Semua tahu rumah sakit bukan hotel. Sesuai namanya, rumah sakit adalah sebuah tempat tinggal sementara bagi mereka yang sakit, yang tidak satu orangpun (kecuali petugas medis dan karyawannya) menghendaki tinggal berlama-lama. Namun saat ini, kehendak untuk segera beranjak dari rumah sakit tensinya menurun. Rumah sakit tak lagi menggelisahkan. Mulai dari gaya dan warna bangungan, taman, desain interior hingga aroma ruangan membuat kita berkompromi untuk berupaya merasa ‘betah’ berada di rumah sakit, bahkan (dengan alasan yang sama) para pembesuk tak ragu untuk ‘ber-rekreasi’ membawa serta anak-anak yang daya tahan tubuhnya terhadap penyakit relatif masih lemah.
Fenomena ‘aneh’ lainnya bisa kita temui pada produk-produk obat anti nyamuk. Dulu, barang ‘berbahaya’ ini, baik yang semprot maupun bakar, aromanya yang khas dan menyengat membuat kita merasa terganggu. Sekarang, kita agak sulit membedakan mana pengharum ruangan, dan mana obat pembasmi serangga, baunya sama wanginya.
Realita ‘ganjil’ dalam versi yang berbeda dapat kita ‘nikmati’ lewat layar TV. Setiap hari Kita menyaksikan peristiwa yang menyentak perhatian, hasutan iklan yang tak kenal lelah, sinetron dan infotainment yang menghanyutkan, tragedi yang memilukan, dan komedi yang menggelitik. Kecuali dipisahkan oleh jedah waktu dalam hitungan menit, semua ‘realita’ tersebut terhimpun menjadi satu dalam satu kotak ajaib yang bernama televisi. Kita tidak disuguhi realita tunggal, tapi realita yang berlipat ganda dalam satu titik waktu yang hampir bersamaan. Kita kehilangan momentum, spontanitas, dan suasana hati. Tayangan politik diaduk dengan iklan pembersih toilet. Alur kisah tragis dipenggal-penggal oleh adegan konyol bintang iklan. Dengan sedikit sentuhan editing dan iringan alunan ratapan biola, seorang nenek pencari kayu bakar (kegiatan yang biasa di pedesaan) menjadi tampak terlalu realistis, dramatis dan menguras emosi. Demikian seterusnya, sampai kemudian kita menjadi datar, netral, tanpa ekspresi. Kita tak lagi mempermasalahkan realita dan rekaan, fakta tau fiksi, kebahagiaan atau penderitaan. Masa depan negara, kasur busa, dakwah agama, gadget canggih, info perselingkuhan, dan bumbu merica, menyatu menjadi hiburan!. Tidak ada yang ingin dicapai dari semua itu kecuali agar semua tampak atau terasa meyenangkan.
Mengapa kita melakukan hal ini?. Jawabannya seperti kata Jean Baudrillard, kita sedang menikmati permainan suasana dalam pengingkaran realita.