Yang Ter-eksekusi dan Yang Terampas

Maut menjadi hal eviden dalam hukuman mati. Bila eksekusi gagal, maka akan diulangi lagi. Meskipun dengan kejengkelan, terhukum harus berharap alat eksekusi bekerja dengan baik. Ini benar dalam satu arti. Dalam arti lain, juga harus diakui bahwa semua rahasia cara kerja yang baik ada disitu. Terhukum, secara moral, berkepentingan agar semua berjalan tanpa halangan. Sebelum bertemu ajal, ada kalanya terhukum berharap diizinkan naik ke mimbar sehingga dapat menengadah ke langit yang luas dimana angan-angan dapat tertambat. Akan tetapi, eksekusi dilaksanakan di atas tanah, cukup dengan isyarat algojo yang malu-malu, alat pembunuh itu menghancurkan semuanya dengan tepat sekali.

Menjelang waktu eksekusi, untuk pertama kali setelah sekian lama terlupakan, terhukum teringat ibunya. Ia baru mengerti mengapa di penghujung hidup ibunya memilih memiliki pasangan, mengapa ibunya bermain untuk mengawali hidup kembali. Sementara di panti wreda, dimana hidup bungkam, senja menjelma sebagai suatu hiburan yang menyedihkan. Untuk pertama kalinya juga, ya untuk pertama kalinya, hatinya terbuka lebar bagi ketidakpedulian alam yang ramah dan dermawan. Kini, segalanya telah selesai, dan tidak ada kesepian lagi. Lega. Sempat terlintas pikiran konyol, pada hari pelaksanaan hukuman mati akan banyak orang memberikan penghormatan berupa teriakan dan cacian.

Kalau dipikirkan baik-baik, direnungkan dengan tenang, ada yang tidak sempurna pada alat untuk mengeksekusi itu, yaitu tidak adanya kesempatan bagi terhukum, sama sekali tidak ada. Kematian diputuskan begitu ringkas untuk selamanya. Tapi, kalau dipikirkan sekali lagi, kesempatan tidak lenyap karena putusan hakim, isyarat algojo, atau terjangan logam tajam, melainkan oleh diri manusia sendiri.

Sejak lahir setiap diri adalah ‘terpidana mati’. Habisnya waktu karena uzur atau dieksekusi, di atas tanah atau di tempat tidur, hanyalah varian cara maut menampakkan diri. Yang jelas, di antara fitrahnya yang definitif, manusia selalu mendeskripsikan diri sebagai penciptaan yang belum selesai, dan oleh karenanya –secara diam-diam– merasa berhak menjadi bagian dari Penciptanya, termasuk menghabiskan waktu menurut caranya sendiri. Al Qur’an mengingatkan : “Namun, mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka?. Bahkan, hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS 6:43)

Bacaan : Orang Asing – Albert Camus

Iklan

Pengorbanan Aneh Para Pengabdi Sejarah

Menghuni sejarah berarti mendiami lintasan waktu yang tidak hanya diselubungi kebanggaan atau kejayaan yang dielu-elukan, tapi juga kebungkaman tentang biaya-biaya manusiawi berupa tumpukan ribuan bahkan jutaan manusia yang dikorbankan. Harga tinggi pengorbanan di tingkat makna bukan kesengsaraan, tapi penyangkalan.

Ketika melakukan perjalanan ke reservasi bangsa Indian di Amerika untuk menemukan sumber apati tragis yang diterima anak-anak Indian dengan diam-diam, Erikson menemukan fakta adanya dua kebenaran: kebenaran kulit putih dan kebenaran Indian. Di atas tanah yang dijatahkan oleh pemerintah, orang-orang Indian meminta agar pemerintah melarang semua orang kulit putih berburu dan tinggal di wilayah teritorial mereka. Erikson meragukan harapan dibalik permintaan itu bisa terwujud jika yang dimaksud adalah menemukan sesuatu yang menyerupai gambaran  “Indian sejati”. Seandainya, masih menurut Erikson, jutaan banteng dan emas dikembalikan (seperti dahulu kala), orang-orang Indian tidak akan bisa melupakan kebiasaan dependensinya yang telah menciptakan sebuah masyarakat yang beradaptasi dengan dunia masa kini yang mendikte sang penakluk maupun yang di taklukkan.

Penyangkalan kronis terhadap kehidupan ekonomi dijelaskan Shutt bahwa walaupun performa ekonomi terus mengalami penurunan yang diindikasikan dengan meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan, semakin naiknya harga-harga dan memburuknya pelayanan publik, sebagian besar masyarakat tetap diam. Persepsi umum masyarakat terpancang pada anggapan bahwa situasi dan prospek ekonomi ke depan masih berada pada tahap yang bisa ditolelir, dan penyangkalan ini semakin menemukan pijakan manakala berbagai propaganda secara terus menerus manjanjikan perbaikan dalam jangka panjang.

Tidak cukup beternak keluguan, para pengabdi sejarah juga menyemai wabah kecemasan. Robertson menggambarkan adanya orang-orang yang tanpa memedulikan berada dalam kondisi dominan maupun tergantung, menolak dekolonisasi serta kemerdekaan. Dominasi atau ketergantungan menjadi tumpuan mereka memperoleh rasa aman. Mereka adalah orang-orang yang penghidupan, kesejahteraan dan identitasnya bergantung pada bisnis atau keuangan, politik atau pemerintah. Lebih jauh Fromm mengatakan bahwa banyaknya orang kembali kepada agama untuk menemukan jawaban, bukan sebagai perwujudan iman, tetapi sekedar untuk melepaskan keraguan hebat yang melanda diri dan mencari rasa aman.

Camus melihat mereka yang membaktikan diri pada sejarah sama dengan membaktikan diri tidak pada apa pun dan pada gilirannya tidak ada apa pun. Sebuah pengorbanan aneh untuk hubungan yang aneh. Para pengabdi sejarah selalu menempatkan diri di batas ambang dan, menurut Al Qur’an, mereka (pasti) merugi. “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS 22: 11).

Bacaan : Alternatif Yang Sehat (James Robertson), Chilhood and Society (Erik H. Erikson), Pemberontak (Albert Camus ), Psikoanalisa dan Agama (Erich Fromm), Runtuhnya Kapitalisme (Harry Shutt)

Makna Jaya-Tumbangnya Tirani

Tubuh manusia dilengkapi mekanisme pertahanan yang disebut homeostatis. Sebuah proses penyesuaian yang harus segera dilakukan tubuh manusia untuk menjaga komposisi internal selalu dalam batas yang bisa diterima. Tak ubahnya untaian kalimat yang bisa berfungsi untuk memanjangkan atau meringkas cerita, proses homeostatis terikat siklus perputaran sehat-sakit, yang mengantarkan ke akhir cerita, mati.

Pergiliran yang sama juga terjadi dalam sejarah. Gerak sejarah menurut Spengler didasarkan atas kehidupan organis yang dikuasai oleh hukum siklus gerak lingkar sebagaimana perputaran waktu pagi, siang, sore, dan malam. Peradaban yang telah melewati puncak kebesarannya, akan kehilangan jiwa, gerak sejarahnya membeku, kemudian runtuh.

Difirmankan dalam QS 48: 2 bahwa ketetapan (sunatullah) sekali-kali tidak akan pernah berubah, termasuk  hukum kausalitas yang menjadi sebab dipergilirkannya kejayaan dan keruntuhan. Keberadaan proses homeostatis serta gerak sejarah  yang mengikuti siklus perputaran dengan mempergilirkan sehat-sakit tubuh, jaya-runtuh peradaban, juga berada dalam ketetapan ini. Oleh karenanya, jaya atau tumbangnya tirani tidak membuktikan apa-apa kecuali apa yang telah kita lakukan terhadapnya.

Tumbangnya tirani, baik atas nama do’a yang terkabul, saatnya kebatilan hancur, maupun buah dari perjuangan, tidak serta merta  bisa menjadi pembenar bahwa hidup kita dalam kebaikan. Sebaliknya, berada dalam penindasan tiran juga tidak selalu mengindikasikan adanya ketidak-baikan. Parameternya hanya terletak pada kadar ketaatan kita kepada Allah dan RasulNya, baik ketika jaya atau terpuruk, merdeka atau tertindas. InsyaAllah.

 

Eksekutif Menua, Dikemanakan?

Berada di puncak karier maupun di ‘puncak’ usia, para eksekutif menghadapi ancaman eksistensial yang tidak terlalu berbeda. Yang pertama dihantui decline, yang kedua dibayangi useless karena merasa ditolak atau tidak diperlukan. Harapannya sama, ingin tetap eksis dan produktif, setidaknya kelenyapan yang satu sebanding dengan kemunculan yang lainnya.
Jika merancang kebijakan untuk eksekutif puncak, terutama yang usianya kurang dari empat puluh tahun, cukup membuat gamang manajemen. Lebih membingungkan lagi memperlakukan eksekutif yang mendekati uzur. Selain memerlukan kecermatan dalam mengambil keputusan manajerial, manajemen juga berhadapan dengan tuntutan tanggung jawab moral. Masalah tidak akan beres hanya dengan mencari pengganti dan memensiunkan atau memberi mereka uang pesangon. Manajemen, pada organisasi level apa pun, tidak ingin dituduh berlaku sewenang-wenang atau melakukan tindakan diskriminatif usia, habis manis sepah dibuang.
Al Qarni dalam buku “Jangan Melampaui Batas” menceritakan, para raja bila melihat budak-budak mereka telah beruban akan membebaskannya. Drucker (The Frontiers of Management) menyarankan adanya kebijakan yang memenuhi harapan dan keharusan hukum untuk tetap mempertahankan eksekutif yang menua, dan keharusan demografis untuk menciptakan peluang promosional bagi orang-orang yang lebih muda. Yang lebih penting, mempertahankan agar perusahaan tetap sehat, sehingga yang tua maupun yang muda harus difokuskan pada kinerja, merasa tertantang, dan menjadi produktif.
Satu hal yang pasti, baik bertumpu pada rancangan kebijakan yang efektif maupun produktivitas kerja yang tinggi, tidak akan menghalangi kenyataan bahwa alasan untuk memperlakukan semua pekerja secara adil karena (seperti kata Drucker) mereka adalah manusia.
Hopefully always be productive!

Pecundang yang Tak 100%

Dalam “Cinderella Man”, kehidupan petinju profesional Jim Braddock dikisahkan sedang terpuruk menyusul gelombang depresi besar yang menghantam negaranya. Depresi yang bukan hanya mendera para pekerja pabrik, tapi juga membuat lulusan perguruan tinggi, tenaga-tenaga profesional, dan orang-orang yang menganggap dirinya kelas menengah, kehilangan pekerjaan. Wajah-wajah berkerut penuh keinginan, mencari pekerjaan kemana-mana dan tak menemukan satu pun. Lapar, hampa, tak berdaya, kalah. Dengan pakaian compang-camping yang berulang kali ditambal oleh jari-jari sabar istrinya disertai tiga anak lapar, Jim Braddock suka melihat foto diri dan istrinya yang mengenakan gaun pengantin dengan wajah berseri-seri merona. Satu-satunya benda yang masih membuatnya merasa sebagai pria beruntung, bukan orang yang 100% pecundang.

Manusia tak pernah 100% identik dengan dirinya sendiri. Manusia, tak tahu bahwa dirinya adalah makhluk yang menipu dirinya sendiri dan orang lain. Satre melukiskan gerak-gerik seorang pelayan yang menampakkan dirinya 100% adalah pelayan. Tapi fakta lain menunjukkan bahwa pelayan tersebut juga seorang pelaut. Kalau seseorang melarikan diri dari musuh kemudian mengatakan bahwa ia lari karena ia seorang pengecut, pada dasarnya ia juga sedang berbohong. Dia bebas memilih menjadi pahlawan, tidak 100% pengecut.

Dengan kesadaran manusia menciptakan dirinya. Seterpuruk apa pun seseorang jatuh dalam kekalahan, selalau tersedia topeng. Topeng kaku harga diri yang (harus diakui) tak cukup menutupi perasaan yang remuk.

Bacaan : Marc Cerasini – Cinderella Man, MAW Brouwer – Psikologi Fenomenologi

Totemisme Dibalik Gaji Besar Eksekutif

Para eksekutif banyak menghabiskan waktu mengelola orang dan membuat keputusan  tentang orang, dan memang begitulah seharusnya. Dihitung dengan cara apa pun, menurut Peter F. Drucker, skor rata-rata efektivitas keputusannya tidak lebih dari  0,333, dimana sepertiga keputusan benar, sepertiga efektif minimalis, dan sepertiga sisanya gagal total. Namun kelemahan ‘alami’ ini tidak terlalu mengusik dibanding gaji mereka. Tingginya disparitas gaji blue-collar (pekerja) dan white collar (ekskutif), menjadikannya tidak ada istilah yang cocok untuk menilainya selain ketidakadilan. Perasaan diperlakukan tidak adil ini, sebagaimana dikemukakan Drucker, bukan hanya mengusik serikat buruh dan pegawai biasa, tapi sudah menjalar sampai ke jajaran profesional dan manajer.

Jika ditelusuri, pengindetikan eksekutif dengan hak menerima gaji besar ini lebih dari sekedar ekspresi penghargaan terhadap tugas dan tanggugjawabnya, juga bukan bentuk penolakan terhadap doktrin egalitarianisme (hak kesederajatan), melainkan gairah yang terpancar dari hasrat mendapatkan perlindungan pada apa yang disebut hak kepemilikan. Sebuah hak sakral, yang keabsahannya bisa melahirkan hak untuk menguasai sumber daya alam secara individual maupun menerima perlakuan eksklusif berupa pemberian gaji yang besar. Demi menjaga kesakralannya, agar tidak ada yang mengutak-atik, selain menjaga jarak dengan doktrin kesedarajatan, komunitas eksekutif secara sadar dan terencana membangun kesadaran umum dunia kerja akan pentingnya ‘aturan’ untuk tidak mengatur gaji mereka. Sehingga akan terdengar janggal bila ada menejemen menetapkan upah minimum eksekutif sebagaimana yang berlaku umum pada buruh atau pekerja biasa.

Struktur kesadaran dalam meng-sakralkan hak kepemilikan serupa dengan kesadaran yang ada dalam totemisme. Totemisme dalam kamus psikoanalisa Sigmund Freud diterangkan sebagai kepercayaan akan binatang, tumbuhan, atau benda mati yang dijadikan simbol atau berperan sebagai pelindung kelompok. Menjadi kewajiban sakral untuk tidak membunuh (menghancurkan) binatang yang termasuk kategori totem.  Rasa terlindungi oleh ‘totem’ gaji besar bukan semata-mata disebabkan nilai nominal atau rasio keterjaminan taraf kehidupannya, tapi juga tentang adanya kenikmatan eksistensial dimana dengan jumlah mereka yang sedikit dihargai hampir setara atau bahkan melampaui total jumlah pekerja.

Bacaan : Peter F. Drucker – The Frontiers of  Management, Muhammad Baqir Ash Shadr – Buku Induk Ekonomi Islam, Sigmund Freud – Kamus PSikoanalisa.

Dahaga Ketidaktundukan di Telaga Pemberontakan

Ketika penindasan tumbuh subur di tanah di mana ketidakadilan menumpuk, kemalangan menjadi tanah air bersama dan menjadi satu-satunya kerajaan di dunia yang paling menepati janjinya. Di tengah praktik dominasi di antara kandang, pakan dan kotoran, ternak-ternak malang tak pernah mengerti bahwa kebajikan padang gembala telah takluk di bawah tekanan ketakutan anakronistis. Kekejaman dan kedengkian tak lagi berlalu-lalang dengan telanjang, karena mengenakan jubah penjaga keadilan.

Hanya telaga pemberontakan yang memahami dahaga ketidaktundukan. Dahaga yang harus diredakan, sekalipun di tanah pekuburan

  • Tidak setiap nilai memerlukan pemberontakan, tetapi setiap pemberontakan secara diam-diam meminta suatu nilai.
  • Pemberontakam adalah bagian diri yang ingin dihormati, diletakkan di atas apa pun, bahkan terhadap hidupnya sendiri
  • Dengan sikap all or nothing, pemberontak siap menerima kekalahan akhir, yaitu kematian. Lebih baik mati di atas kaki sendiri ketimbang hidup di atas pangkuan orang lain.
  • Jika pemberontak lebih menyukai resiko kematian daripada pengingkaran atas kebenaran-kebenaran yang ia pertahankan, itu disebabkan karena ia memandang hal ini lebih penting daripada dirinya
  • Seorang pemberontak menentang kebohongan sama baiknya dengan menantang dominasi
  • Pemberontak tidak hanya muncul karena mereka tertekan, tetapi juga disebabkan kesaksian atas orang lain yang menjadi korban penindasan
  • Pemberontak sama sekali tidak mencoba menaklukkan, tetapi cuma memaksa

Penindasan pada jaman dahulu maupun saat ini, lebih dari sekedar cerita tentang kebobrokan, kekejaman dan kedengkian, malainkan juga sejarah yang tampil dalam bentuknya yang murni.

Jika ternak-ternak malang bukan hanya kehilangan nyali, tapi memang tak pernah berniat meredakan dahaga ketidaktundukannya, lembaran-lembaran cerita tentang perlawanan bukan lagi percontohan, bukan pula sarana melampiasakn luapan bisu kekesalan, tetapi hanya selembar gambar, tidak lebih.

Selamat Menunaikan shalat Jum’at

Bacaan : Albert Camus, Pemberontak

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

%d blogger menyukai ini: