Seberapa Bangga Menjadi Penulis ?

Sah-sah saja jika ada yang mengatakan penulis adalah profesi prestisius yang layak dibanggakan. Namun, juga tidak ada yang perlu dirisaukan jika ada yang mengatakan menulis tak beda jauh dengan kesibukan sehari-hari seperti makan, berjalan, atau tidur.

MAW Brouwer dan Mira Sidharta (1989) memaknai buku bukan sekedar sekresi badan seperti keringat atau air liur. Buku dilahirkan badan fenomenal dalam suatu proses yang tidak kalah menderita dibanding dengan sakit seorang ibu yang melahirkan bayinya. Penulis sangat peka terhadap kritikan atas karyanya, sehingga ketika kreativitasnya mulai mengering, penulis merasa dalam bahaya sebagaimana dialami Virginia Woolf, yang tanpa sadar telah berusaha menyelamatkan jiwanya, dengan mengarang walaupun akhirnya harus menyerah dengan mengakhiri hidupnya terjun ke sungai Osse. Lebih dari sekedar cara dalam menuangkan gagasan, menulis merupakan manifestasi badan fenomenal. Buah karya fenomenal yang dilahirkan orang-orang luar biasa atau “abnormal” dideskripsikan oleh para ahli psikologi sebagai bentuk kegilaan berguna, yaitu suatu jenis kegilaan yang bukan hanya menimbulkan penderitaan berat, tetapi juga kreativitas yang luar biasa.

Albert Camus (1936) menilai pekerjaan penulis sebagian besar adalah suatu pekerjaan yang takabur. Bagaimanapun juga, masih menurut Camus, dalam suatu masyarakat yang terbiasa dengan keirian dan olok-olok, suatu hari pasti akan datang para penulis yang berlumuran cibiran. Mereka dengan susah payah membayar kegembiaraan yang mengenaskan itu. Dalam kerahasiaan hatinya, seorang penulis merasa rendah diri di depan kehidupan-kehidupan yang paling miskin atau petualangan-petualangan akal yang luhur. Diantara kedua kehidupan tersebut, penulis menemukan suatu masyarakat yang selalu menertawakan.

Menulis sesungguhnya bukan profesi, status, maupun sekedar sarana untuk menuangkan gagasan. Meskipun tarik menarik antara idealisme dan pragmatisme, kejujuran dan ketidak terusterangan, selalu menjadi tantangan alami penulis, sebuah tulisan pada hakekatnya adalah sidementasi pemikiran jaman yang terbentuk melalui proses internalisasi.  Tak satu tulisan pun di muka bumi ini yang berhasil dituangkan kecuali disusun dari serangkaian pengabdian dan keberpihakan pada keyakinan dan kekayaan intelektual penulis, baik atas nama keluhuran, ketulusan, kepongahan maupun absurditas.

Hanya dengan memelihara kesadaran bahwa kebenaran tidak selalu berjalan selaras dengan logika umum, kemudian mendedikasikan diri untuk selalu berjalan di atas fitrah diri, ketentraman jiwa dan kepuasan akal, penulis patut merasa telah berfungsi sebagaimana mestinya, meskipun itu berarti bisa menjadi obyek tertawaan atau cemoohan yang sama sekali jauh dari membanggakan.

Epilepsi dan Krisis Emosional Keluarga

Epilepsi atau biasa juga disebut ayan merupakan penyakit pada pusat susunan saraf yang timbul sewaktu-waktu berupa kekejangan disertai pingsan. Pemicu serangan epilepsi dimungkinkan karena adanya ambang batas rendah terhadap ledakan konvulsif atau gerakan tidak terkendali dari otot yang menimbulkan kekejangan. Singkatnya, epilepsi adalah penyakit yang disebabkan oleh patologi serebral tertentu. Dengan  kata lain, penyebab maupun pencetus serangan epilepsi dibatasi pada dimensi otak, khususnya otak bagian atas (serebrum).

Lewat investigasi psikoanalisis Erikson mengajukan pandangan berbeda. Ia mengatakan bahwa pencetus serangan epilepsi juga dimungkinkan oleh stumulus psikis. Meskipun pandangannya tidak berpretensi bahwa epilepsi bisa disembuhkan melalui psikoanalisis, namun dalam pengertian tertentu, Erikson menginginkan lebih dari itu.

Melalui Investigasinya Erikson menemukan fakta bahwa pada periode tertentu dalam siklus kehidupan pasien epilepsi, memanifestasikan potensi laten untuk serangan-serangan epileptik. Pendekatan ini diharapkan bisa mempengaruhi penyembuhan, terutama pada kasus dimana kerusakan disebabkan oleh kebiasaan dan gempuran serangan neurologis berat secara berulang. Investigasi terapeutik ke dalam salah satu segmen riwayat seorang anak (pasien epilepsi), bisa membuka jalan pemahaman seluruh keluarga untuk menerima krisis mereka sebagai krisis di dalam riwayat keluarga, mengingat krisis psikosomatis (kondisi di mana sejumlah konflik psikis atau psikologis dan kecemasan menjadi sebab dari timbulnya macam-macam penyakit jasmaniah atau justru membuat semakin parahnya suatu penyakit jasmaniah yang sudah ada) merupakan krisis emosional yang terjadi akibat individu (pasien epilepsi) secara spisifik merespon krisis-krisis laten yang terjadi pada orang-orang signifikan di sekitar dirinya.

Diceritakan Erikson tentang seorang anak laki-laki tiga tahun yang mengalami serangan epileptik. Di tengah malam ia menangis keras, muntah-muntah, dan terkejat-kejat di seputar mata dan mulutnya. Pihak rumah sakit mendiagnosis gejala tersebut sebagai epilepsi yang kemungkinan diakibatkan lesi (luka) di belahan kiri otak.  Sedangkan investigasi Erikson menunjukkan fakta bahwa serangan epilepsi yang terjadi pada anak tersebut, lebih disebabkan oleh stimulus psikis daripada oleh ambang yang lebih rendah terhadap ledakan konvulsif. Stimulus psiksi tersebut bersumber dari rasa bersalah atas kematian Neneknya. Ia menganggap dirinya sebagai penyebab kematian neneknya. Gara-gara melihat ia bermain naik ke tas kursi dan terjatuh, neneknya mengalami serangan jantung dan harus dirawat beberapa bulan sebelum akhirnya meninggal dunia.

Tidak hanya itu, Erikson juga melihat adanya peran krisis emosional yang terjadi pada keluarga anak laki-laki tersebut, yaitu ibunya. Berapa pun dalamnya stimulus psikis di dalam kehidupan seorang anak laki-laki tiga tahun, identik dengan sebagian besar konflik neurotik ibunya. Terungkap, suatu ketika entah sengaja atau tidak, anak laki-laki tersebut melemparkan sebuah boneka tepat mengenai gigi depan ibunya hingga tanggal. Ibunya memperlihatkan kemarahan begitu besar yang tidak pernah disangka oleh ibunya sendiri maupun dirinya. Toleransinya yang rendah terhadap kekerasan tersebut semakin diperendah oleh konotasi kekerasan dalam keluarganya.

Sumber bacaan : Erik. H. Erikson – Chilhood and Society, Wikipedia, KKBI

Makna Teritori menurut Manusia dan Hewan

Sebelum membahas lebih jauh tentang makna teritori, ada baiknya kita memahami tingkah laku yang berhubungan erat dengan kesadaran teritorial, yaitu agresi. Leonar Berkowitz (1969) membedakan agresi atau tingkah laku individu yang ditujukan untuk menyakiti  (termasuk membunuh) individu lain, ke dalam dua macam agresi. Pertama,  agresi instrumental yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Kedua, agresi impulsif atau agresi benci yang dilakukan sebagai bentuk pelampiasan keinginan untuk menyakiti atau membunuh individu lain. Pemahaman tentang agresi diperjelas oleh Kenneth Moyer (1971) yang merinci agresi ke dalam tujuh tipe, yakni agresi predatori, antar jantan, ketakutan, tersinggung, maternal, instrumental dan agresi pertahanan atau yang juga disebut agresi teritori.

Agresi teritori dapat kita amati dengan mudah pada perilaku kucing dan anjing. Kedua hewan tersebut selalu menetapkan batasan teritorinya melalui sekresi atau air seni. Yang memasuki wilayah kekuasaannya tersebut, terutama jantan, akan dianggap sebagai ancaman atau musuh. Dalam perspektif kehidupan sehari-hari, untuk menciptakan rasa aman dan nyaman, kita juga biasa membuat batasan-batasan fisik seperti pagar rumah atau berkendara di sebelah kiri garis tengah jalan raya, maupun yang bersifat psikologis seperti menjaga jarak duduk ketika berada di tempat umum,  menjaga jarak sosial dengan orang-orang yang berseberangan pandangan politiknya, merasa lebih dekat dengan yang se-keyakinan atau se-daerah asal, dan seterusnya. Dalam skala yang lebih formal, bisa kita saksikan pada penetapan batas suatu negara maupun paham ideologi yang dianut. Sengketa tapal batas, klaim atas suatu wilayah darat maupun laut, termasuk perbedaan ideologi, bisa memicu terjadinya ketegangan bahkan peperangan antar negara.

Makna dari batas teritori yang diwujudkan dalam banyak hal tersebut tidak tergantung pada jarak fisik-psikologis, luas-sempit atau jauh-dekat, melainkan pada derajad pengakuan atas apa yang dianggap sebagai representasi kedaulatan individu atau negara.

Perbedaan esensial dalam merepresentasikan diri lewat batas teritori antara manusia dan hewan terletak pada teritori ideologis atau keyakinan, karena secara kodrati dimensi ini hanya dimiliki oleh manusia. Sedangkan yang selebihnya seperti menjaga batas wilayah, merasa aman dan nyaman dengan kelompok sejenis, termasuk dimensi politis atau memperebutkan daerah kekuasaan, dilakukan oleh manusia maupun hewan.

Sumber Bacaan :                                                                                                                  Shawn C. Shea, MD – Wawancara Psikiatri (Seni Pemahaman),  E. Koeswara – Agresi Manusia

Mengapa Kita Rindu Kampung Halaman (3)

Saat kita mengetahui suatu momen bakal segera berakhir, tidak ada yang lebih ingin kita lakukan selain memberikan perhatian yang besar dan berupaya memaknainya. Demikian pula ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Kita berupaya merefleksikan diri dengan berbagai macam cara. Mulai dari meningkatkan amal ibadah guna semakin mendekatkan diri kepada Al Khaliq sampai ritual sosial yang menguras biaya seperti membeli baju, kue dan mudik lebaran. Apa yang sebenarnya yang sedang berlangsung dibalik proses tumbuhnya rasa beriman yang semakin meningkat maupun sekedar dorongan untuk pulang ke kampung halaman.

Manusia, meskipun mengaku sebagai makhluk yang bebas berkehendak, pada hakekatnya tidak bisa menentukan sendiri segalanya. Selalu ada keterbatasan dan ketetapan yang menjadikannya tidak memiliki pilihan selain tunduk berserah diri. Dalam waktu manusia hanya bisa mengisi, tanpa bisa mengendalikannya. Sejak dilahirkan, secara lembut dan pasti, waktu melahap setiap detik jatah hidup manusia hingga tidak tersisa sama sekali. Itulah maut.

Maut bukanlah sekedar batas akhir sebagaimana garis finish, melainkan pusat gravitasi, tempat segalanya akan ditarik kembali sesuai jatah waktunya. Disadari atau tidak, tanpa kecuali, kekuatan ini ada dan terus bekerja dalam diri manusia, baik dalam keadaan beriman maupun ingkar.

Jika dalam faktanya terdapat manusia yang menyatakan diri memiliki kebebasan, mampu menentukan sendiri hidupnya termasuk memilih menjadi manusia ingkar, maka sesungguhnya mereka hanya mengingkari dorongan hatinya, bukan mengingkari ketundukannya kepada waktu.

Jadi, sepanjang kita masih memiliki rasa rindu kepada kampung halaman, berarti kita sedang ditarik kembali ke asal kita. Kampung halaman kita adalah kepanjangan mata rantai gravitasi ini. Kita sesungguhnya bukan berasal dari kampung halaman, melainkan berasal dari rahim ibu, dan sebelum mendiami rahim kita hanyalah setetes air hina yang tidak mungkin menjadi apa pun tanpa Kehendak dan IzinNya. Hanya  KepadaNya lah kita berasal dan akan kembali, baik dengan taat atau terpaksa.

Selamat Hari Raya Idul Ftri 1 Syawal 1435 H, mohon maaf atas segala kesalahan.

Malaikat pun ‘Lelah’ di Gaza

Tidak ada keraguan bahwa datangnya ajal adalah rahasia kehidupan. Namun, ketika menyaksikan apa yang sedang terjadi di Gaza, seolah tabir misterinya terbuka lebar.

Dari menit ke menit, mulai dari belasan, puluhan, hingga ratusan, sebagaimana dilaporkan televisi, angka-angka kematian itu terus merambat naik seperti layaknya data penjualan sabun cuci yang bisa dikalkulasi dan diprediksi. Hampir semua orang berlomba-lomba menunjukkan simpati dan kemarahannya ketika menyaksikan jumlah yang tewas mencapai tiga digit.

Lebih dari sekedar ironi, patutlah kita mengasihani diri kita sendiri daripada bersimpati atas penderitaan mereka yang ada di Gaza. Ternyata kita hanya tergerak oleh banyaknya angka kematian, bukan oleh penindasan vulgar yang berlangsung sistematis yang tidak pernah diapa-apakan kecuali mengecam dan mengutuknya sambil membiarkannya melenggang di depan mata.

Hanya karena telah bergabung dengan paduan suara perdamaian, kita pun merasa berhak membutakan diri atas ketidakadilan yang beranak-pinak di Gaza. Sehingga pembantaian yang terjadi secara berulang tersebut seolah sekedar ‘agenda rutin’ malaikat Izrail yang ‘melelahkan’, karena terlalu banyak nyawa yang dicabut.

Haruskah Kita Mengejar Kebahagiaan ?

Bertemu orang-orang tersayang yang lama terpisah jauh, menghirup udara pegunungan, mencium wangi angin laut, atau jatuh cinta adalah momen-momen kehidupan yang memberikan sensasi rasa menyenangkan yang sekaligus juga dianggap membahagiakan. Yang pasti, kita bukan hanya menikmati, melainkan juga ingin meliharanya selama mungkin, bahkan kalau bisa selama-lamanya. Karena seiring berjalannya waktu, sensasinya terus meredup sebelum akhirnya menjadi datar dan hambar.

Tak jauh berbeda dengan naluri fisiologis yang selalu mendorong kita berupaya makan meskipun yakin nanti bakal lapar lagi, kita termotivasi berupaya menciptakan atau menemukan momen-momen menyenangkan yang telah hilang maupun yang masih menjadi harapan, seperti meraih kekuasaan, popularitas, kemewahan, kenyamanan maupun sekedar berkebun di belakang rumah. Seorang psikolog dari State University of New York, Arthur Aron menyebut motivasi semacam ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan yang dirasakan para pecandu narkoba. Rasa cinta yang penuh gairah terbentuk di bagian otak yang sama dengan ketika seseorang mengalami kecanduan narkotika atau obat terlarang.

Pembeberan fakta ilmiah ini tidak berpretensi bahwa tak ada gunanya membersihkan halaman rumah yang kotor karena pasti akan kotor lagi, atau semua yang kita yakini bermakna dan layak diperjuangkan tidak lain hanyalah kesemuan belaka.

Momen-momen kehidupan yang menyenangkan maupun yang kita vonis sebagai biang kesengsaraan adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Kita tidak mungkin bisa menemukan makna sesungguhnya dengan mengambil sebagian dan membuang sebagian lainnya, sebagaimana tak mungkin memahami makna siang dengan menyangkal malam. Demikian pula halnya dengan kekayaan dan kefakiran, kesuksesan dan kegagalan.

Hanya dengan membangun kesadaran yang utuh memungkinkan bagi kita mendapatkan makna kehidupan yang sesungguhnya. Oleh karenanya, menjadi manusia sadar relatif lebih layak untuk dipertahankan atau diperjuangkan daripada ‘sekedar’ berupaya memelihara atau mengejar kesenangan dan kebahagiaan semata.

Kesengsaraan dan Kemasabodohan Alami

Pada awalnya kesengsaraan hanyalah sepenggal nasehat. Ketika tertera pada wajah seseorang manusia, ia bukan lagi sekedar potret kehidupan yang mencemaskan, tapi juga menjadi satu-satunya pilihan akhir yang harus dilawan dalam ketidakberdayaan.

Hanyalah kepura-puraan apa yang diyakini kebanyakan manusia bahwa hidup harus bahagia sepenuhnya, tak ada kesengsaraan maupun kematian. Takut, pura-pura berani, atau pasrah, bukan pilihan yang sesungguhnya, karena kepura-puraan hanya membutuhkan pelarian.

Camus pernah menulis :  “Untuk mengoreksi kemasabodohan alami, aku ditempatkan di tengah jarak antara kesengsaraan dan matahari. Kesengsaraan menghalangiku untuk percaya bahwa segalanya betul-betul ada di di bawah matahari dan di dalam sejarah. …”.

Wajah kesengsaraan tidaklah selalu mewakili keparahan luka yang ditorehkannya. Boleh jadi deraan beban kehidupan meninggalkan pemandangan yang menyentak jiwa, namun kemasabodohan alami selalu menandaskan bahwa semua itu adalah kelumrahan.

Hanya dalam kemapanan yang tumbang, wajah kesengsaraan terlihat begitu  nyata dan melumpuhkan.

ءندلسى remembrance – tentang perilaku manusia

%d bloggers like this: