Mengapa Kita Rindu Kampung Halaman (3)

Saat kita mengetahui suatu momen bakal segera berakhir, tidak ada yang lebih ingin kita lakukan selain memberikan perhatian yang besar dan berupaya memaknainya. Demikian pula ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Kita berupaya merefleksikan diri dengan berbagai macam cara. Mulai dari meningkatkan amal ibadah guna semakin mendekatkan diri kepada Al Khaliq sampai ritual sosial yang menguras biaya seperti membeli baju, kue dan mudik lebaran. Apa yang sebenarnya yang sedang berlangsung dibalik proses tumbuhnya rasa beriman yang semakin meningkat maupun sekedar dorongan untuk pulang ke kampung halaman.

Manusia, meskipun mengaku sebagai makhluk yang bebas berkehendak, pada hakekatnya tidak bisa menentukan sendiri segalanya. Selalu ada keterbatasan dan ketetapan yang menjadikannya tidak memiliki pilihan selain tunduk berserah diri. Dalam waktu manusia hanya bisa mengisi, tanpa bisa mengendalikannya. Sejak dilahirkan, secara lembut dan pasti, waktu melahap setiap detik jatah hidup manusia hingga tidak tersisa sama sekali. Itulah maut.

Maut bukanlah sekedar batas akhir sebagaimana garis finish, melainkan pusat gravitasi, tempat segalanya akan ditarik kembali sesuai jatah waktunya. Disadari atau tidak, tanpa kecuali, kekuatan ini ada dan terus bekerja dalam diri manusia, baik dalam keadaan beriman maupun ingkar.

Jika dalam faktanya terdapat manusia yang menyatakan diri memiliki kebebasan, mampu menentukan sendiri hidupnya termasuk memilih menjadi manusia ingkar, maka sesungguhnya mereka hanya mengingkari dorongan hatinya, bukan mengingkari ketundukannya kepada waktu.

Jadi, sepanjang kita masih memiliki rasa rindu kepada kampung halaman, berarti kita sedang ditarik kembali ke asal kita. Kampung halaman kita adalah kepanjangan mata rantai gravitasi ini. Kita sesungguhnya bukan berasal dari kampung halaman, melainkan berasal dari rahim ibu, dan sebelum mendiami rahim kita hanyalah setetes air hina yang tidak mungkin menjadi apa pun tanpa Kehendak dan IzinNya. Hanya  KepadaNya lah kita berasal dan akan kembali, baik dengan taat atau terpaksa.

Selamat Hari Raya Idul Ftri 1 Syawal 1435 H, mohon maaf atas segala kesalahan.

Malaikat pun ‘Lelah’ di Gaza

Tidak ada keraguan bahwa datangnya ajal adalah rahasia kehidupan. Namun, ketika menyaksikan apa yang sedang terjadi di Gaza, seolah tabir misterinya terbuka lebar.

Dari menit ke menit, mulai dari belasan, puluhan, hingga ratusan, sebagaimana dilaporkan televisi, angka-angka kematian itu terus merambat naik seperti layaknya data penjualan sabun cuci yang bisa dikalkulasi dan diprediksi. Hampir semua orang berlomba-lomba menunjukkan simpati dan kemarahannya ketika menyaksikan jumlah yang tewas mencapai tiga digit.

Lebih dari sekedar ironi, patutlah kita mengasihani diri kita sendiri daripada bersimpati atas penderitaan mereka yang ada di Gaza. Ternyata kita hanya tergerak oleh banyaknya angka kematian, bukan oleh penindasan vulgar yang berlangsung sistematis yang tidak pernah diapa-apakan kecuali mengecam dan mengutuknya sambil membiarkannya melenggang di depan mata.

Hanya karena telah bergabung dengan paduan suara perdamaian, kita pun merasa berhak membutakan diri atas ketidakadilan yang beranak-pinak di Gaza. Sehingga pembantaian yang terjadi secara berulang tersebut seolah sekedar ‘agenda rutin’ malaikat Izrail yang ‘melelahkan’, karena terlalu banyak nyawa yang dicabut.

Haruskah Kita Mengejar Kebahagiaan ?

Bertemu orang-orang tersayang yang lama terpisah jauh, menghirup udara pegunungan, mencium wangi angin laut, atau jatuh cinta adalah momen-momen kehidupan yang memberikan sensasi rasa menyenangkan yang sekaligus juga dianggap membahagiakan. Yang pasti, kita bukan hanya menikmati, melainkan juga ingin meliharanya selama mungkin, bahkan kalau bisa selama-lamanya. Karena seiring berjalannya waktu, sensasinya terus meredup sebelum akhirnya menjadi datar dan hambar.

Tak jauh berbeda dengan naluri fisiologis yang selalu mendorong kita berupaya makan meskipun yakin nanti bakal lapar lagi, kita termotivasi berupaya menciptakan atau menemukan momen-momen menyenangkan yang telah hilang maupun yang masih menjadi harapan, seperti meraih kekuasaan, popularitas, kemewahan, kenyamanan maupun sekedar berkebun di belakang rumah. Seorang psikolog dari State University of New York, Arthur Aron menyebut motivasi semacam ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan yang dirasakan para pecandu narkoba. Rasa cinta yang penuh gairah terbentuk di bagian otak yang sama dengan ketika seseorang mengalami kecanduan narkotika atau obat terlarang.

Pembeberan fakta ilmiah ini tidak berpretensi bahwa tak ada gunanya membersihkan halaman rumah yang kotor karena pasti akan kotor lagi, atau semua yang kita yakini bermakna dan layak diperjuangkan tidak lain hanyalah kesemuan belaka.

Momen-momen kehidupan yang menyenangkan maupun yang kita vonis sebagai biang kesengsaraan adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Kita tidak mungkin bisa menemukan makna sesungguhnya dengan mengambil sebagian dan membuang sebagian lainnya, sebagaimana tak mungkin memahami makna siang dengan menyangkal malam. Demikian pula halnya dengan kekayaan dan kefakiran, kesuksesan dan kegagalan.

Hanya dengan membangun kesadaran yang utuh memungkinkan bagi kita mendapatkan makna kehidupan yang sesungguhnya. Oleh karenanya, menjadi manusia sadar relatif lebih layak untuk dipertahankan atau diperjuangkan daripada ‘sekedar’ berupaya memelihara atau mengejar kesenangan dan kebahagiaan semata.

Kesengsaraan dan Kemasabodohan Alami

Pada awalnya kesengsaraan hanyalah sepenggal nasehat. Ketika tertera pada wajah seseorang manusia, ia bukan lagi sekedar potret kehidupan yang mencemaskan, tapi juga menjadi satu-satunya pilihan akhir yang harus dilawan dalam ketidakberdayaan.

Hanyalah kepura-puraan apa yang diyakini kebanyakan manusia bahwa hidup harus bahagia sepenuhnya, tak ada kesengsaraan maupun kematian. Takut, pura-pura berani, atau pasrah, bukan pilihan yang sesungguhnya, karena kepura-puraan hanya membutuhkan pelarian.

Camus pernah menulis :  “Untuk mengoreksi kemasabodohan alami, aku ditempatkan di tengah jarak antara kesengsaraan dan matahari. Kesengsaraan menghalangiku untuk percaya bahwa segalanya betul-betul ada di di bawah matahari dan di dalam sejarah. …”.

Wajah kesengsaraan tidaklah selalu mewakili keparahan luka yang ditorehkannya. Boleh jadi deraan beban kehidupan meninggalkan pemandangan yang menyentak jiwa, namun kemasabodohan alami selalu menandaskan bahwa semua itu adalah kelumrahan.

Hanya dalam kemapanan yang tumbang, wajah kesengsaraan terlihat begitu  nyata dan melumpuhkan.

SECORET TAKDIR PALSU

Dari balik pandangan suram ia datang mendekat, mendekap kemudian beringsut menjauh sambil menggenggam jiwa. Selain jiwa-jiwa merdeka yang tak takluk oleh intimidasi pesona, bakal mati terkubur kerinduan. Mereka sering menengadah ke langit mengharapkan apa yang belum ada laksana cicak merindukan sayap.

Penulis berdarah Aborijin, Sally Morgan adalah salah satu pemilik jiwa tak tertaklukkan itu. Di tengah takdir palsu yang mendera bangsanya, ia genggam sepenggal harapan. Hatinya selalu terusik oleh satu pertanyaan : “mengapa sepanjang hidupnya harus mengaku pada semua orang bahwa ia orang India sementara tanpa ada keraguan dirinya berdarah Aborijin?”. Jika terhadap khayalan masa kecilnya yang ingin menjadi seorang kulit putih atau menjadi anggota keluarga kulit putih, –meskipun dengan rasa malu– ia bisa memakluminya. Tidak demikian halnya terhadap kesaksiannya bahwa di Australia pada saatnya nanti tidak akan bisa ditemui anak-anak Aborijin yang berkulit hitam berambut ikal. Semua dari sedikit yang tersisa terancam sirna. Ia hanya ingin mengatakan, bagaimanapun juga ini tanah kami, benarkah tidak ada yang dapat kami berikan?

Secoret takdir palsu yang merapuhkan jiwa ini bisa menimpa siapa saja, termasuk bangsa kita. Sayangnya, kebanyakan bangsa memilih mendiami penjara kekinian, lebih disibukkan oleh pilihan maju atau tertinggal, terpandang atau terbelakang, yang mana semua itu tak lebih ritme sesaat zaman. Sementara, meskipun tidak terlalu diyakini keberadaannya, takdir sesungguhnya dari sebuah bangsa selalu setia menanti di ujung jalan fundamental yang dipilihnya.

Seulas Senyum Langit

Biarkanlah kupotong menit dalam kain waktuku itu, dan orang-orang meninggalkan sekuntum bunga diantara halaman-halaman buku, mengukung di situ…..

Kehidupan sangatlah singkat dan kehilangan waktu pribadi berarti dosa….

Kalau rasa was-was lagi-lagi mencekamku, itu berarti rasa jenak yang amat halus menggelincir di antara jari-jemariku seperti manik-manik air raksa.

Maka biarkan saja mereka yang mau membelakangi dunia.

Aku tidak berkeluh-kesah lantaran aku melihat bagaimana diriku lahir……

Maka, kapankah aku menjadi yang benar-benar lebih, ketimbang ketika aku menjadi dunia? Aku puas sekali sebelum sempat berhasrat.

Keabadian yang pernah kudambahkan ada disana.

Sekarang, yang aku harapkan bukan lagi menjadi bahagia, tetapi semata-mata menjadi sadar.

Seorang manusia merenung dan yang lain menggali pusaranya sendiri : bagaimana memisahkan mereka? Umat manusia dan keabsurdan mereka? Tetapi itulah senyuman langit.

Cahaya mengembang. Apakah itu berarti musim panas tidak lama lagi? Tetapi memang itulah mata dan suara dari mereka yang mesti dicintai.

Aku terikat pada dunia oleh semua tingkah lakuku, dan pada umat manusia oleh segenap rasa ibaku sekaligus rasa syukurku.

Ya, antara bagian luar dan bagian dalam dunia! Ah, aku tidak mau memilih, aku tidak suka orang memilih.

Cuplikan : Mati Dalam Jiwa – Albert Camus

Cara Tanpa Tujuan Bukanlah Sistem Pendidikan Ideal

Tak diragukan, dimana ada manusia disitu lahir kebudayaan dan peradaban, meskipun dalam perkembangannya ada yang bangkit, berkembang, atau merosot sebelum akhirnya hilang lenyap. Faktor manusia menjadi penentu eksistensi dari sebuah kebudayaan. Memiliki sumber daya manusia yang berkemampuan bukan hanya bisa menjaga kelestariannya, tapi juga bisa menciptakan keunggulan. Dan semua itu hanya bisa diperoleh melalui proses pendidikan, tapi pendidikan yang bagaimana?.

Apa pun pilihan sistem pendidikannya, setiap produk dari sebuah proses pendidikan, baik berupa nilai, pengetahuan atau keterampilan teknis, selalu dipertemukan dengan nilai kegunaan. Sehingga sistem pendidikan berbasis manfaat praktis diposisikan sebagai satu-satunya pilihan paling laogis. Namun, semangat mengejar ketertinggalan seringkali disertai ketidakmampuan memahami implikasi alami jangka panjang atas pilihan tersebut. Teknologi nuklir sebagai salah satu prestasi fenomenal sekaligus simbol supremasi ilmu pengetahuan, meskipun secara implisit lewat berbagai aturan serta fakta seputar dampak penggunaannya memiliki sisi berbahaya yang berpotensi mengancam kehidupan, tetap diidolakan baik untuk alasan penyediaan sumber energi maupun militer.

E.F. Schumacher pernah mengatakan bahwa ketika berdiri sendiri, know-how (keterampilan teknis) :

  • tidak berarti apa-apa,
  • cara tanpa tujuan,
  • hanya sebuah potensi,
  • suatu kalimat yang tidak lengkap.

Know-how bukan suatu kebudayaan, seperti halnya piano bukan musik!. Merancang sumber daya manusia berkemampuan agar bisa menjaga, mempertajam atau mengembangkan kebudayaannya sehingga terhindar dari keruntuhan, mustahil bisa diperoleh dengan menganak-emaskan sistem pendidikan linier berbasis keterampilan teknis, memandang sebelah mata pendidikan berbasis nilai.

Apa yang sering dibanggakan bahwa ilmu pengetahuan netral atau bebas nilai tak lain adalah sebuah produk kebermanfaatan yang didasarkan pada kebenaran yang “tepat” (right) bukan kebenaran yang ”benar” (true). Sistem pendidikan yang bertumpu pada liniersasi, obyetivitas, statik dan kuantitatif, hanya mengalirkan kehebatan yang berhenti ketika berhadapan dengan sisi kehidupan yang mau-tidak mau harus diterima, yaitu ketidakteraturan. Lewat know-how, manusia bisa dengan mudah mempelajari dan memahami hakekat pergerakan sebuah mobil, pesawat, peluru, bola atau putaran roda, tapi menjadi lunglai ketika harus mempelajari pergerakan kepulan asap rokok, kawanan burung di angkasa, arak-arakan awan, atau pertanyaan absurd: “mengapa semua harus hidup jika pada akhirnya pasti mati?”

Linieri-sasi, kompetensi-sasi dan standari-sasi sistem pendidikan  baik mengatasnamakan profesionalisme maupun sebagai cara tak sengaja untuk semakin menerbang-tinggikan pungutan biaya sekolah “berkualitas” dengan cara “membersihkan” sekolah-sekolah “bermasalah”, jelas bukan pilihan ideal.

Sumber : E.F. Scumacher- Kecil Itu Indah, Yohanes Surya, Hokky Situngkir – Indonesiaku Indonesiamu V2

ءندلسى remembrance – tentang perilaku manusia

%d bloggers like this: