Menjinakkan Penolakan

Sebagian orang beranggapan bahwa pengusaha, marketer, salesman sebagai orang yang ahli dalam menghadapi penolakan.  Kenyataan yang terjadi lebih rumit dari yang dibayangkan banyak orang. Menghadapi penolakan lebih dari sekedar upaya untuk mempertahankan diri agar tidak berkecil hati.

Jika kita berada dalam situasi penolakan kemudian membulatkan hati bertekad memeranginya, sama artinya dengan memutuskan berjalan di atas batu yang membuat kulit kaki bertambah tebal, kehilangan kepekaan. Penolakan sebaiknya bukan diperangi, tapi dirangkul, yaitu mengantisipasi, menghargai, menghormati, dan mengatasinya. Seakan, secara sadar, kita menginginkan penolakan tersebut muncul dan kita siap menghadapinya. Kebanyakan orang berpikir bahwa penolakan adalah pilihan, padahal ia adalah sikap yang tentunya sangat dipengaruhi oleh apa telah atau sedang kita lakukan.

Setelah memahami hakekat penolakan, maka menjinakkan penolakan bukan semata tentang kegigihan dalam berbinis, tapi tentang banyak hal, termasuk ber-amar ma’ruf nahimungkar. Insyaallah !.

Bacaan: Thomas L. Harrison, Misteri Insting Manusia

Uang dan Media Massa Menjalin Hubungan ‘Haram’ ?

Dalam kehidupan yang semakin komersial ditambah dengan kemunculan kekuatan media massa, istilah hubungan ‘haram’ berlaku untuk model atau metode yang digunakan untuk meraih kekuasaan.

Pierre Bourdieu mengatakan bahwa praktik hubungan ‘haram’ akan terjadi manakala kekuatan politik ekonomi bersatu dengan jurnalistik. Secara alami dan sah hubungan ini membuahkan kekuatan yang mampu mempengaruhi kebijakan arah politik. Konstruksi opini dan uang menjadikan mereka sebagai pihak yang ‘wajib’ diperhitungkan oleh siapa pun.  Sehingga, masih menurut Bourdieu, para intelektual semakin kehilangan derajat kemandiriannya, bahkan di arena yang mereka tempati sendiri.

Satu hal yang mungkin terabaikan dari pernyataan Pierre Bordieu, yaitu takaran atau sistem yang digunakan. Se-haram apa pun sebuah perilaku dipraktikkan sepanjang tidak bertentangan nilai-nilai yang melingkupinya (dalam hal ini adalah kapitalisme), maka selama itu pula tidak akan pernah ada yang mengharamkan. Jadi, permasalahan sesungguhnya bukan pada ada-tidaknya praktik hubungan ‘haram’, melainkan pada takaran yang digunakan.

Kaum Yang Tidak Beruntung

Sebagian (bahkan cukup banyak) dari karayawan yang disebabkan oleh berbagai faktor menjadikan mereka menderita ketidakberuntungan dan membutuhkan uluran tangan, khususnya dari para ‘penguasa’ dunia kerja.

Menurut Lester L. Bittel dan John W. Newstrom, ciri-ciri khusus kaum tak beruntung ini seperti :

  1. Mereka putus sekolah, umumnya hanya lulusan sekolah dasar dengan kemampuan tulis menulis pas-pasan dan pengetahuan umum sangat terbatas
  2. Memiliki riwayat pekerjaan yang kurang menggembirakan, umumnya mereka pekerja kasar
  3. Mereka sarat dengan masalah-masalah pribadi
  4. Selalu kebingungan mengelola penghasilan reguler
  5. Sering menghadapi kesulitan untuk bekerjasama dengan atasan atau rekan sejawat

Atas semua kesulitan tersebut mereka hanya bisa mengartikannya sebagai nasib yang tak dikehendaki, tidak lebih dari itu. Pandangan mereka semakin pemanen manakala kondisi kerja dan bisnis juga memandang ketidakberuntungan mereka sebagai hal biasa.

RACUN ‘KEMANDIRIAN’

Tampilnya sosok-sosok inspiratif seperti wirausahawan yang suskses setelah di PHK dari tempat kerjanya atau pengrajin rumahan yang berhasil menyulap sampah menjadi komoditas bernilai, seringkali diidentikkan dengan pribadi-pribadi mandiri yang tegar dan tangguh di tengah keterpurukan.

Arti kata “mandiri” dalam konteks kehidupan sosial kabur dan ilusif. Bisa dimaknai sebagai deklarasi kemerdekaan diri yang tidak (banyak) bergantung dengan yang lain, atau sebagai penyangkalan terhadap fakta alami bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain. Pemujaan terhadap sikap tegar, tangguh dan mandiri menjadikan pertanyaan: “berapa jumlah yang sukses dan berapa yang tetap atau lebih terpuruk?, mengapa keterpurukan sering diwariskan?,  dan mengapa sebagian terpuruk dan yang lain tidak?” terlupakan.

Ketidakingintahuan atau kemasabodohan tidak sengaja ini tidak hanya mengaburkan permasalahan yang sesungguhnya, tapi juga menekuk kemestian dan akal sehat. Demi sepenggal kata ‘mandiri’, mereka bukannya sibuk mencari jawaban mengapa mereka bisa terpuruk, tapi justru mengantri untuk dikorbankan. Sebuah pilihan luhur sekaligus menyedihkan.

Seni Membunuh Waktu Dibalik Pemujaan Kemudaan

Kemajuan ilmu kedokteran dalam melawan proses penuaan (aging) menuai efek yang jangkauannya melampaui habitat kompetensinya. Sebagian positif, sebagian negatif, sebagian nyata dan sebagian tidak kentara, yang pasti semuanya memiliki impilkasi-implikasi terhadap riset perpanjangan usia.

Di satu sisi ada anggapan umum, setidaknya sampai saat ini, bahwa batas rata-rata usia produktif adalah 60 atau 65 tahun. Di sisi lain terdapat fakta lansia yang berusia 70 tahun bahkan lebih, terbukti masih produktif sehingga keputusan memensiunkan pekerja pada usia 60 atau 65 tahun bukan lagi menjadi satu-satunya pilihan. Efek turunan yang juga menuntut kajian para pengambil keputusan adalah bertambahnya rentang regenerasi status keprofesian, dan kondisi ini akan semakin menekan manakala para lansia secara sadar dan terencana berupaya mempertahankan posisinya. Berkah lain yang mungkin luput dari pengamatan umum adalah terbukanya kesempatan bagi anak-anak muda menikmati limpahan cinta dan kasih sayang dari para orang tua dan generasi di atasnya lagi.

Pemujaan terhadap kemudaan pada dasarnya merupakan manifestasi hasrat mempertahankan eksistensi, menjauhi ketiadaan atau kematian. Dengan memanfaatkan sedikit keterampilan teknis seperti mengenakan busana ketat, blue jeans, semir rambut, kaca mata hitam serta ikon-ikon keremajaan lainnya, mereka yang telah berumur dapat dengan mudah memuaskan hasrat ini. Namun, tanpa mengerti makna tujuan hidup, ekspresi kemudaan faktual atau artifisial dengan efek nyata atau tidak kentara, manfaat atau sia-sia, disyukuri atau disesali, dapat dipastikan hanyalah seni membunuh waktu.

Motiv Keuntungan, Kejijikan dan Kehormatan

Motiv keuntungan bagi siapa saja sama artinya, yaitu dorongan mendapatkan manfaat.  Namun, ketika sebagian besar masyarakat harus merasa puas dengan perolehan keuntungan atau manfaat ala kadarnya sementara sejumlah kecil orang menikmati keuntungan berlimpah ruah, maka cara memaknai motiv maupun keuntungan menjadi tidak sederhana.

Max Weber mengatakan bahwa teori politik kuno tidak menyukai motiv keuntungan. Dalam kelas masyarakat atas yang santai (pada zaman itu) terdapat kejijikan terhadap perdagangan dan para pedagang.  Faktor lain yang juga ikut berperan, masih menurut Weber, adalah sangat bervariasinya perbedaan-perbedaan yang membagi populasi ke dalam kelas turun temurun.

Di jaman modern, tepatnya ketika kaum borjuis yaitu para saudagar dan pengrajin yang awalnya sama sekali tidak tampak sebagai satu kelas, menurut Peter L. Berger, mereka menuntut persamaan hukum sehingga hubungan individu dalam tatanan previlese tidak lagi ditentukan berdasarkan keturunan atau kebaikan raja, melainkan ditentukan oleh peranan keberhasilannya dalam proses produksi. Bagi kaum aristokrat, kemunculan kaum borjuis dianggap terlalu vulgar, dimana kesuksesan dalam memperoleh uang harus diperhitungkan sama halnya keturunan ningrat , kehormatan pribadi serta kedekatan dengan tahta.

Dianggap menjijikkan atau layak dihormati tak akan mengubah kenyataan bahwa keuntungan hanyalah selisih antara pengorbanan dan perolehan, tidak berhubungan dengan kejijikan maupun kehormatan. Seberapa besar kandungan alam kebohongan sehingga makna hal-hal simbolis menjadi lebih esensial dari yang semestinya, itulah pokok masalahnya.

Bacaan : Stainlav Andreski – Wax Weber: Kapitalisme, Birokrasi dan Agama, Peter L. Berger – Revolusi Kapitalis

 

Ternyata, Kita Hidup Hanya 2,2 Jam

Hidup adalah waktu yang diencerkan dan manusia adalah partikel terlarut yang tak berdaya. Ketika dikatakan “usianya sudah 60 tahun”, maka yang dimaksudkan bukan banyaknya angka 60, tapi tentang hadirnya gejala ketuaan, tanda-tanda semakin dekatnya dengan ajal.

Andai, berkat kemajuan teknologi kesehatan serta meningkatnya kualitas kesejahteraan, umur rata-rata manusia bisa mencapai 90 tahun atau lebih, jika dikonversi berdasarkan dimensi waktu QS 32: 5 (“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”), maka rata-rata masa hidup manusia setara dengan 2,2 jam.

Sama seperti usia, masalah utama manusia bukan  tentang singkatnya hidup (hanya 2,2  jam), tapi tentang kemasabodohannya.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: