Cermin Kemuliaan dan Perjanjian dengan Setan

Sebuah film bisu tahun 30-an yang berjudul Mahasiswa Praha, bercerita  tentang seorang mahasiswa miskin yang ambisius yang tak sabar mengarungi kehidupan. Suatu ketika ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang wanita, namun tak mungkin bisa dimilikinya karena kaya. Kemiskinan merampas segalanya, termasuk ambisi cintanya. Ia pun memutuskan membuat perjanjian dengan setan. Cermin dalam kamarnya tak lagi menampakkan salinan dirinya, tapi berubah menjadi tumpukan emas.

Cermin itu membuatnya melayang dari kesuksesan yang satu ke kesuksesan lainnya,. Sampai kemudian salinan dirinya dalam cermin yang dijual kepada setan itu merasuki jiwanya. Ia bukan hanya bergantung pada cermin yang selalu dibawanya kemana-mana, tapi menjadikannya sebagai kehidupan yang sebenarnya.

Kini, entah hasil perjanjian dengan setan atau karena gangguan kepribadian, cermin-cermin kemuliaan itu menjadi komoditas. Setiap orang bisa memuaskan kepalsuan, baik lewat kemakmuran simbolis, permainan angka statistik, kebenaran fiksi, hasutan media, maupun narkoba. Kaburnya garis pemisah antara yang nyata dan maya, sakral dan profan, asketis dan haus darah, menjadikan kejernihan pikiran terkontaminasi sebagaimana iklan yang ikut ambil bagian cerita sinetron.

Bacaan : Tentang Alienasi Kontemporer atau Akhir Perjanjian dengan Setan (Jean P. Badrillard, Masyarakat Konsumsi)

Arwah Romusha (masih) Bergentayangan dalam Dunia Kerja?

Romusha adalah sejarah kelam ketenaga-kerjaan Indonesia. Untuk membangun kubu pertahanan, jalan raya, rel kereta api, jembatan, dan lapangan udara, Jepang memobilisasi tenaga kerja atau dikenal sebagai romusha. Program yang berlangsung mulai tahun 1942 sampai 1945 ini pada mulanya bersifat sukarela, kemudian berubah menjadi paksaan. Tercatat empat sampai sepuluh juta tenaga kerja romusha dikirim ke luar Jawa, bahkan ke luar negeri, seperti Burma, Malaysia, Thailand, Indo China dengan perlakuan yang sangat buruk, sehingga banyak yang meninggal.

Jika romusha dikenang sebagai bentuk ketidak-adilan blak-blakan dalam dunia kerja, bagaimana dengan soft romusha versi terkini?. Ketidak-adilan dalam bentuk terang-terangan atau terselubung, jaman romusha atau saat ini, bermuara pada satu pertanyaan: “mengapa memperlakukan tenaga kerja dengan adil?”. Secara retoris, Peter Drucker beralasan bahwa mereka bukan karyawan, mereka adalah manusia, layak mendapatkan penghargaan dan kebanggaan. Alasan praktisnya, keadilan meningkatkan kesadaran karyawan terhadap hukum, yang bukan hanya berguna untuk melindungi diri dari perlakuan sewenang-wenangan, tapi juga berkorelasi dengan komitmen karyawan untuk meningkatkan kualitas kepuasan terhadap organisasi dan pekerjaan yang pada gilirannya bermanfaat bagi organisasi atau pengusaha.

Kalau mau jujur, mustahil berharap keadilan dalam dunia kerja, karena memang tidak dirancang untuk itu. Dunia kerja adalah arena pergulatan kepentingan, siapa lebih membutuhkan siapa. Apa yang disebut Dessler sebagai “Keadilan Prosedural” dimana semua pekerja berhak mendapatkan perlakuan sama, atau “Keadilan Distributif” dimana setiap pekerja mendapatkan imbalan sesuai tanggungjawabnya atau ketetapan yang berlaku, tidak akan pernah beranjak jauh dari prinsip kapitalisme bahwa keadilan tidak memilki dasar rasionalitas. Pemastian proses seleksi, jenjang karier, tugas, jam kerja dan upah, hanya upaya menciptakan fairness (kewajaran), bukan justice (keadilan).

Tanpa bermaksud meng-generalisasi, terdapat sejumlah fakta bahwa kebebasan bekerja atau memilih pekerjaan pada kenyataanya tidaklah bebas dalam arti sesungguhnya. Dunia usaha (khususnya industri) adalah penguasanya, bahkan keberkuasaannya ditunjukkan ketika calon tenaga kerja masih duduk di bangku sekolah. Masa tunggu bekerja lulusan (apa pun jenis atau tingkat pendidikannya), berbanding lurus dengan tingkat ketundukan lembaga pendidikan terhadap kemauan dunia usaha. Disisi lain, istilah peningkatan kesejahteraan karyawan dimaknai dunia usaha secara minimalis, sekedar penyesuaian upah dengan biaya hidup sehari-hari, bukan menambah kesejahteraan.

Rasa terkuasai ini mengingatkan jaman romusha, seakan arwahnya hadir bergentayangan dalam dunia kerja membuat tenaga kerja tidak memiliki banyak pilihan, membendakan diri menjadi alat produksi atau terus berjuang meraih ke-bermartabat-an, dan bersabar, Insyaallah!.

Lupa, Kesleo Lidah dan Keceplosan

Lupa (forgetting) adalah bagian dari ingatan yang tidak hilang, hanya ditekan. Jejak aslinya masih ada, tapi terisolasi. Materi yang dilupakan tersebut tidak bisa melakukan kontak dengan proses intelektual lainnya, berada di alam tidak sadar sehingga tidak bisa diakses oleh kesadaran.

Anggapan bahwa waktu membuat ingatan tidak pasti dan kabur tidak memiliki kaitan. Jejak memori yang tertekan bisa diverifikasi dan tidak mengalami perubahan apa pun, sekali pun dalam periode yang lama. Alam tak sadar sama sekali tidak mengenal batas waktu. Motif yang tidak diketahui atau tidak diakui, termasuk keinginan tandingan, menjadi penekan materi ingatan tersebut. Dalam semua kasus, ketika lupa ditemukan motif perasaan tidak senang terhadap yang dilupakan. Lupa tidak akan terjadi untuk sesuatu yang diartikan sebagai hal penting, kecuali adanya gangguan mental.

Adapun kesleo lidah (slip of tongue) merupakan gangguan fungsi motorik. Penyebabnya adanya intensi untuk mengatakan sesuatu yang telah terbentuk sebelumnya dalam pikiran, tapi tak mampu diekspresikan. Faktor komponen lain dari pembicaraan yang sama seperti suara awal, gema, makna lain dalam kalimat, konteks yang berbeda dari yang ingin diucapkan, juga berperan terjadinya selip lidah.

Lalu, bagaimana dengan keceplosan, apakah merupakan proses yang tak jauh berbeda dengan kesleo lidah ?. logikanya ya.

Bacaan : Sigmund Freud, Kamus Psikoanalisis

Minoritas Hening Minoritas Dominan

Dibalik opini mayoritas yang menindas tersembunyi kegigihan membisu pandangan minoritas.

Lewat spiral of silence, Elisabeth Noelle-Neumann menjelaskan bahwa meskipun ancaman  isolasi membuat kelompok minoritas hening, namun sebagaimana dunia yang fana, selalu terdapat perkecualian dalam setiap peraturan atau teori. Terkadang –masih menurut Neumann– minoritas yang diam mulai bangkit. Kelompok yang disebut hard core ini tetap berada pada ujung akhir dari proses spiral keheningan tanpa mempedulikan ancaman isolasi. Mereka tahu ada harga yang harus dibayar bagi sebuah keasertifan. Para penyimpang ini siap berkonfrontasi.

Di Panggung sejarah, orang-orang kreatif selalu dalam kelompok kecil. Sementara sebagian besar lainnya hanyalah pengekor, tidak pernah melaksanakan gagasannya sendiri. Kelompok kecil yang disebut Arnold Toynbee sebagai minoritas dominan ini mampu meraih puncak kepemimpinannya bersama semua kenikmatan kekuasaan, kemewahan dan penghormatan. Kemudian kehilangan keseimbangan spiritualnya sebelum akhirnya runtuh.

Nilai akhir manusia bukan ujung dari  mayoritas atau minoritas, merdeka atau terjajah, domba atau serigala, serangga atau pahlawan, tapi pada rentang kendali waktu. Tepatnya, pada ketaklukan segala yang telahir dan yang tersembunyi terhadap ketetapanNya sebagaimana yang dilakukan para Nabi.  Insyaallah.

Parasitisme, Ideologi, dan Pemikiran

Organisme seperti virus, bakteri, cacing, amuba adalah parasit yang hanya bisa menginfeksi  jasad atau tubuh. Sedangkan pemikiran hanya bisa diinfeksi oleh ‘parasit’ ideologis. Ketika tubuh terinfeksi, masing-masing parasit menunjukkan gejala klinis dan kebutuhan pengobatan yang tidak sama. Demikian pula halnya dengan ideologi, ketika merasuk ke dalam pemikiran, masing-masing menonjolkan nilai, tujuan, dan metode yang menuntut sikap berbeda.

Anggapan umum bahwa parasit merugikan tidak selamanya benar.  Fakta menunjukkan adanya parasit yang berhubungan secara simbiosis mutualisme, dimana kedua organisme mendapatkan keuntungan dan tidak dapat hidup terpisah, misalnya bakteri pembusuk makanan yang ada dalam usus besar. Lalu, adakah ideologi yang seperti itu, yang menguntungkan dan —sesuai firrah— manusia tidak mungkin dipisahkan dengannya?.

Untuk memahaminya tidaklah mudah mengingat ideologi bukan sesuatu yang konkret. Hanya lewat pemikiran cemerlang hakekat sebuah ideologi bisa dipahami. Apakah ia hanya berorientasi pada tujuan-tujuan dangkal seperti materi, manfaat, kesenangan dan kepuasan, dan tidak mengajak berpikir tentang kematian dan kehidupan sesudahnya kecuali sedikit?.  Atau ideologi tersebut secara gamblang, holistik dan utuh menjelaskan tentang fitrah manusia, hakekat kehidupan dan mendorong manusia berupaya memperoleh keselamatan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat?. Semua menuntut pemikiran!.

Seberapa Logis Pernyataan Esok Matahari akan terbit?

Tak ada yang meragukan jika dikatakan esok matahari akan terbit, karena buktinya memang begitu. Namun, pernahkah terpikir bahwa hal itu tidak faktual?

Hukum fisika yang berlaku, termasuk fakta matahari terbit setiap hari, tidak secara logis mengharuskan hukum tersebut berlaku di masa akan datang. “Esok matahari akan terbit” hanyalah fakta psikologis, karena faktanya tidak ada (belum terjadi). Pembenaran tersebut hanya didasarkan pada apa yang sudah (biasa) terjadi, yaitu matahari terbit setiap hari. Seekor ayam yang selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu setiap jam sembilan pagi selalu diberi makan, pada hari raya menemukan fakta mengerikan. Si ayam bukannya diberi makan tapi disembelih. Menurut Karl Popper, sebelum problem logis terpecahkan, seluruh ilmu, betapa pun konsistennya, harus dianggap melayang-layang tanpa dasar yang kukuh.Teori ilmiah tidak didasarkan atau dikukuhkan oleh “fakta”, melainkan dirontokkan olehnya.

Jika memang demikian kebenarannya, seberapa logis meyakini bahwa esok kita akan (tetap) hidup?. Berpikir seolah esok akan mati, akan mendorong untuk selalu produktif (khususnya dalam memanfaatkan sumber daya waktu untuk urusan dunia-akhirat), daripada membangun optimisme semu.

Bacaan : Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl R. Popper

Menjinakkan Penolakan

Sebagian orang beranggapan bahwa pengusaha, marketer, salesman sebagai orang yang ahli dalam menghadapi penolakan.  Kenyataan yang terjadi lebih rumit dari yang dibayangkan banyak orang. Menghadapi penolakan lebih dari sekedar upaya untuk mempertahankan diri agar tidak berkecil hati.

Jika kita berada dalam situasi penolakan kemudian membulatkan hati bertekad memeranginya, sama artinya dengan memutuskan berjalan di atas batu yang membuat kulit kaki bertambah tebal, kehilangan kepekaan. Penolakan sebaiknya bukan diperangi, tapi dirangkul, yaitu mengantisipasi, menghargai, menghormati, dan mengatasinya. Seakan, secara sadar, kita menginginkan penolakan tersebut muncul dan kita siap menghadapinya. Kebanyakan orang berpikir bahwa penolakan adalah pilihan, padahal ia adalah sikap yang tentunya sangat dipengaruhi oleh apa telah atau sedang kita lakukan.

Setelah memahami hakekat penolakan, maka menjinakkan penolakan bukan semata tentang kegigihan dalam berbinis, tapi tentang banyak hal, termasuk ber-amar ma’ruf nahimungkar. Insyaallah !.

Bacaan: Thomas L. Harrison, Misteri Insting Manusia

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

%d blogger menyukai ini: