SECORET TAKDIR PALSU

Bertahtakan pesona ia datang mendekat, mendekap kemudian beringsut menjauh sambil menggenggam jiwa. Selain jiwa-jiwa merdeka yang tak takluk oleh intimidasi pesona, dapat dipastikan mati terkubur kekaguman. Berserah diri pada takdir palsu membuat diri banyak merindukan apa yang belum ada. Jiwa-jiwa gelisah sering menengadah ke langit berharap bisa terbang menggapai awan laksana cicak merindukan sayap.

Penulis berdarah Aborijin, Sally Morgan adalah salah satu pemilik jiwa tak tertaklukkan itu. Lewat buku “ My Place” ia menggenggam sepenggal harapan dibalik takdir palsu yang menimpa bangsanya. Hatinya selalu terusik oleh pertanyaan yang harus dijawabnya: “mengapa sepanjang hidupnya harus mengaku pada semua orang bahwa ia orang India sementara tanpa ada keraguan meyakini dirinya berdarah Aborijin?”. Jika terhadap khayalan masa kecilnya yang ingin menjadi seorang kulit putih atau menjadi anggota keluarga kulit putih, –meskipun dengan rasa malu– ia bisa memakluminya. Tidak demikian halnya terhadap rasa khawatirnya bahwa di Australia pada saatnya nanti tidak akan bisa ditemui anak-anak Aborijin yang berkulit hitam berambut ikal. Semua dari sedikit yang tersisa terancam sirna. Ia hanya ingin mengatakan, bagaimanapun juga ini tanah kami, benarkah tidak ada yang dapat kami berikan?

Secoret takdir palsu yang menyayat hati ini bisa menimpa siapa saja, termasuk bangsa kita. Sayangnya, kebanyakan bangsa memilih mendiami penjara kekinian, lebih disibukkan oleh pilihan maju atau tertinggal, takluk atau dominan, yang mana semua itu tak lebih ritme sesaat zaman. Sementara takdir sesungguhnya dari sebuah bangsa selalu setia menanti di ujung jalan yang dipilihnya.

Seulas Senyum Langit

Biarkanlah kupotong menit dalam kain waktuku itu, dan orang-orang meninggalkan sekuntum bunga diantara halaman-halaman buku, mengukung di situ…..

Kehidupan sangatlah singkat dan kehilangan waktu pribadi berarti dosa….

Kalau rasa was-was lagi-lagi mencekamku, itu berarti rasa jenak yang amat halus menggelincir di antara jari-jemariku seperti manik-manik air raksa.

Maka biarkan saja mereka yang mau membelakangi dunia.

Aku tidak berkeluh-kesah lantaran aku melihat bagaimana diriku lahir……

Maka, kapankah aku menjadi yang benar-benar lebih, ketimbang ketika aku menjadi dunia? Aku puas sekali sebelum sempat berhasrat.

Keabadian yang pernah kudambahkan ada disana.

Sekarang, yang aku harapkan bukan lagi menjadi bahagia, tetapi semata-mata menjadi sadar.

Seorang manusia merenung dan yang lain menggali pusaranya sendiri : bagaimana memisahkan mereka? Umat manusia dan keabsurdan mereka? Tetapi itulah senyuman langit.

Cahaya mengembang. Apakah itu berarti musim panas tidak lama lagi? Tetapi memang itulah mata dan suara dari mereka yang mesti dicintai.

Aku terikat pada dunia oleh semua tingkah lakuku, dan pada umat manusia oleh segenap rasa ibaku sekaligus rasa syukurku.

Ya, antara bagian luar dan bagian dalam dunia! Ah, aku tidak mau memilih, aku tidak suka orang memilih.

Cuplikan : Mati Dalam Jiwa – Albert Camus

Cara Tanpa Tujuan Bukanlah Pilihan Ideal Sistem Pendidikan

Dimana ada manusia disitu lahir kebudayaan dan peradaban, yang dalam perkembangannya ada yang bangkit, berkembang, kemudian merosot sebelum akhirnya hilang lenyap. Faktor yang paling berpengaruh dalam menjaga eksistensi sebuah bangsa lewat pelestarian budayanya adalah manusia. Dengan adanya sumber daya manusia yang berkemampuan bukan hanya bisa menjaga kelestariannya, tapi juga bisa mempertajam. Untuk mendapatkan semua itu tidak mungkin bisa diperoleh kecuali lewat pendidikan. Pertanyaannya, pendidikan yang bagaimana?.

Apa pun pilihan sistem pendidikannya, setiap produk sebuah proses pendidikan berupa pengetahuan atau keterampilan teknis, selalu dipertemukan dengan nilai kegunaan. Sehingga untuk memajukan sebuah bangsa sistem pendidikan berbasis manfaat praktis, sering kali menjadi pilihan yang dianggap paling menjanjikan. Namun, semangat mengejar ketertinggalan seringkali berjalan seiring dengan kegagalan memahami implikasi alami jangka panjang, kalau tidak bisa disebut mengabaikannya. Sebagai contoh, teknologi nuklir sebagai salah satu prestasi fenomenal sekaligus simbol supremasi ilmu pengetahuan, meskipun secara implisit lewat berbagai aturan serta fakta seputar dampak penggunaannya memiliki sisi berbahaya yang berpotensi mengancam kehidupan, tetap menarik minat banyak bangsa, baik untuk alasan penyediaan sumber energi maupun militer.

E.F. Schumacher pernah mengatakan bahwa ketika berdiri sendiri, know-how (keterampilan teknis) :

  • tidak berarti apa-apa,
  • cara tanpa tujuan,
  • hanya sebuah potensi,
  • suatu kalimat yang tidak lengkap.

Know-how bukan suatu kebudayaan, seperti halnya piano bukan musik!. Merancang sumber daya manusia berkemampuan agar bisa menjaga, mempertajam atau mengembangkan kebudayaannya sehingga terhindar dari keruntuhan, mustahil bisa diperoleh hanya mengandalkan sistem pendidikan linier berbasis keterampilan teknis, sementara pendidikan berbasis nilai hanya menjadi tempelan atau diabaikan sama sekali.

Apa yang sering dibanggakan bahwa ilmu pengetahuan netral atau bebas nilai tak lain adalah sebuah produk kebermanfaatan yang didasarkan pada kebenaran yang “tepat” (right) bukan kebenaran yang ”benar” (true). Sistem pendidikan yang bertumpu pada liniersasi, obyetivitas, statik dan kuantitatif, hanya mengalirkan kehebatan yang berhenti ketika berhadapan dengan sisi kehidupan yang mau-tidak mau harus diterima, yaitu ketidakteraturan. Lewat know-how, manusia bisa dengan mudah mempelajari dan memahami hakekat pergerakan sebuah mobil, pesawat, peluru, bola atau putaran roda, tapi tidak demikian ketika harus mempelajari pergerakan kepulan asap rokok, kawanan burung di angkasa, arak-arakan awan, atau pertanyaan absurd: “mengapa semua harus hidup jika pada akhirnya pasti mati?”

Memberikan kemudahan dan kemurahan (biaya sekolah) sehingga semua orang memiliki kesempatan seluas-luasnya mengenyam pendidikan tinggi, merupakan pilihan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara moral maupun sebagai upaya nyata memenuhi kebutuhan tak terelakkan.

Linieri-sasi, kompetensi-sasi dan standari-sasi sistem pendidikan  baik mengatasnamakan profesionalisme maupun sebagai cara tak sengaja untuk semakin menerbang-tinggikan pungutan biaya sekolah “berkualitas” dengan cara “membersihkan” sekolah-sekolah “bermasalah”, jelas bukan pilihan ideal.

Sumber : E.F. Scumacher- Kecil Itu Indah, Yohanes Surya, Hokky Situngkir – Indonesiaku Indonesiamu V2

Mengapa Kita Mimpi Terjatuh ?

lazadaSetelah pulas, kita pun masuk ke alam mimpi. Kecuali terbangun, kita tidak bisa membedakan, mana alam mimpi dan mana alam nyata. Freud menyebut mimpi sebagai sebuah proyeksi, sebuah proses eksternalisasi (pengekspresian diri) dari proses internalisasi (penyerapan menjadikan bagian diri). Selain egois, mimpi merupakan gambaran yang berlebihan.

Mimpi cemas merupakan bagian dari fungsi mimpi untuk memenuhi keinginan, dan kecemasan dalam mimpi tersebut merupakan masalah kecemasan (dalam kehidupan nyata) bukan masalah mimpi itu sendiri. Lebih jauh lagi, Freud menjelaskan bahwa kecemasan dalam mimpi merupakan karakter psikoneurotis yang berasal dari kegairahan psikoseksual dimana kecemasan berhubungan dengan libido (hasrat seksual) yang ditekan. Tapi juga bisa berasal dari sumber-sumber somatis (seperti penderita penyakit paru-paru atau jantung yang terkadang sulit bernafas), yang kemudian digunakan untuk membantu memenuhi keinginan-keinginan tertekan (termasuk keinginan bernafas dengan leluasa) di dalam mimpi.

Selain mimpi cemas, tentu kita pernah mimpi terjatuh yang terasa begitu nyata dan mengerikan sebelum akhirnya kita terjaga dan bersyukur karena hanya mimpi. Menurut Freud, mimpi terjatuh dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk kecemasan. Tidak sulit untuk menginterpretasikannya jika mimpi terjatuh terjadi pada wanita karena hampir selalu menerima arti simbolis dari terjatuh, yakni sebagai isyarat untuk memberikan jalan bagi godaan erotis (yang tertahan). Tapi juga bukan berarti mengabaikan kemungkinan berasal dari sumber infantil (masa kanak-kanak) karena hampir semua anak pernah terjatuh dan kemudian diangkat kembali lalu ditimang, atau jika terjatuh dari tempat tidur di waktu malam, diangkat kembali ke tempat tidur oleh orang tua atau pengasuhnya.

Sumber : Sigmund Freud, Kamus Psikoanalisis

www.lazada.com

Ketika Berkonfrontasi, Haruskah Mengandalkan Kekuasaan ?

lazada.co.idHarus diakui, seringkali kita memandang orang menurut kecenderungan sifat mereka bukan menurut situasinya. Ketika orang lain menjadi sumber masalah atau penderitaan, kita yakin memang ia orang jahat. Makin fatal akibatnya, makin bulat penilaian kita bahwa ia adalah manusia yang tidak pernah ingin memiliki pilihan selain senang melihat orang lain menderita.

Berangkat dari cara menilai seperti itu, langkah selanjutnya yang lazim dilakukan adalah menutup rapat-rapat pintu kesabaran, karena (masih menurut penilaian kita) orang seperti itu tidak akan berubah hanya dengan diceramahi. Kita mulai berpikir mencari cara efektif untuk mengubah perangai buruknya. Pilihannya sudah kita putuskan sebelum pertanyaan diajukan, yaitu menghadiahi hukuman yang (kita harapkan) menjerakan.

Apa arti mendasar dari  godaan menggunakan kekuasaan untuk menghukum seseorang ?. Kita perlu melihat dorongan ini bukan sekedar akumulasi energi kemarahan yang harus disalurkan, melainkan sebagai sebuah peringatan. Makin besar keinginan kita menggunakan kekuatan atau kekuasaan, makin membuktikan bahwa pikiran kita sendirilah yang bermasalah. Kita terpenjara oleh hasil usaha kita yang anggap sia-sia. Lalu merasa semestinya jika kita melampiaskan kemarahan. Tanpa sadar kita memilih berpikir dengan menggunakan otak kadal primitif yang dungu yang hanya berisi adrenalin.

Kita lupa bahwa paksaan membunuh hubungan. Kita sedang menggeser posisi kita dari mitra yang dihormati menjadi tukang paksa yang ditakuti. Dan pilihan ini tidak gratis, kita harus membayarnya. Tindakan kita menghancurkan rasa aman, dan dengan hilangnya rasa aman, secara alami orang akan melakukan defensif, termasuk perlawanan. Ketika ini terjadi, alih-alih behasil mengubah perangai buruk, yang terjadi justru kita kehilangan jalan kembali  ke belakang tanpa harus kehilangan muka.  Memilih maju terus pantang mundur, akan mengubah misi kita, dari upaya mengubah perangai buruk menjadi memenangkan pertempuran.

Kalau kita tidak mengubah niat kita sebelum terlambat, kita akan menanggung konsekuensinya.

Sumber Bacaan : Patterson, Grenny, McMilan, Switzler – Crutial Confrontations

lazada.com

Rusa2 Buas

lazada indonesiaMembaca kata ‘buas’, search engine memori otak kita langsung mengaitkan dengan harimau, singa, buaya dan serigala, bukan rusa. Memori otak kita telah berfungsi sebagaimana mestinya, rusa sama sekali tak memliki keterkaitan dengan kata ‘buas’.

Rusa-rusa ini , kata Jiang Rong dalam Wolf Totem, sunggguh makhluk yang patut dikasihani. Serigala itu jahat, membunuhi  makhluk-makhluk tak berdosa, tak mempedulikan betapa berharganya kehidupan. Mereka layak ditangkap dan dikuliti.

Jiang Rong menyebut rusa, serigala, termasuk manusia adalah kehidupan kecil. Sedangkan rumput dan padang rumput adalah kehidupan besar. Dalam kekuasaan makhluk pemakan rumput sebagaimana rusa, nasib rumput lebih buruk dibanding nasib rusa ketika menjadi santapan serigala.  Ketika haus, rusa lari ke sungai, dan ketika kedinginan, mereka lari ketempat hangat. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh rumput ?. Meskipun menyandang predikat kehidupan besar, rumput rapuh dan menyedihkan. Akar-akarnya tidak dalam dan tak bisa kemana-mana. Siapa saja bisa menginjak, memakannya, menghancurkannya bahkan membuang kotoran di atasnya.

Jika salah satu indikator kebuasan adalah kegairahan dalam melakukan pembunuhan atau penghancuran, maka rusa-rusa membunuh jauh lebih banyak rumput daripada mesin pemotong rumput mana pun. Pembunuhan pada manusia, hewan, maupun tumbuhan, sama menyisakan kematian. Dalam menilai, menurut John L. Esposito, kita sering membiarkan diri tergoda membandingkan yang ideal dengan realita, terlalu sering takluk pada dikotomi “kita” dan “mereka”.

Terpampangnya sejumlah fakta bahwa nun jauh disana ada penderitaan di luar batas kemanusiaan, sama sekali tidak mengusik hati kita hanya karena yang menderita itu adalah “mereka”, “orang lain”. Mereka yang tidak bisa kemana-mana kecuali menunggu kehancuran dan kehinaan sebagaimana rumput-rumput yang rapuh dan menyedihkan itu bukan “kita”.

Kita bukan rusa, juga bukan serigala. Tapi menyikapi berbagai permasalahan berdasarkan pilihan dikotomis “rusa” atau “serigala”, “kita” atau “mereka”, hanya akan membuat kita jatuh terperosok ke jurang kepicikan dan kedangkalan akal.

Sumber  bacaan : Jiang Rong – Wolf Totem, John L. Esposito – The Future of Islam

lazada.com

Masalahnya Bukan Menganggur, Malas, atau Kerja Keras

lazadaTanpa berpretensi menjadi bagian dari konsep Levi Strauss  bahwa  ada ‘kode tersembunyi’ dibalik gejala yang terjadi di masyarakat sehingga masyarakat lebih utama daripada individu. Tulisan ini mencoba memahami sikap menganggur, malas atau kerja keras, tidak hanya sekedar pilihan pribadi yang bernilai dimana kerja keras identik dengan karakter terpuji, menganggur sama dengan sikap lemah, dan malas adalah watak memalukan, melainkan sebagai buah dari keadaan yang terdominasi dimana kekuatan-kekuatan  tersembunyi berperan aktif  memainkannya.

Pertama, tak dapat dipungkiri bahwa menganggur pada dasarnya adalah sikap yang tidak kehendaki oleh siapa saja, sekalipun dalam kondisi paling tidak berdaya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari penderita kelumpuhan akibat stroke selain perasaan tidak berguna karena hanya bisa menjadi beban orang lain. Artinya, secara intuitif kita menolak menjadi seonggok daging yang hanya bisa berpikir dan berkehendak tanpa menghasilkan sesuatu yang berguna.

Kedua, kita perlu mencermati penggunaan  istilah ‘malas’ dan ‘pemalas’. Watak pemalas merupakan salah satu indikasi  gejala patologis kepribadian yang disebut amorf. Sedangkan sikap malas atau malas-malasan selalu ada alasan yang melatarbelakanginya, situasional, dan bisa menimpa siapa saja, termasuk mereka yang rajin bekerja.

Ketiga, adalah semestinya bila kita memberikan apresiasi terhadap kebiasaan bekerja keras. Namun, juga tidak ada salahnya mewaspadai bahwa  kerja keras sangat mungkin sebagai sikap terpedaya. Selain kesungguhan dalam bekerja, ciri lain kerja keras adalah lebih peduli pada legitimasi daripada mengembangkan nalar kritis, berapa besar pengorbanan yang diberikan dan berapa hasil yang semestinya diterima. Kesadaran ter-eksploitasi hilang terkikis oleh penghargaan sebagai pekerja teladan atau pekerja ulet.

Kita perlu berpikir ulang bila menganggap lapangan kerja sempit, upah pas-pasan, seleksi dan persaingan ketat, biaya pendidikan mahal, biaya hidup terus melambung, adalah penyebab dari munculnya sikap menganggur atau malas. Semua yang dianggap penyebab itu tak lebih dari ampas yang juga dihasikan dari proses pendominasian secara sistematis oleh kekuatan-kekuatan tersembunyi.

Tentang siapa yang dimaksud dengan kekuatan-kekuatan tersembunyi  tersebut, Insyaallah akan kita bahas pada kesempatan berikutnya.

lazada

ءندلسى remembrance – tentang perilaku manusia

%d bloggers like this: