Uang dan Media Massa Menjalin Hubungan ‘Haram’ ?

Dalam kehidupan yang semakin komersial ditambah dengan kemunculan kekuatan media massa, istilah hubungan ‘haram’ tidak lagi relevan jika hanya dikaitkan dengan pelanggaran norma kesusilaan. Karena, saat ini istilah tersebut juga berlaku untuk model atau metode meraih kekuasaan.

Menurut Pierre Bourdieu praktik hubungan ‘haram’ itu akan terjadi manakala kekuatan politik ekonomi bersatu dengan jurnalistik. Pelakunya secara alami dan sah akan lebih mempunyai kekuatan dalam menentukan kebijakan arah politik. Lewat kekuatan opini dan uang mereka menjadi pihak yang ‘wajib’ diperhitungkan oleh siapa pun.  Sehingga, masih menurut Bourdieu, para intelektual semakin kehilangan derajat kemandiriannya, bahkan di arena yang mereka tempati sendiri.

Pierre Borudieu mungkin lupa bahwa se-haram apa pun sebuah perilaku dipraktikkan sepanjang tidak bertentangan sistem yang melingkupinya (dalam hal ini sistem kapitalisme), maka selama itu pula tidak akan pernah di-’haram’-kan. Jadi, permasalahan sesungguhnya bukan pada ada-tidaknya hubungan ‘haram’, melainkan pada takaran yang digunakan.

Kaum Yang Tidak Beruntung

Sebagian (bahkan cukup banyak) dari karayawan yang disebabkan oleh berbagai faktor menjadikan mereka menderita ketidakberuntungan dan membutuhkan uluran tangan, khususnya dari para ‘penguasa’ dunia kerja.

Menurut Lester L. Bittel dan John W. Newstrom, ciri-ciri khusus kaum tak beruntung ini seperti :

  1. Mereka putus sekolah, umumnya hanya lulusan sekolah dasar dengan kemampuan tulis menulis pas-pasan dan pengetahuan umum sangat terbatas
  2. Memiliki riwayat pekerjaan yang kurang menggembirakan, umumnya mereka pekerja kasar
  3. Mereka sarat dengan masalah-masalah pribadi
  4. Selalu kebingungan mengelola penghasilan reguler
  5. Sering menghadapi kesulitan untuk bekerjasama dengan atasan atau rekan sejawat

Atas semua kesulitan tersebut mereka hanya bisa mengartikannya sebagai nasib yang tak dikehendaki, tidak lebih dari itu. Pandangan mereka semakin pemanen manakala kondisi kerja dan bisnis juga memandang ketidakberuntungan mereka sebagai hal biasa.

RACUN ‘KEMANDIRIAN’

Tampilnya sosok-sosok inspiratif seperti wirausahawan suskses setelah di PHK dari tempat kerjanya atau pengrajin yang berhasil mengubah sampah menjadi komoditas bernilai ekonomis, seringkali diidentikkan dengan pribadi-pribadi mandiri yang tegar dan tangguh di tengah keterpurukan.

Arti kata “mandiri” dalam konteks kehidupan sosial kabur dan ilusif. Bisa dimaknai sebagai deklarasi kemerdekaan diri yang tidak (banyak) bergantung dengan yang lain, atau sebagai penyangkalan terhadap fakta alami bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain. Pengagungan over dosis terhadap sikap tegar, tangguh dan mandiri menjadikan pertanyaan seperti : “berapa jumlah orang-orang seperti mereka yang sukses dan berapa yang tetap atau lebih terpuruk?, mengapa keterpurukan menjerat secara turun temurun?, dan mengapa sebagian terpuruk dan yang lain tidak?” terlupakan. Selubung ketidakingintahuan atau kemasabodohan tidak sengaja ini menjadikan akar permasalahan yang sesungguhnya tak teramati.

Racun ‘kemandirian’ membuat kemestian dan akal sehat tumpul. Dalam kondisi terpuruk, mereka bukannya bahu-membahu mencari biang keterpurukkan, tapi malah berlomba-lomba membuktikan diri bahwa mereka tegar, tangguh dan mandiri. Sebuah pilihan luhur yang menyedihkan.

Seni Membunuh Waktu Dibalik Pemujaan Kemudaan

Kemajuan ilmu kedokteran dalam melawan proses penuaan (aging) menuai efek yang jangkauannya melampaui habitat kompetensinya. Sebagian positif, sebagian negatif, sebagian nyata dan sebagian tidak kentara, yang pasti semuanya memiliki impilkasi-implikasi terhadap riset perpanjangan usia.

Di satu sisi ada anggapan umum, setidaknya sampai saat ini, bahwa batas rata-rata usia produktif adalah 60 atau 65 tahun. Di sisi lain terdapat fakta lansia yang berusia 70 tahun bahkan lebih, terbukti masih produktif sehingga keputusan memensiunkan pekerja pada usia 60 atau 65 tahun bukan lagi menjadi satu-satunya pilihan. Efek turunan yang juga menuntut kajian para pengambil keputusan adalah bertambahnya rentang regenerasi status keprofesian, dan kondisi ini akan semakin menekan manakala para lansia secara sadar dan terencana berupaya mempertahankan posisinya. Berkah lain yang mungkin luput dari pengamatan umum adalah terbukanya kesempatan bagi anak-anak muda menikmati limpahan cinta dan kasih sayang dari para orang tua dan generasi di atasnya lagi.

Pemujaan terhadap kemudaan pada dasarnya merupakan manifestasi hasrat mempertahankan eksistensi, menjauhi ketiadaan atau kematian. Dengan memanfaatkan sedikit keterampilan teknis seperti mengenakan busana ketat, blue jeans, semir rambut, kaca mata hitam serta ikon-ikon keremajaan lainnya, mereka yang telah berumur dapat dengan mudah memuaskan hasrat ini. Namun, tanpa mengerti makna tujuan hidup, ekspresi kemudaan faktual atau artifisial dengan efek nyata atau tidak kentara, manfaat atau sia-sia, disyukuri atau disesali, dapat dipastikan hanyalah seni membunuh waktu.

Motiv Keuntungan, Kejijikan dan Kehormatan

Motiv keuntungan bagi siapa saja sama artinya, yaitu dorongan mendapatkan manfaat.  Namun, ketika sebagian besar masyarakat harus merasa puas dengan perolehan keuntungan atau manfaat ala kadarnya sementara sejumlah kecil orang menikmati keuntungan berlimpah ruah, maka cara memaknai motiv maupun keuntungan menjadi tidak sederhana.

Max Weber mengatakan bahwa teori politik kuno tidak menyukai motiv keuntungan. Dalam kelas masyarakat atas yang santai (pada zaman itu) terdapat kejijikan terhadap perdagangan dan para pedagang.  Faktor lain yang juga ikut berperan, masih menurut Weber, adalah sangat bervariasinya perbedaan-perbedaan yang membagi populasi ke dalam kelas turun temurun.

Di jaman modern, tepatnya ketika kaum borjuis yaitu para saudagar dan pengrajin yang awalnya sama sekali tidak tampak sebagai satu kelas, menurut Peter L. Berger, mereka menuntut persamaan hukum sehingga hubungan individu dalam tatanan previlese tidak lagi ditentukan berdasarkan keturunan atau kebaikan raja, melainkan ditentukan oleh peranan keberhasilannya dalam proses produksi. Bagi kaum aristokrat, kemunculan kaum borjuis dianggap terlalu vulgar, dimana kesuksesan dalam memperoleh uang harus diperhitungkan sama halnya keturunan ningrat , kehormatan pribadi serta kedekatan dengan tahta.

Dianggap menjijikkan atau layak dihormati tak akan mengubah kenyataan bahwa keuntungan hanyalah selisih antara pengorbanan dan perolehan, tidak berhubungan dengan kejijikan maupun kehormatan. Seberapa besar kandungan alam kebohongan sehingga makna hal-hal simbolis menjadi lebih esensial dari yang semestinya, itulah pokok masalahnya.

Bacaan : Stainlav Andreski – Wax Weber: Kapitalisme, Birokrasi dan Agama, Peter L. Berger – Revolusi Kapitalis

 

Ternyata, Kita Hidup Hanya 2,2 Jam

Hidup adalah waktu yang diencerkan dan manusia adalah partikel terlarut yang tak berdaya. Ketika dikatakan “usianya sudah 60 tahun”, maka yang dimaksudkan bukan banyaknya angka 60, tapi tentang hadirnya gejala ketuaan, tanda-tanda semakin dekatnya dengan ajal.

Andai, berkat kemajuan teknologi kesehatan serta meningkatnya kualitas kesejahteraan, umur rata-rata manusia bisa mencapai 90 tahun atau lebih, jika dikonversi berdasarkan dimensi waktu QS 32: 5 (“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”), maka rata-rata masa hidup manusia setara dengan 2,2 jam.

Sama seperti usia, masalah utama manusia bukan  tentang singkatnya hidup (hanya 2,2  jam), tapi tentang kemasabodohannya.

Usia 40 dan Kesegeraan Yang Berlalu

Ada apa dengan usia 40 tahun?. Satu-satunya ayat yang secara spesifik menyebut usia empat puluh tahun adalah QS 46 ayat 15:

“….Apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Untuk mendapatkan penjelasan secara benar dan mendalam perlu rujukan kitab tafsir, namun satu hal yang pasti ayat tersebut berbicara tentang waktu. Saat ini, waktu sepertinya tidak lagi dipandang sebagai sarana atau modal, tapi dianggap sebagai komoditas yang layak diperjual belikan. Mie instan, peralatan masak elektronik, jasa laundry dan belanja online, tidak hanya menawarkan barang atau jasa berkualitas dengan harga efisien, tapi tanpa diungkapkan juga menjajakan “waktu luang”, waktu yang bisa membebaskan para konsumen dari berbagai tekanan keharusan. Menonton TV, membaca buku, jalan-jalan ke mall atau nongkrong di cafe, bukan hanya mengkonsumsi informasi, pengetahuan, suasana serta wisata kuliner, melainkan juga melahap habis semua waktu senggang. Tak ada keraguan jika pengorbanan ini mendapatkan hasil yang sepadan berupa kemudahan, keleluasaan, kesantaian dan kesenangan. Namun juga tidak bisa disangkal bersamanya jatah hidup juga ikut menyusut.

Hanya dengan menyegerakan perintahNYa sebagaimana tak pernah tertundanya nikmat nafas, oksigen, dan detak jantung, setiap detik bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana bila sudah 40 tahun berlalu, do’a diatas menjadi jawabannya. Insyaallah

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ – just an ordinary person

%d blogger menyukai ini: