Mengapa Ternista Bisa Muntah?

Secara alami tubuh kita memiliki mekanisme pertahanan diri, salah satunya adalah lewat muntah. Ketika ada benda asing masuk ke dalam tubuh seperti zat beracun atau saat awal kehamilan dimana calon janin masih dibaca tubuh sebagai ‘benda asing’, timbul rasa mual yang berakhir dengan muntah. Tapi, bagaimana halnya dengan rasa mual atau muntah yang hanya diakibatkan perasaan jijik seperti melihat mayat, kotoran atau luka terbuka?.

Lebih dari sekedar penjelasan fisiologis, filsuf Prancis Julia Kristeva menghubungan rasa mual atau muntah dengan perasaan ternista (abjection). Dalam bukunya tentang apa artinya mengalami keternistaan, ia menunjukkan bahwa setiap manusia berjalan melalui periode keternistaan, yaitu ketika untuk pertama kalinya menyadari bahwa tubuh kita terpisah dari tubuh ibu kita. Rasa terpisah ini menimbulkan perasaan ngeri yang ekstrim yang kita bawa sepanjang hidup kita.

Kejadian traumatis yang terkubur lama (di-represi) tersebut akan aktif kembali ketika kita mengalami peristiwa sejenis yang sangat tidak dikehendaki atau menjijikkan. Rasa ngeri atau jijik yang luar biasa diartikan tubuh kita sebagai sesuatu yang membahayakan yang harus segera dikeluarkan atau dimuntahkan.

Kegunaan Rasa Sakit

Mengalami rasa sakit atau nyeri adalah kondisi yang tidak dikehendaki, terlebih ketika sedang sakit atau terluka. Mulai dari memijit, melakukan gerakan atau tindakan tertentu sampai mengkonsumsi obat-obatan, kita berupaya menyingkirkan atau meredakan sesegera mungkin. Artinya, rasa sakit atau nyeri mendatangkan penderitaan, lalu bagaimana mungkin dikatakan memiliki kegunaan?.

Berdasarkan teori Gate Control (Melzack dan Wall, 1965) dijelaskan adanya substansia gelatinosa yang berfungsi sebagai alat utama membuka dan menutup pintu gerbang menimbulkan pengalaman nyeri yang terdiri dari tiga komponen : sensori/ persepsi, emosional, dan kognitif. Sistem sensori/ persepsi mentransmisikan informasi dasar sensori seperti lokasi nyeri, panas, berdenyut atau menusuk, sehingga dapat diketahui bagian mana yang sakit dan bagaimana rasa sakitnya.  Komponen emosional menentukan respons kita terhadap nyeri, sehingga diputuskan kapan untuk menghindari atau menghilangkannya. Sedangkan aspek kognitif menentukan arti dari pengalaman sensori.

Rasa nyeri juga terkait psikologis. Toleransi terhadap rasa nyeri, masing-masing individu berbeda, tergantung faktor yang mempengaruhinya. Selain derajat cedera, ansietas, banyak faktor lainnya yang juga mempengaruhi respon tingkat toleransi seseorang terhadap rasa nyeri. Diantaranya faktor budaya.  Zhorowski (1969) melaporkan, orang  Amerika dan Irlandia memiliki kemiripan dalam mengekspresikan rasa nyeri, merespons rasa nyeri dengan biasa-biasa saja, dan mereka kesulitan mengkomunikasikan rasa nyeri dengan orang yang melakukan observasi. Respons yang lebih terbuka ditunjukkan oleh orang Italia dan Yahudi. Mereka memandang rasa nyeri sebagai sesuatu yang harus segera dihindarkan dengan cara apapun.

Selain faktor tersebut diatas, toleransi terhadap nyeri juga dipengaruhi oleh kelainan individual sebagaimana pernah dialami oleh seorang gadis di Kanada (Melzack, 1973). Ia memiliki tingkat inlegensia yang cukup tinggi dan tampak normal kecuali ia tidak pernah mengalami nyeri seumur hidupnya. Ketika masih kanak-kanak, ketika mengunyah makanan ia menggigit ujung lidahnya sampai putus, lututnya pernah mengalami luka bakar setelah berlutut di atas radiator yang masih panas. Yang lebih aneh, ia tidak menunjukkan perubahan tekanan darah, denyut jantung atau pernapasan ketika semua stimulus diberikan.

Jadi rasa nyeri bukanlah penyakit seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Rasa nyeri merupakan “keadaan membutuhkan”, sebagaimana rasa haus dan lapar yang membutuhkan minum dan makan. Bersyukurlah kita dikaruniai rasa nyeri sehingga kita dengan cepat mengerti bahwa kita sedang menyentuh benda panas atau tajam sehingga dengan gerakan refleks menjauhi titik sentuh nyeri, dan kita pun terhindar dari akibat yang lebih fatal.

Sumber bacaan :

Niven Neil – Psikologi Kesehatan, Slamet IS – Markam, Pengantar Psikologi Klinis, Shea shawn C – Wawancara Psikiatri Seni Pemahaman.

Pencitraan Diri dan Ancaman Sindrom Normotik

Christopher Bollas mencetuskan ide tentang normopathy untuk menggambarkan orang-orang yang begitu terfokus dan larut dalam penyusaian diri terhadap norma-norma sosial, hingga menjadi semacam mania. Seorang normotik sering terpaku dengan peniadaan kepribadian sama sekali, dan hanya melakukan apa yang diharapkan oleh masyarakat. Mereka berupaya menyembunyikan perilaku aslinya,  karena meyakini jika ketahuan, orang lain akan mengutuk.

Dikaitkan dengan gejala perilaku sosial kalangan tertentu dimana membangun pencitraan diri sudah menjadi kebutuhan instingtif, sangat mungkin menjadi indikasi awal menggejalanya perilaku normotik. Demi memuaskan harapan masyarakat, mereka rela mengorbankan hasrat manusiawinya, termasuk mengiritasi corak kepribadiannya, sehingga (kecuali saat berada di lingkungan keluarga dekat) hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mewaspadai diri agar selalu berjalan di jalur selera umum. Kalau pun terdapat fakta bahwa ketokohan seseorang benar-benar banyak didasarkan pada corak kepribadian asli, maka tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk pencitraan, karena proses pencitraan selalu berbasis kemasan, tidak apa adanya.

Untuk memastikan apakah seseorang terjangkit sindrom normotik atau tidak, tentunya memerlukan diagnosis psikiatris. Namun, dengan mencermati kadar kewajaran pengorbanan sosialnya setidaknya bisa menjadi gambaran potensi ancamanannya, meskipun terlalu bersemangat mengabaikan kehendak umum juga tak jauh lebih baik karena bisa mendorong seseorang menjadi asosial.

Seberapa Bangga Menjadi Penulis ?

Sah-sah saja jika ada yang mengatakan penulis adalah profesi prestisius yang layak dibanggakan. Namun, juga tidak ada yang perlu dirisaukan jika ada yang mengatakan menulis tak beda jauh dengan kesibukan sehari-hari seperti makan, berjalan, atau tidur.

MAW Brouwer dan Mira Sidharta (1989) memaknai buku bukan sekedar sekresi badan seperti keringat atau air liur. Buku dilahirkan badan fenomenal dalam suatu proses yang tidak kalah menderita dibanding dengan sakit seorang ibu yang melahirkan bayinya. Penulis sangat peka terhadap kritikan atas karyanya, sehingga ketika kreativitasnya mulai mengering, penulis merasa dalam bahaya sebagaimana dialami Virginia Woolf, yang tanpa sadar telah berusaha menyelamatkan jiwanya, dengan mengarang walaupun akhirnya harus menyerah dengan mengakhiri hidupnya terjun ke sungai Osse. Lebih dari sekedar cara dalam menuangkan gagasan, menulis merupakan manifestasi badan fenomenal. Buah karya fenomenal yang dilahirkan orang-orang luar biasa atau “abnormal” dideskripsikan oleh para ahli psikologi sebagai bentuk kegilaan berguna, yaitu suatu jenis kegilaan yang bukan hanya menimbulkan penderitaan berat, tetapi juga kreativitas yang luar biasa.

Albert Camus (1936) menilai pekerjaan penulis sebagian besar adalah suatu pekerjaan yang takabur. Bagaimanapun juga, masih menurut Camus, dalam suatu masyarakat yang terbiasa dengan keirian dan olok-olok, suatu hari pasti akan datang para penulis yang berlumuran cibiran. Mereka dengan susah payah membayar kegembiraan yang mengenaskan itu. Dalam kerahasiaan hatinya, seorang penulis merasa rendah diri di depan kehidupan-kehidupan yang paling miskin atau petualangan-petualangan akal yang luhur. Diantara kedua kehidupan tersebut, penulis menemukan suatu masyarakat yang selalu menertawakan.

Menulis sesungguhnya bukan profesi, status, maupun sekedar sarana untuk menuangkan gagasan. Meskipun tarik menarik antara idealisme dan pragmatisme, kejujuran dan ketidak terusterangan, selalu menjadi tantangan alami penulis, sebuah tulisan pada hakekatnya adalah sidementasi pemikiran jaman yang terbentuk melalui proses internalisasi.  Tak satu tulisan pun di muka bumi ini yang berhasil dituangkan kecuali disusun dari serangkaian pengabdian dan keberpihakan pada keyakinan dan kekayaan intelektual penulis, baik atas nama keluhuran, ketulusan, kepongahan maupun absurditas.

Hanya dengan memelihara kesadaran bahwa kebenaran tidak selalu berjalan selaras dengan logika umum, kemudian mendedikasikan diri untuk selalu berjalan di atas fitrah diri, ketentraman jiwa dan kepuasan akal, penulis patut merasa telah berfungsi sebagaimana mestinya, meskipun itu berarti bisa menjadi obyek tertawaan atau cemoohan yang sama sekali jauh dari membanggakan.

Epilepsi dan Krisis Emosional Keluarga

Epilepsi atau biasa juga disebut ayan merupakan penyakit pada pusat susunan saraf yang timbul sewaktu-waktu berupa kekejangan disertai pingsan. Pemicu serangan epilepsi dimungkinkan karena adanya ambang batas rendah terhadap ledakan konvulsif atau gerakan tidak terkendali dari otot yang menimbulkan kekejangan. Singkatnya, epilepsi adalah penyakit yang disebabkan oleh patologi serebral tertentu. Dengan  kata lain, penyebab maupun pencetus serangan epilepsi dibatasi pada dimensi otak, khususnya otak bagian atas (serebrum).

Lewat investigasi psikoanalisis Erikson mengajukan pandangan berbeda. Ia mengatakan bahwa pencetus serangan epilepsi juga dimungkinkan oleh stumulus psikis. Meskipun pandangannya tidak berpretensi bahwa epilepsi bisa disembuhkan melalui psikoanalisis, namun dalam pengertian tertentu, Erikson menginginkan lebih dari itu.

Melalui Investigasinya Erikson menemukan fakta bahwa pada periode tertentu dalam siklus kehidupan pasien epilepsi, memanifestasikan potensi laten untuk serangan-serangan epileptik. Pendekatan ini diharapkan bisa mempengaruhi penyembuhan, terutama pada kasus dimana kerusakan disebabkan oleh kebiasaan dan gempuran serangan neurologis berat secara berulang. Investigasi terapeutik ke dalam salah satu segmen riwayat seorang anak (pasien epilepsi), bisa membuka jalan pemahaman seluruh keluarga untuk menerima krisis mereka sebagai krisis di dalam riwayat keluarga, mengingat krisis psikosomatis (kondisi di mana sejumlah konflik psikis atau psikologis dan kecemasan menjadi sebab dari timbulnya macam-macam penyakit jasmaniah atau justru membuat semakin parahnya suatu penyakit jasmaniah yang sudah ada) merupakan krisis emosional yang terjadi akibat individu (pasien epilepsi) secara spisifik merespon krisis-krisis laten yang terjadi pada orang-orang signifikan di sekitar dirinya.

Diceritakan Erikson tentang seorang anak laki-laki tiga tahun yang mengalami serangan epileptik. Di tengah malam ia menangis keras, muntah-muntah, dan terkejat-kejat di seputar mata dan mulutnya. Pihak rumah sakit mendiagnosis gejala tersebut sebagai epilepsi yang kemungkinan diakibatkan lesi (luka) di belahan kiri otak.  Sedangkan investigasi Erikson menunjukkan fakta bahwa serangan epilepsi yang terjadi pada anak tersebut, lebih disebabkan oleh stimulus psikis daripada oleh ambang yang lebih rendah terhadap ledakan konvulsif. Stimulus psiksi tersebut bersumber dari rasa bersalah atas kematian Neneknya. Ia menganggap dirinya sebagai penyebab kematian neneknya. Gara-gara melihat ia bermain naik ke tas kursi dan terjatuh, neneknya mengalami serangan jantung dan harus dirawat beberapa bulan sebelum akhirnya meninggal dunia.

Tidak hanya itu, Erikson juga melihat adanya peran krisis emosional yang terjadi pada keluarga anak laki-laki tersebut, yaitu ibunya. Berapa pun dalamnya stimulus psikis di dalam kehidupan seorang anak laki-laki tiga tahun, identik dengan sebagian besar konflik neurotik ibunya. Terungkap, suatu ketika entah sengaja atau tidak, anak laki-laki tersebut melemparkan sebuah boneka tepat mengenai gigi depan ibunya hingga tanggal. Ibunya memperlihatkan kemarahan begitu besar yang tidak pernah disangka oleh ibunya sendiri maupun dirinya. Toleransinya yang rendah terhadap kekerasan tersebut semakin diperendah oleh konotasi kekerasan dalam keluarganya.

Sumber bacaan : Erik. H. Erikson – Chilhood and Society, Wikipedia, KKBI

Makna Teritori menurut Manusia dan Hewan

Sebelum membahas lebih jauh tentang makna teritori, ada baiknya kita memahami tingkah laku yang berhubungan erat dengan kesadaran teritorial, yaitu agresi. Leonar Berkowitz (1969) membedakan agresi atau tingkah laku individu yang ditujukan untuk menyakiti  (termasuk membunuh) individu lain, ke dalam dua macam agresi. Pertama,  agresi instrumental yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Kedua, agresi impulsif atau agresi benci yang dilakukan sebagai bentuk pelampiasan keinginan untuk menyakiti atau membunuh individu lain. Pemahaman tentang agresi diperjelas oleh Kenneth Moyer (1971) yang merinci agresi ke dalam tujuh tipe, yakni agresi predatori, antar jantan, ketakutan, tersinggung, maternal, instrumental dan agresi pertahanan atau yang juga disebut agresi teritori.

Agresi teritori dapat kita amati dengan mudah pada perilaku kucing dan anjing. Kedua hewan tersebut selalu menetapkan batasan teritorinya melalui sekresi atau air seni. Yang memasuki wilayah kekuasaannya tersebut, terutama jantan, akan dianggap sebagai ancaman atau musuh. Dalam perspektif kehidupan sehari-hari, untuk menciptakan rasa aman dan nyaman, kita juga biasa membuat batasan-batasan fisik seperti pagar rumah atau berkendara di sebelah kiri garis tengah jalan raya, maupun yang bersifat psikologis seperti menjaga jarak duduk ketika berada di tempat umum,  menjaga jarak sosial dengan orang-orang yang berseberangan pandangan politiknya, merasa lebih dekat dengan yang se-keyakinan atau se-daerah asal, dan seterusnya. Dalam skala yang lebih formal, bisa kita saksikan pada penetapan batas suatu negara maupun paham ideologi yang dianut. Sengketa tapal batas, klaim atas suatu wilayah darat maupun laut, termasuk perbedaan ideologi, bisa memicu terjadinya ketegangan bahkan peperangan antar negara.

Makna dari batas teritori yang diwujudkan dalam banyak hal tersebut tidak tergantung pada jarak fisik-psikologis, luas-sempit atau jauh-dekat, melainkan pada derajad pengakuan atas apa yang dianggap sebagai representasi kedaulatan individu atau negara.

Perbedaan esensial dalam merepresentasikan diri lewat batas teritori antara manusia dan hewan terletak pada teritori ideologis atau keyakinan, karena secara kodrati dimensi ini hanya dimiliki oleh manusia. Sedangkan yang selebihnya seperti menjaga batas wilayah, merasa aman dan nyaman dengan kelompok sejenis, termasuk dimensi politis atau memperebutkan daerah kekuasaan, dilakukan oleh manusia maupun hewan.

Sumber Bacaan :                                                                                                                  Shawn C. Shea, MD – Wawancara Psikiatri (Seni Pemahaman),  E. Koeswara – Agresi Manusia

Mengapa Kita Rindu Kampung Halaman (3)

Saat kita mengetahui suatu momen bakal segera berakhir, tidak ada yang lebih ingin kita lakukan selain memberikan perhatian yang besar dan berupaya memaknainya. Demikian pula ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Kita berupaya merefleksikan diri dengan berbagai macam cara. Mulai dari meningkatkan amal ibadah guna semakin mendekatkan diri kepada Al Khaliq sampai ritual sosial yang menguras biaya seperti membeli baju, kue dan mudik lebaran. Apa yang sebenarnya yang sedang berlangsung dibalik proses tumbuhnya rasa beriman yang semakin meningkat maupun sekedar dorongan untuk pulang ke kampung halaman.

Manusia, meskipun mengaku sebagai makhluk yang bebas berkehendak, pada hakekatnya tidak bisa menentukan sendiri segalanya. Selalu ada keterbatasan dan ketetapan yang menjadikannya tidak memiliki pilihan selain tunduk berserah diri. Dalam waktu manusia hanya bisa mengisi, tanpa bisa mengendalikannya. Sejak dilahirkan, secara lembut dan pasti, waktu melahap setiap detik jatah hidup manusia hingga tidak tersisa sama sekali. Itulah maut.

Maut bukanlah sekedar batas akhir sebagaimana garis finish, melainkan pusat gravitasi, tempat segalanya akan ditarik kembali sesuai jatah waktunya. Disadari atau tidak, tanpa kecuali, kekuatan ini ada dan terus bekerja dalam diri manusia, baik dalam keadaan beriman maupun ingkar.

Jika dalam faktanya terdapat manusia yang menyatakan diri memiliki kebebasan, mampu menentukan sendiri hidupnya termasuk memilih menjadi manusia ingkar, maka sesungguhnya mereka hanya mengingkari dorongan hatinya, bukan mengingkari ketundukannya kepada waktu.

Jadi, sepanjang kita masih memiliki rasa rindu kepada kampung halaman, berarti kita sedang ditarik kembali ke asal kita. Kampung halaman kita adalah kepanjangan mata rantai gravitasi ini. Kita sesungguhnya bukan berasal dari kampung halaman, melainkan berasal dari rahim ibu, dan sebelum mendiami rahim kita hanyalah setetes air hina yang tidak mungkin menjadi apa pun tanpa Kehendak dan IzinNya. Hanya  KepadaNya lah kita berasal dan akan kembali, baik dengan taat atau terpaksa.

Selamat Hari Raya Idul Ftri 1 Syawal 1435 H, mohon maaf atas segala kesalahan.

ءندلسى remembrance – tentang perilaku manusia

%d bloggers like this: