kritis terhadap media arus utama, setelah mengutip pernyataan George Orwell bahwa penghilangan adalah bentuk terkuat dari sebuah kebohongan, memberikan jawaban sederhana, media Amerika terlalu banyak penghilangan ketimbang kesalahan.

Penilaian kritis lainnya datang dari Norman Fairclough. Ia menyebut media massa adalah produsen. Berhak menentukan apa yang dianggap layak dan apa yang dibuang, bagaimana cara memproduksinya, termasuk dalam memilih subjek yang ditonjolkan atau diabaikan. Jika kemudian muncul pertanyaan, apakah kekuasaan media massa ini bersifat manipulatif?, Fairclough mengatakan “sangatlah sulit memberikan jawaban yang pasti”. Di Inggris, masih menurut Fairclough, media massa menerapkan keseimbangan sumber dan perspektif serta ideologi secara berlebihan untuk menyenangkan pemegang kekuasaan. Meskipun mendasarkan pada keseimbangan, berbagai persyaratan dan pembahasan, sulit dibantah jika ada yang mengatakan media massa berfungsi sebagai sarana untuk mengungkapkan dan mereproduksi kekuasaan kelas dan kelompok dominan. Perihal terbentuknya keyakinan umum, Bertrand Russell sampai pada kesimpulan, jika bukan tradisi, keyakinan umum dipengaruhi oleh 3 faktor: keinginan, bukti dan pengulangan. Tanpa keterlibatan faktor-faktor tersebut, upaya memperoleh kepercayaan massa membutuhkan banyak propaganda.

Kemustahilan bisa melepaskan diri dari ikatan dimensi waktu, ruang dan jerat kepentingan agar siapa pun terpanggil untuk selalu menghadirkan kebenaran (mendekati) apa adanya, dapat dieleminir dengan cara menanamkan keyakinan akan adanya Satu Eksistensi yang tidak terikat oleh apa pun, dan selalu mengawasi segalanya. Allah SWT menegaskan: “Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulit terhadapmu, bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan” (QS 41: 22). Ketika dijanjikan telinga, mata dan kulit bakal bersuara menumpahkan kesaksian tanpa tersisa sedikit pun, maka niat atau usaha menyelubungi “yang sebenarnya” hanya kesementaraan, permainan waktu sekarang atau nanti, aktif atau pensiun, dunia atau akhirat. Pertanyaan kuncinya, yakin atau ragu?,  jawabannya adalah hulu sebuah ideologi, baik yang bersumber dari pemikiran filosofis maupun agama.

Bacaan :

  1. Al Qur’an
  2. Demokrasi, Ekspor Amerika Paling Mematikan – William Blum
  3. Kekuasaan, Sebuah Analisis Sosial Baru – Bertrand Russell
  4. Komunikasi Naratif: Paradigma, Analisis dan Aplikasi – Alex Sobur
  5. Language and Power: Relasi Bahasa, Kekuasaan dan Ideologi – Norman Fairclouch

Kebangkrutan Nalar Terhampar di Areal Parkir

Melihat hamparan kendaraan bermotor di sebuah lokasi parkir atau hampir di setiap areal parikir, tidak ada yang lebih tak terpikirkan kecuali bahwa nyaris semuanya adalah produk Asing. Sebuah fakta konsumsi dimana satu pihak memperoleh keuntungan atas barang ciptaannya, yang lain mendapatkan manfaat. Pemandangan jamak di areal parkir ini merupakan representasi dari selera pasar atau bukti adanya penjara pilihan. Manakala sekumpulan manusia mampu memproduksi komoditas berteknologi tinggi seperti pesawat terbang dan kapal laut, logikanya membuat kendaraan bermotor hanya soal kemauan. Argumen bisnis tentang adanya penguasa yang tak tertandingi di jagad pasar otomotif, selalu terbuka kemungkinan bahwa hal itu tak lebih dari pelabelan berbau monopolistik untuk menyiutkan nyali kompetitor baru. Yang pasti, menjadi loyally user bukan semata-mata pertimbangan agar hidup menjadi lebih mudah dan murah, melainkan bagian dari upaya sistemik memelihara kepastian dalam mengeruk keuntungan oleh segelintir orang.

Seiring dengan kewajiban produsen atas keuntungan yang terus meningkat, tak ada yang lebih tak terpikirkan selain terciptanya budaya komsumsi yang tak kenal kata cukup. Hanya dengan mengedit Storytelling-nya, produk lanjutan dari komoditas yang dijajakan selalu siap menunggu giliran memasuki pasar. Setelah itu, dipersiapkan yang lainnya lagi, begitu seterusnya sampai sang produsen kehabisan nafas tenggelam dalam samudera konsumsi kepatuhan sebagaimana tuan yang mati kelelahan karena memerintah para budak terlalu lama.

Sepertinya, akhir dari era kolonialisme bukan hanya ditandai lahirnya kemerdekaan dan kedaulatan, tapi juga kebangkrutan nalar. Di masa penjajahan, para tuan saling menghormati satu sama lain, di alam kemerdekaan para budak mengagung-agungkan tuannya. Sebuah perkembangan aneh.

Obsesi Kelangsingan, Kanibalisme Minimalis?

Kesehatan, seperti kata Baudrillard, bukan lagi menjadi syarat wajib biologis, melainkan syarat mutlak sosial yang dihubungkan dengan status.  Permintaan kompulsif terhadap pelayanan medis, obat dan bedah yang hampir tanpa batas adalah nilai subrversif terhadap kesakralan hak akan kesehatan.

Pemujaan tubuh menjadi mitos utama dalam etika konsumsi. Meskipun kecantikan dan kelangsingan  tidak memiliki pertalian alami sedikit pun, karena kecantikan tidak mengenal gemuk atau kurus, berat atau ramping. Namun, dalam masyarakat konsumsi yang menjadikan kecantikan sebagai hak sekaligus kewajiban, menuntut bahwa kecantikan tidak bisa dipisahkan dengan kerampingan. Dunia mode tidak bisa bermain dengan pilihan gemuk atau kurus. Bahkan, dengan mengikuti logika fungsionalitas obyek atau kewibawaan diagram dalam ekonomi aljabar, kerempeng menjadi lebih baik sebagaimana profil para model dan mannequin.

Diet menjadi cara untuk memaknai tubuh sebagai ancaman, dan oleh karenanya perlu diawasi, dikurangi, disiksa demi tujuan estetis. Lebih dari sekedar janji mengendalikan hasrat, diet merupakan kesalahan fantastis terhadap prinsip masyarakat konsumsi, anti pembatasan. Obsesi kelangsingan menghuni kesadaran pengorbanan diri dimana masokisme juga tinggal di dalamnya.

Masokisme yang merupakan ekspresi dari sifat feminin yang menemukan kepuasan (seksual) dari menyakiti diri, atau dalam perspektif moral merupakan wujud dari rasa bersalah, menjadikan manusia selalu berada pada tuntutan membuktikan diri. Obsesi kelangsing adalah solusi, tubuh menjadi sarana pembebas rasa bersalah terhadap tuntutan nilai keuniversalan estetis.

Jika mati adalah batas tertepi pengorbanan diri, mempertahankan kesadaran untuk mati demi perjuangan eksistensial sebagaimana praktik kanibalisme pada beberapa spesies seperti buaya dan piranha, apakah merupakan puncak ekstremitas dari pengorbanan?, dan obsesi kelangsingan adalah bentuk minimalisnya?.

Bacaan : Konsumsi Objek Paling Indah: Tubuh – Jean P.Baudrillard, Kamus Psikoanalisis – Sigmund Freud

Serangga-serangga yang Gagal Paham

Menurut urutan penting dan besarnya peran, dunia kedokteran membagi arthropoda (serangga) menjadi: menularkan penyakit sebagai hospes perantara atau vektor, menimbulkan penyakit karena fungsinya sebagai parasit, mengakibatkan kelainan karena racun yang dikeluarkannya, menimbulkan alergi pada orang yang rentan, dan menimbulkan entomofobia atau rasa takut atau jijik karena bentuk fisiknya.

Kegemarannya mendiami tempat-tempat gelap, lembab dan kotor, menjadikan serangga gagal paham, buta makna. Tak ada yang lebih dimengerti di bawah terangnya sinar matahari, selain makanan, seks, dan bayang-bayang kematian. Menjadi makhluk penuh kuman atau steril, bejat atau terpuji, menghisap atau mengasihi, ingkar atau menepati janji, sama saja.. bakal dilahap kematian!. Bagi serangga, esensi hidup adalah perjuangan memuaskan diri tanpa akhir, dan kematian adalah takdir konyolnya.

Sepertinya, yang menyebabkan serangga dipahami sebagai makhluk berbahaya menjijikkan, bukan semata-mata karena tampilan tubuh dan tabiatnya, tapi lebih karena cara berpikirnya.

Bacaan :  Parasitologi Kedokteran : Protozoologi, Helmintologi, Entomologi – Dr. Hj. Rosdiana Safar, DAP & E, Mpd, DAPK (2009)

Seberapa Gagal Kita Memaknai Buku

Selain diartikan sebagai lembaran kertas berjilid yang berisi tulisan, buku juga dimaknai sebagai fenomena komunikasi. Tepatnya, sistem yang menghubungkan tulisan dengan penulis dan pembaca. Buku juga lebih dari sekedar penadahan sekresi intelektual lewat serangkaian praktik linguistik, tapi –sebagaimana kata Brauwer– buku dilahirkan dari badan fenomenal dalam suatu proses yang tak kalah menderita dibandingkan dengan sakit seorang ibu yang melahirkan bayinya.

Memang sebegitu bermakna kah ?. Buku jika bukan jalan hidup, maka ia adalah penggalan diri penulisnya. Menerbitkan buku, sama artinya dengan mendorong anak kecil ke dalam keramaian lalu lintas. Kritik kejam bukan hanya akan melindas buku, tapi juga melukai penulisnya

Buku hadir untuk mengomunikasikan makna tanpa perlu mempedulikan apakah ia dilahirkan lewat penyerahan diri kepada godaan laten berupa pemuasan dahaga intelektual atau  peng-konstruksian identitas diri. Aroma kebisuan akan selalu menyelubunginya, karena dalam setiap tulisan sulit (kalau tidak bisa disebut mustahil) mengelak dari ketidakterus-terangan, baik karena alasan keterbatasan maupun ketidakberdayaan, termasuk tulisan ini.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

%d blogger menyukai ini: