Totemisme Dibalik Gaji Besar Eksekutif

Para eksekutif banyak menghabiskan waktu mengelola orang dan membuat keputusan  tentang orang, dan memang begitulah seharusnya. Dihitung dengan cara apa pun, menurut Peter F. Drucker, skor rata-rata efektivitas keputusannya tidak lebih dari  0,333, dimana sepertiga keputusan benar, sepertiga efektif minimalis, dan sepertiga sisanya gagal total. Namun kelemahan ‘alami’ ini tidak terlalu mengusik dibanding gaji mereka. Tingginya disparitas gaji blue-collar (pekerja) dan white collar (ekskutif), menjadikannya tidak ada istilah yang cocok untuk menilainya selain ketidakadilan. Perasaan diperlakukan tidak adil ini, sebagaimana dikemukakan Drucker, bukan hanya mengusik serikat buruh dan pegawai biasa, tapi sudah menjalar sampai ke jajaran profesional dan manajer.

Jika ditelusuri, pengindetikan eksekutif dengan hak menerima gaji besar ini lebih dari sekedar ekspresi penghargaan terhadap tugas dan tanggugjawabnya, juga bukan bentuk penolakan terhadap doktrin egalitarianisme (hak kesederajatan), melainkan gairah yang terpancar dari hasrat mendapatkan perlindungan pada apa yang disebut hak kepemilikan. Sebuah hak sakral, yang keabsahannya bisa melahirkan hak untuk menguasai sumber daya alam secara individual maupun menerima perlakuan eksklusif berupa pemberian gaji yang besar. Demi menjaga kesakralannya, agar tidak ada yang mengutak-atik, selain menjaga jarak dengan doktrin kesedarajatan, komunitas eksekutif secara sadar dan terencana membangun kesadaran umum dunia kerja akan pentingnya ‘aturan’ untuk tidak mengatur gaji mereka. Sehingga akan terdengar janggal bila ada menejemen menetapkan upah minimum eksekutif sebagaimana yang berlaku umum pada buruh atau pekerja biasa.

Struktur kesadaran dalam meng-sakralkan hak kepemilikan serupa dengan kesadaran yang ada dalam totemisme. Totemisme dalam kamus psikoanalisa Sigmund Freud diterangkan sebagai kepercayaan akan binatang, tumbuhan, atau benda mati yang dijadikan simbol atau berperan sebagai pelindung kelompok. Menjadi kewajiban sakral untuk tidak membunuh (menghancurkan) binatang yang termasuk kategori totem.  Rasa terlindungi oleh ‘totem’ gaji besar bukan semata-mata disebabkan nilai nominal atau rasio keterjaminan taraf kehidupannya, tapi juga tentang adanya kenikmatan eksistensial dimana dengan jumlah mereka yang sedikit dihargai hampir setara atau bahkan melampaui total jumlah pekerja.

Bacaan : Peter F. Drucker – The Frontiers of  Management, Muhammad Baqir Ash Shadr – Buku Induk Ekonomi Islam, Sigmund Freud – Kamus PSikoanalisa.

Iklan

Dahaga Ketidaktundukan di Telaga Pemberontakan

Ketika penindasan tumbuh subur di tanah di mana ketidakadilan menumpuk, kemalangan menjadi tanah air bersama dan menjadi satu-satunya kerajaan di dunia yang paling menepati janjinya. Di tengah praktik dominasi di antara kandang, pakan dan kotoran, ternak-ternak malang tak pernah mengerti bahwa kebajikan padang gembala telah takluk di bawah tekanan ketakutan anakronistis. Kekejaman dan kedengkian tak lagi berlalu-lalang dengan telanjang, karena mengenakan jubah penjaga keadilan.

Hanya telaga pemberontakan yang memahami dahaga ketidaktundukan. Dahaga yang harus diredakan, sekalipun di tanah pekuburan

  • Tidak setiap nilai memerlukan pemberontakan, tetapi setiap pemberontakan secara diam-diam meminta suatu nilai.
  • Pemberontakam adalah bagian diri yang ingin dihormati, diletakkan di atas apa pun, bahkan terhadap hidupnya sendiri
  • Dengan sikap all or nothing, pemberontak siap menerima kekalahan akhir, yaitu kematian. Lebih baik mati di atas kaki sendiri ketimbang hidup di atas pangkuan orang lain.
  • Jika pemberontak lebih menyukai resiko kematian daripada pengingkaran atas kebenaran-kebenaran yang ia pertahankan, itu disebabkan karena ia memandang hal ini lebih penting daripada dirinya
  • Seorang pemberontak menentang kebohongan sama baiknya dengan menantang dominasi
  • Pemberontak tidak hanya muncul karena mereka tertekan, tetapi juga disebabkan kesaksian atas orang lain yang menjadi korban penindasan
  • Pemberontak sama sekali tidak mencoba menaklukkan, tetapi cuma memaksa

Penindasan pada jaman dahulu maupun saat ini, lebih dari sekedar cerita tentang kebobrokan, kekejaman dan kedengkian, malainkan juga sejarah yang tampil dalam bentuknya yang murni.

Jika ternak-ternak malang bukan hanya kehilangan nyali, tapi memang tak pernah berniat meredakan dahaga ketidaktundukannya, lembaran-lembaran cerita tentang perlawanan bukan lagi percontohan, bukan pula sarana melampiasakn luapan bisu kekesalan, tetapi hanya selembar gambar, tidak lebih.

Selamat Menunaikan shalat Jum’at

Bacaan : Albert Camus, Pemberontak

Racial Memory dan Mentalitas Budak

Pandangan bahwa ketertinggalan kultural sebagai kebelum-normalan sebagaimana anak-anak di mata orang dewasa, menurut Erikson, menyebabkan para antropolog yang tinggal bertahun-tahun bersama suku pribumi tidak melihat bahwa suku-suku tersebut melatih anaknya dengan sistem tertentu. Keterbelakangan diartikan sebagai tahap infantil dari proses evolutif umat manusia, sementara kelimpahruahan sebagai norma progresif yang merepresentasikan keberadaban atau kemajuan. Ujung pandangan ini bukan hanya menyesatkan tapi juga menjadi bagian dari mesin dominasi.

Frantz Fanon menyatakan terdapat begitu banyak simbol yang diperkenalkan oleh kolonialisme di muka bumi. Sartre (1961) mempertegasnya dengan menyatakan “bumi yang dihuni oleh dua miliar penduduk tediri dari 500 juta orang adalah manusia sedangkan 1,5 miliar sisanya penduduk pribumi yang tidak dimanusiakan”. Penilaian Berger juga menghasilkan kesimpulan sama, bahwa dibalik romantisme kejayaan masa lalu yang selalu dibangga-banggakan, terdapat tumpukan korban-korban mereka yang tak berdaya.

Serigala tidak akan pernah merasa bersalah karena memiliki taring dan gemar memangsa domba. Sedangkan domba, agar tetap hidup, tidak malu melarikan diri. Sebagaimana sifat resiproknya, dominasi tidak ditentukan oleh siapa serigala – siapa domba, tapi merupakan hasil interaksi antara kemampuan memanfaatkan keunggulan dan keberhasilan mengeliminir ketidakberdayaan. Bukan hanya faktor taring, tapi juga perlawanan. Adanya apatisme atau kerelaan ditindas, sangat mungkin berakar pada apa yang disebut Freud sebagai racial memory (ingatan rasial), dimana kehidupan mental indvidu tidak hanya terdapat pengalaman pribadi, melainkan juga apa yang dibawanya sewaktu lahir yakni fragmen filogenetis asal, sebuah warisan leluhur umat manusia yang tidak hanya terdiri dari watak melainkan juga ideasional, jejak ingatan dari pengalaman generasi sebelumnya. Desain mentalitas budak telah terpateri begitu kuat dalam ketidaksadaran kolektif, membentuk watak inferior yang terwariskan secara turun temurun.

Bilik Kebisuan diantara Budak dan Majikan

Selama tidak lagi ada yang benar atau palsu, baik atau buruk, prinsip-prinsip akan menuntun menuju yang paling kuat. Lalu kehidupan tak lagi terbagi  antara yang adil dan tidak adil, tetapi majikan dan budak.

Demi membangkitkan perasaan lebih dari sebagai manusia unggul, para budak diikat diarak melewati jalan-jalan yang dipenuhi sorak sorai kegirangan. Ketika balut kesopanan dan kasih sayang dibuka, luka menjadi tidak penting. Kebungkaman membayangi hasrat untuk berbicara dan berkomunikasi dengan manusia-manusia yang telah direduksi menjadi budak.

Pada hari kejahatan mengenakan buasana tanpa dosa,  budak-budak dipenjara dibawah bendera kebebasan, keputusan yang timpang menjadi bilik percekcokan bisu sang penindas dengan yang ditindas. Bilik kebisuan yang bukan hanya berhasil menyelubungi kebiadaban, tapi juga ketidakadilan.

Bacaan : Pemberontak – Albert Camus

Ketika Kulit Bersuara Apa Adanya

Satu menit atau satu abad tak ada bedanya, waktu tidak mungkin memuntahkan kembali apa yang telah ditelannya. Kebenaran atas peristiwa yang telah berlalu atau terlewatkan, hanya bisa diperoleh lewat rekonstruksi. Namun, selain dihadapkan dengan dimensi waktu dan ruang, upaya mencapai derajat sesuai aslinya juga dipengaruhi oleh kepentingan. Keputusan untuk menghadirkan kembali menurut apa adanya (bukti) atau yang semestinya (keinginan), selalu menjadi pilihan sekaligus ujian bagi pelaku, saksi mata, maupun media massa.

Alex Sobur mengatakan bahwa praktik komunikasi massa media konvensional seperti televisi, surat kabar, radio dan film, nyaris bukan komunikasi murni. Audiensnya membisu dan anonim, hanya memberikan umpan balik (feedback) dalam bentuk oplah (tiras), jumlah pemirsa atau pendengar. Ketidakmungkinannya mengetahui secara persis bakal ‘bertatap muka’ dengan siapa, menjadikan media massa berupaya memfokuskan diri pada subjek ideal berdasarkan pertimbangan obyektivitas yang mereka tentukan sendiri. Praktik komunikasi massa one sideness (kesatusisian) ini menjadikan media massa selalu berada dalam kerawanan menjatuhkan pilihan pada apa yang seharusnya, bukan apa adanya. Sosok anti-mainstream Amerika, William Blum, ketika ditanya mengapa sangat kritis terhadap media arus utama, setelah mengutip pernyataan George Orwell bahwa penghilangan adalah bentuk terkuat dari sebuah kebohongan, memberikan jawaban sederhana, media Amerika terlalu banyak penghilangan ketimbang kesalahan.

Penilaian kritis lainnya datang dari Norman Fairclough. Ia menyebut media massa adalah produsen. Berhak menentukan apa yang dianggap layak dan apa yang dibuang, bagaimana cara memproduksinya, termasuk dalam memilih subjek yang ditonjolkan atau diabaikan. Jika kemudian muncul pertanyaan, apakah kekuasaan media massa ini bersifat manipulatif?, Fairclough mengatakan “sangatlah sulit memberikan jawaban yang pasti”. Di Inggris, masih menurut Fairclough, media massa menerapkan keseimbangan sumber dan perspektif serta ideologi secara berlebihan untuk menyenangkan pemegang kekuasaan. Meskipun mendasarkan pada keseimbangan, berbagai persyaratan dan pembahasan, sulit dibantah jika ada yang mengatakan media massa berfungsi sebagai sarana untuk mengungkapkan dan mereproduksi kekuasaan kelas dan kelompok dominan. Perihal terbentuknya keyakinan umum, Bertrand Russell sampai pada kesimpulan, jika bukan tradisi, keyakinan umum dipengaruhi oleh 3 faktor: keinginan, bukti dan pengulangan. Tanpa keterlibatan faktor-faktor tersebut, upaya memperoleh kepercayaan massa membutuhkan banyak propaganda.

Kemustahilan bisa melepaskan diri dari ikatan dimensi waktu, ruang dan jerat kepentingan agar siapa pun terpanggil untuk selalu menghadirkan kebenaran (mendekati) apa adanya, dapat dieleminir dengan cara menanamkan keyakinan akan adanya Satu Eksistensi yang tidak terikat oleh apa pun, dan selalu mengawasi segalanya. Allah SWT menegaskan: “Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulit terhadapmu, bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan” (QS 41: 22). Ketika dijanjikan telinga, mata dan kulit bakal bersuara menumpahkan kesaksian tanpa tersisa sedikit pun, maka niat atau usaha menyelubungi “yang sebenarnya” hanya kesementaraan, permainan waktu sekarang atau nanti, aktif atau pensiun, dunia atau akhirat. Pertanyaan kuncinya, yakin atau ragu?,  jawabannya adalah hulu sebuah ideologi, baik yang bersumber dari pemikiran filosofis maupun agama.

Bacaan :

  1. Al Qur’an
  2. Demokrasi, Ekspor Amerika Paling Mematikan – William Blum
  3. Kekuasaan, Sebuah Analisis Sosial Baru – Bertrand Russell
  4. Komunikasi Naratif: Paradigma, Analisis dan Aplikasi – Alex Sobur
  5. Language and Power: Relasi Bahasa, Kekuasaan dan Ideologi – Norman Fairclouch

Kebangkrutan Nalar Terhampar di Areal Parkir

Melihat hamparan kendaraan bermotor di sebuah lokasi parkir atau hampir di setiap areal parikir, tidak ada yang lebih tak terpikirkan kecuali bahwa nyaris semuanya adalah produk Asing. Sebuah fakta konsumsi dimana satu pihak memperoleh keuntungan atas barang ciptaannya, yang lain mendapatkan manfaat. Pemandangan jamak di areal parkir ini merupakan representasi dari selera pasar atau bukti adanya penjara pilihan. Manakala sekumpulan manusia mampu memproduksi komoditas berteknologi tinggi seperti pesawat terbang dan kapal laut, logikanya membuat kendaraan bermotor hanya soal kemauan. Argumen bisnis tentang adanya penguasa yang tak tertandingi di jagad pasar otomotif, selalu terbuka kemungkinan bahwa hal itu tak lebih dari pelabelan berbau monopolistik untuk menyiutkan nyali kompetitor baru. Yang pasti, menjadi loyally user bukan semata-mata pertimbangan agar hidup menjadi lebih mudah dan murah, melainkan bagian dari upaya sistemik memelihara kepastian dalam mengeruk keuntungan oleh segelintir orang.

Seiring dengan kewajiban produsen atas keuntungan yang terus meningkat, tak ada yang lebih tak terpikirkan selain terciptanya budaya komsumsi yang tak kenal kata cukup. Hanya dengan mengedit Storytelling-nya, produk lanjutan dari komoditas yang dijajakan selalu siap menunggu giliran memasuki pasar. Setelah itu, dipersiapkan yang lainnya lagi, begitu seterusnya sampai sang produsen kehabisan nafas tenggelam dalam samudera konsumsi kepatuhan sebagaimana tuan yang mati kelelahan karena memerintah para budak terlalu lama.

Sepertinya, akhir dari era kolonialisme bukan hanya ditandai lahirnya kemerdekaan dan kedaulatan, tapi juga kebangkrutan nalar. Di masa penjajahan, para tuan saling menghormati satu sama lain, di alam kemerdekaan para budak mengagung-agungkan tuannya. Sebuah perkembangan aneh.

Obsesi Kelangsingan, Kanibalisme Minimalis?

Kesehatan, seperti kata Baudrillard, bukan lagi menjadi syarat wajib biologis, melainkan syarat mutlak sosial yang dihubungkan dengan status.  Permintaan kompulsif terhadap pelayanan medis, obat dan bedah yang hampir tanpa batas adalah nilai subrversif terhadap kesakralan hak akan kesehatan.

Pemujaan tubuh menjadi mitos utama dalam etika konsumsi. Meskipun kecantikan dan kelangsingan  tidak memiliki pertalian alami sedikit pun, karena kecantikan tidak mengenal gemuk atau kurus, berat atau ramping. Namun, dalam masyarakat konsumsi yang menjadikan kecantikan sebagai hak sekaligus kewajiban, menuntut bahwa kecantikan tidak bisa dipisahkan dengan kerampingan. Dunia mode tidak bisa bermain dengan pilihan gemuk atau kurus. Bahkan, dengan mengikuti logika fungsionalitas obyek atau kewibawaan diagram dalam ekonomi aljabar, kerempeng menjadi lebih baik sebagaimana profil para model dan mannequin.

Diet menjadi cara untuk memaknai tubuh sebagai ancaman, dan oleh karenanya perlu diawasi, dikurangi, disiksa demi tujuan estetis. Lebih dari sekedar janji mengendalikan hasrat, diet merupakan kesalahan fantastis terhadap prinsip masyarakat konsumsi, anti pembatasan. Obsesi kelangsingan menghuni kesadaran pengorbanan diri dimana masokisme juga tinggal di dalamnya.

Masokisme yang merupakan ekspresi dari sifat feminin yang menemukan kepuasan (seksual) dari menyakiti diri, atau dalam perspektif moral merupakan wujud dari rasa bersalah, menjadikan manusia selalu berada pada tuntutan membuktikan diri. Obsesi kelangsing adalah solusi, tubuh menjadi sarana pembebas rasa bersalah terhadap tuntutan nilai keuniversalan estetis.

Jika mati adalah batas tertepi pengorbanan diri, mempertahankan kesadaran untuk mati demi perjuangan eksistensial sebagaimana praktik kanibalisme pada beberapa spesies seperti buaya dan piranha, apakah merupakan puncak ekstremitas dari pengorbanan?, dan obsesi kelangsingan adalah bentuk minimalisnya?.

Bacaan : Konsumsi Objek Paling Indah: Tubuh – Jean P.Baudrillard, Kamus Psikoanalisis – Sigmund Freud

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

%d blogger menyukai ini: